Kamis, 4 Juni 2026

opini

Ketika Lalat Ijo Menyerbuki Buah Klengkeng, ke mana Lebah Madu Pergi?

pergi ke mana lebah madu? lihatlah jutaan lalat ijo menyerbu Tulungagung dan mengambil peran dengan menyerbuki buah kelengkeng ...

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
iswahyudi/citizen reporter
Ketika lebah madu pergi dan lalat ijo menyerbuki kelengkeng 

 

Reportase Iswahyudi

 

BULAN-BULAN ini warga Tulungagung, Jawa Timur dikejutkan dengan serbuan ribuan lalat yang mengerumuni pohon klengkeng  di pekarangan rumah mereka.

Fenomena koloni lalat  menyerbuki pohon klengkeng sudah hal biasa di mata warga. Mereka mengatakan, hasil proses penyerbukan oleh lalat ini memang membuat klengkeng berbuah sebagaimana penyerbukan dilakukan oleh lebah madu.

Penulis sempat mengamati langsung fenomena unik ini. Dari jauh terlihat seperti lebah madu yang mengerumuni pohon klengkeng. Namun ada yang janggal, "lebah kok berwarna hijau?"

Setelah diamati lebih detail ternyata ribuan lalat asyik bertengger sambil menghisap nektar bunga klengkeng. Kenapa lalat hijau yang menyerbuki bunga klengkeng? Ke mana koloni lebah pergi?

Penulis teringat pemberitaan di media Eropa beberapa tahun lalu, tentang kiamat serangga. Apakah fenomena hilangnya serangga juga merambah Indonesia? Pencarian informasi di dunia maya tentang penyerbukan pohon klengkeng, ditemukan bahwa lebah madulah yang biasa melakukan peran ini.

Penyerbukan oleh lalat hanya terjadi pada bunga bangkai Raflesia Arnoldi. Lalat dinilai sebagai serangga yang paling tangguh dan bisa hidup dalam berbagai macam kondisi bahkan kondisi yang sangat ekstrem sekalipun.

Fenomena penyerbukan tak biasa ini mengingatkan pada pemberitaan media nasional dan internasional tentang menurunnya populasi lebah di seluruh dunia. Ada kekhawatiran dari banyak ilmuwan dan pegiat lebah (beekeeper) dengan menurunnya populasi lebah ini berpengaruh pada suplai pangan dunia.

Bahkan ada ungkapan ‘no bee, no food! Lebah madu sangat berperan penting pada proses penyerbukan beberapa jenis tanamanan yang dikonsumsi manusia.

Ada banyak penelitian yang mencoba menginvestigasi apa faktor penyebab menurunnya populasi lebah dunia. Dari review beberapa penelitian bisa dipetakan ada beberapa faktor yang menyebabkan colony colaps disorder (CCD) pada lebah.

Antara lain, penggunaan pestisida dan herbisida secara masif, adanya parasit dan hama yang mengganggu koloni lebah seperti tunggal varroa (Varroa Mites), sinyal telepon seluler, polusi, perubahan iklim, dan maraknya tanaman genetically modified organism (GMO).

Dari beberapa faktor penyebab tersebut, penyumbang terbesar CCD adalah penggunaan pestisida dan herbisida secara masif dan maraknya pembudidayaan tanaman GMO.

Penelitian yang dilakukan oleh Herbert et.al yang dipublikasikan pada oktober 2014 di Journal Experimental Biology tentang penggunaan herbisida glyphosate untuk mengontrol tanaman pengganggu menyebabkan koloni lebah mengalami beberapa gejala.

Yaitu, pertama, penurunan kepekaan pada gula (sucrose sensitivity) pada lebah sehingga menyebabkan kesulitan mendeteksi nektar bunga sebagai makanan untuk membuat madu. Terpapar glyposhate, lebah mengalami disorientasi untuk mendeteksi sumber makanan mereka, nektar bunga.

Kedua, koloni lebah yang terpapar zat ini mengalami penurunan dalam learning behavior mereka.

