Berita Banyuwangi
Jiwa Kesat Program Memanusiakan Penderita Gangguan Jiwa di Banyuwangi
Mereka dilatih ketrampilan kerajianan tangan seperti membuat miniatur kapal layar, lampu, gantungan kunci, hingga tas belanja.
Penulis: Haorrahman | Editor: Titis Jati Permata
Eko mengatakan, keluarga dan masyarakat sering memperparah keadaan. Terkesan ODGJ adalah orang menakutkan, tidak bisa lagi bekerja. Mainset itu harus diubah.
”Bahkan banyak kasus perceraian, akibat pasangan tidak mau menerima lagi karena sebagai beban dan tidak bisa bertanggung jawab. Mayoritas ini dialami ODGJ yang pria,” kata Eko.
Eko menjelaskan, beberapa hal yang mempengaruhi kesembuhan dan kekambuhan pasien di antaranya, kurangnya keaktifan keluarga, lamanya penyakit, kurangnya kegiatan keluarga, diskriminasi, dan pengobatan. Sehingga apabila kambuh, jalan pintasnya adalah pasung. Padahal menurut Eko, itu adalah langkah yang salah.
Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui, bahwa pasien ODGJ dijamin oleh Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), yang dikelola oleh BPJS. Mereka masih menganggap biaya untuk pengobatan ODGJ mahal. Padahal menurut Eko, semuanya bisa ditangani oleh JKN-KIS. Termasuk di Poli Kesat.
”Banyak pasien kami yang dirujuk ke RSJ Lawang (Malang) atau Menur (Surabaya) menggunakan JKN-KIS,” kata Eko.
Setelah itu, untuk perawatan lanjutan dirawat di Poli Kesat, agar pasien memiliki kepercayaan diri dan bisa kembali bekerja.
Menurut Eko, melalui program ini, Puskemas Giri terus mengembangkan inovasi dan terus mengevaluasi hasil keterampilan pasien dan bekerjasama dengan keluarga asuh, UMKM, dan CSR perusahaan. Diharapkan mereka bisa memperbadayakan pasien dan menampung atau menyediakan bahan yang lebih bernilai ekonomi.
”Ada pasien kami yang akhirnya bekerja di UMKM, setelah melalui serangkaian terapi di sini,” tambah Eko.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pasien dengan gangguan jiwa (ODGJ) membutuhkan penanganan yang komprehensif. Sebab, selain membutuhkan pertolongan secara medis, pasien tersebut juga menghadapi tantangan sosial di masyarakat yang harus dihadapi.
“Justru dampak sosialnya cukup serius seperti penolakan, pengucilan dan diskriminasi dari masyarakat. Maka diperlukan langkah selanjutnya bagi mereka setelah menjalani serangkaian pengobatan agar mereka bisa minimal mandiri dan diterima di tengah masyarakat lagi. Salah satunya adalah membekali ketrampilan, sekaligus ini untuk terapi kesembuhan,” kata Anas.
Saat ini ada 14 ODGJ yang telah dilatih ketrampilan di Poli Kesat. Mereka dilatih ketrampilan kerajianan tangan seperti membuat miniatur kapal layar, lampu, gantungan kunci, hingga tas belanja.
Selain dilatih, lanjut Anas, Dinas Kesehatan Banyuwangi juga membuat program keluarga asuh buat mereka. Yakni mencari keluarga yang mau menerima ODGJ yang sebelumnya tidak punya keluarga dan sudah pulih,
“Kami juga ada program Usaha Asuh, di mana pengusaha di sekitar wilayah puskesmas diajak bekerjasama untuk menampung ODGJ yang sudah pulih untuk bisa bekerja di tempak mereka. Misalnya saja di tempat usaha penggilingan beras dan yang lainnya,” jelas Anas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-banyuwangi2_20170407_160727.jpg)