Travel
Nikmati Matahari Terbit di Gunung Budheg Tulungagung, Serasa Berada di Hamparan Awan
Dengan waktu tempuh satu jam, puncak Gunung Budheg sering dijadikan tempat melihat matahari terbit.
Penulis: David Yohanes | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Tahun 2000 dan sebelumnya, Gunung Budheg di Dusun Kendit, Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat dikenal gunung yang gundul dan gersang.
Bahkan gunung ini menjadi sumber bencana bagi petani, yang sawahnya berada di sisi barat gunung ini.
Setiap kali musim hujan, air mengalir deras ke area persawahan.
Lantaran pepohonan penahan air yang minim, banyak material langsung masuk ke sawah. Tanaman padi milik warga akhirnya gagal panen.
Melihat kondisi tersebut, Agus Utomo (40) trenyuh dan berupaya mengubah keadaan.
Tahun 2003, tenaga medis di RS Bhayangkara Tulungagung ini mulai giat menanam pepohonan di Gunung Budheg.
Dengan giat tanpa mengenal lelah, upaya ini dilakukan sampai 2010.
“Pokoknya mikirnya terus menanam pohon, tidak tahu nantinya jadi apa,” ucap Agus.
Saat itu belum ada konversi minyak tanah ke gas. Warga di sekitar Gunung Budheg banyak yang memasak menggunakan kayu bakar.
Mereka kerap memotong pohon yang ditanam Agus. Namun perlahan Agus melakukan pendekatan.
Puncaknya saat pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke gas tahun 2007, upaya Agus mulai membuahkan hasil.
Warga mulai meninggalkan kayu bakar, dan beralih ke gas. Pohon-pohon yang ditanam Agus mulai tumbuh dan membesar.
Perlahan Gunung Budheg yang gersang mulai menghujau penuh pepohonan.
“Dampak yang paling kentara sawah di sisi barat tidak lagi kebanjiran. Dulu harga sewan satu per empat hektar hanya Rp 750.000, sekarang bisa mencapai Rp 3.000.000 lebih,” ungkap Agus.
Musuh lainnya adalah para pembakar rumput. Di saat musim kemarau, ada orang yang sengaja membakar rumput dengan alasan agar tumbuh rumput baru yang lebih bagus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/gunung-budheg-tulungagung_20170902_091902.jpg)