Ketiga, menurunnya daya ingat jangka pendek lebah yang bisa menyebabkan lebah kebingungan menemukan sarangnya sendiri. Keempat, bekas-bekas zat glyphosate yang mengenai tubuh lebah tidak akan membuat lebah mati seketika tapi akan memapar larva dan ratu lebah ketika mereka kembali ke sarang yang menyebabkan kinerja koloni lebah menurun atau bahkan pelan tapi pasti memusnahkan mereka.

Beberapa zat kimia yang ikut andil pada menurunnya koloni lebah selain glyphosate antara lain DDT, Nioticotinoids, Dow's 2, 4-D, dan mosantos roundup. Penggunaan zat kimia secara masif ini bukan hanya mematikan serangga yang bermanfaat bagi produksi pangan tapi merugikan ekosistem yang lebih luas termasuk manusia.

Fenomena penggunaan zat kimia secara masif ini pada dasarnya didasari pada filosofi bahwa alam semesta sebagai musuh, bukan sebagai teman yang saling bersimbiosis satu sama lain.

Dilemma Tanaman GMO

Semakin hari populasi dunia semakin meningkat. PBB  memprediksi bahwa pada tahun 2050 populasi dunia akan menyentuh 9,8 miliar orang. Dengan populasi sebesar ini manusia dihadapkan pada ketersediaan pangan. Mampukah bumi menghidupi 9,8 miliar orang setiap harinya?

Para ilmuwan dan stakeholder yang peduli dengan masalah ini mencoba mencari cara untuk memenuhi demand pangan dunia. Salah satunya adalah dengan pembudiyaan secara masif tanaman GMO.

Tanaman hasil rekayasa genetika memang menjanjikan panen yang melimpah yang bisa menutupi krisis pangan dunia. Namun beberapa hasil penelitian, tanaman GMO mempunyai dampak kesehatan bagi manusia dan anggota ekosistem seperti koloni lebah.

Tanaman GMO biasanya dihasilkan suatu proses rekayasa genetika yang membuat tanaman menjadi kebal terhadap serangan hama dan memproduksi hasil panen yang melimpah. Pembudidayaan tanaman GMO secara masif biasanya mensyaratkan penggunaan pestisida atau herbisida tertentu agar panen bisa maksimal.

Selain itu secara sifatnya serbuk sari tanaman GMO semisal jagung menghasilkan suatu zat Bt insecticide yang bisa berbahaya bagi lebah madu bila dipadukan dengan stess factor lain semacam racun alami atau racun dari zat kimia tertentu, semisal pestisida atau herbisida.

Akibat jangka panjangnya adalah pada semakin menurunnya koloni lebah. Padahal menurut laporan institusi program pangan PBB  70 persen dari  100 tanaman penyedia pangan bagi manusia diserbuki oleh lebah.

Isu yang berkembang  di berbagai media bahwa kontribusi GMO pada menurunnya populasi lebah nampak sekali pro kontra. Sering ada bentuk pengalihan isu atau pembentukan mispersepsi yang disinyalir disponsori oleh klonglomerasi produsen GMO.

Upaya ini terbaca oleh Researchglobal.ca yang mengkritisi beberapa penelitian yang menemukan bahwa penyebab menurunnya populasi lebah seperti merebaknya tunggal varroa, parasit, dan sinyal telepon seluler, adalah bentuk kambing hitam yang ingin menutupi siapa sebenarnya pembunuh dari koloni lebah.

Reseachglobal.ca dalam sebuah artikel yang berjudul Death of Bees, Genetically Modified Crops and Decline of Bee Colonies in North Amarica yang ditulis oleh Brit Amos, 9 Agustus 2011 mengklaim bahwa penyebab terbesar dari menurunnya populasi lebah adalah GMO dan aplikasi pestisida-herbisidanya.

Perang persepsi dan isu akan terus bergulir di media, antara membela kepentingan raksasa konglomerasi GMO dan kepedulian pada keseimbangan ekosistem dunia dan masa depan umat manusia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved