Kamis, 28 Mei 2026

Liputan Khusus

Adopsi Anak Tak Boleh Main-main, Apalagi Hanya untuk Pancingan Momongan

Pasangan yang ingin mengadopsi bayi tidak memiliki niatan lain, selain merawat anak secara sungguh-sunguh, penuh kasih sayang dan ikhlas.

Tayang:
pixabay
Ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Panti asuhan sejatinya menjadi pilihan terakhir bagi bayi-bayi telantar.

Orang tua yang tidak sanggup merawat buah hatinya dengan alasan apapun, seharusnya menyerahkannya ke keluarga terdekat dahulu.

Jika itu tak memungkinkan, penyerahan bayi kepada orang di luar keluarga bisa menjadi opsi terakhir.

Kepala 1 Divisi Advokasi Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, Priyono Adi Nugroho menyatakan, seorang anak harus hidup di tengah keluarga. Terlebih untuk bayi di bawah lima tahun (balita).

Orang tua diharapkan sadar akan hal tersebut, sehingga tak terjadi kasus pembuangan bayi. Apapun penyebabnya.

“Kalau tidak mau mengasuh, ya (diserahkan) ke saudaranya. Bisa saudara ibu atau saudara ayah dari anak itu. Urutan pertamanya seharusnya begitu,” kata Priyono.

UPT Pelayanan Sosial Asuhan Balita (PSAB) Sidoarjo milik Dinas Sosial Jatim sebenarnya hanya untuk menampung sementara para balita yang dibuang atau ditelantarkan orang tuanya.

Karenanya, orang yang ingin mengadopsi anak, dipersilakan lewat PSAB. Tentu, dengan memenuhi berbagai persyaratan yang ada.

Priyono menekankan, anak atau bayi membutuhkan orang tua atau orang yang mengasuhnya.

Maka ia mengingatkan agar para pasangan suami-istri yang ingin mengadopsi bayi tidak memiliki niatan lain, selain ingin merawat anak secara sungguh-sunguh, penuh kasih sayang dan ikhlas.

Misalnya, niat mengadopsi agar rumah tidak sepi, menganggap kehadiran anak sebagai hiburan, atau pancingan agar pasangan yang belum mempunyai momongan.

“Anak butuh orang tua untuk hidup memenuhi hak-haknya. Kerena itu, orang tua yang mengadopsi harus paham itu,” tambahnya.

Ia juga mengimbau kepada pasangan yang berniat mengasuh anak agar tidak sekadar mengutamakan ganteng-cantiknya calon bayi yang akan diadopsi.

“Meski memang pada akhirnya banyak kok dari mereka itu ada suatu chemistry. Jadi (calon orang tua asuh) nggak mau (bayi) yang lain. Dan itu kadang mirip sekali (wajahnya). Tapi kadang-kadang juga enggak,” kisah pria yang juga anggota Pertimbangan Perizinan Pengangkatan Anak (PIPA) itu.

Pemahaman itu, menurutnya, penting agar orang tua asuh tidak mengabaikan anak ketika tumbuh dewasa.
Tak menutup kemungkinan, saat anak asuh mulai tumbuh di usia sekolah, mereka akan berperilaku tak lucu seperti saat masih balita.

Sumber: Surya Cetak
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved