Berita Banyuwangi
Jiwa Kesat Program Memanusiakan Penderita Gangguan Jiwa di Banyuwangi
Mereka dilatih ketrampilan kerajianan tangan seperti membuat miniatur kapal layar, lampu, gantungan kunci, hingga tas belanja.
Penulis: Haorrahman | Editor: Titis Jati Permata
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) biasanya akan sulit diterima masyarakat, bahkan keluarga besarnya. Setelah sembuh pun biasanya mereka akan menjadi beban keluarga, karena sulit untuk mendapat pekerjaan. Bila kambuh, solusi putus asa pun dilakukan. Pasung! Padahal ada jaminan pelayanan jiwa yang dikelola BPJS Kesehatan, dan telah diatur dalam Undang Undang Nomor 18 Tahun 2014.
SURYA.co.id | BANYUWANGI -Ahmad Husen sejak berusia 13 tahun berstatus yatim piatu. Sebatang kara, Lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI), warga Dusun Rogojampi Utara, Desa/Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi itu, ikut kerabatnya ke Bali. Sejak itulah, orang yang mengenal Husen di Banyuwangi, tak tahu bagaimana kabarnya.
Sekitar 10 tahun Husen berada di Bali. Belakangan, tetangga di Banyuwangi melihat Husen yang kini berusia 23 tahun berkeliaran di pasar, Bali. Coba dihampiri, Husen kabur.
Ternyata Husen mengalami gangguan jiwa, dan berkeliaran di pasar. Teman almarhum orangtua Husen, Slamet Rahmat, mengetahui kabar itu. Maret lalu, Rahmat dan teman-temannya berhasil membawa Husen pulang ke Banyuwangi.
Entah bagaimana ceritanya, Husen mengalami gangguan jiwa. Namun Rahmat tidak peduli dengan latar belakang Husen. Terpenting, Husen telah ditemukan.
”Saya kenal dengan almarhum ayah Husen. Dulu dia tetangga saya. Sekarang Husen tinggal bersama saya,” kata Rahmat.
Selama tinggal bersama Rahmat, Husen mendapat perawatan dan terapi di Poli Kembali Sehat (Poli Kesat), di Puskesmas Gitik, Kecamatan Rogojampi. Sekitar dua minggu, Husen mendapat perawatan di Poli Kesat secara gratis.
Selain mendapat perawatan pemberian obat, Husen juga mendapat terapi. Seperti yang terlihat pada, Jumat (7/4/2017).
Husen dilatih untuk membuat kerajinan dari anyaman bambu. Sesekali Husen bersama 11 pasien lainnya di Poli Kesat, diajak bernyanyi.
”Di sini Husen merasa senang, karena banyak temannya. Dia bisa berlatih membuat kerajinan. Di rumah dia juga bisa membantu saya membuat gantungan kunci,” kata Rahmat, yang punya home industri kerajinan gantungan kunci.
Selama menjalani perawatan, Rahmat terus berupaya berkomunikasi dengan Husen. Mulai dari sekadar mengingatkan untuk minum obat, dan perbincangan lainnya.
Husen juga membantu membersihkan musala yang terletak berdampingan dengan rumah Rahmat. Bahkan Husen sering diminta untuk mengumandangkan adzan di musala. Yang terpenting, Husen ada kegiatan.
Program Jiwa Kesat (Kembali Sehat), merupakan layanan kesehatan jiwa yang bertujuan untuk mengembalikan agar pasien gangguan jiwa, bisa segera sembuh dan diterima masyarakat bahkan bisa kembali produktif dan bekerja.
Program ini dilaunching bertepatan dengan Hari Kesehatan Dunia, yang kebetulan mengambil tema Kesehatan Jiwa. Puskesmas ini menyelenggarakan terapi kerja bagi ODGJ.
Eko Budi Cahyono, Penanggung Jawab Poli Kesat Puskesmas Gitik mengatakan, selain gangguan jiwa, Poli Kesat juga bisa menangani mereka yang terjangkit penyalahgunaan zat atau obat-obatan dan telah mengalami gangguan kejiwaan.
Eko mengatakan, keluarga dan masyarakat sering memperparah keadaan. Terkesan ODGJ adalah orang menakutkan, tidak bisa lagi bekerja. Mainset itu harus diubah.
”Bahkan banyak kasus perceraian, akibat pasangan tidak mau menerima lagi karena sebagai beban dan tidak bisa bertanggung jawab. Mayoritas ini dialami ODGJ yang pria,” kata Eko.
Eko menjelaskan, beberapa hal yang mempengaruhi kesembuhan dan kekambuhan pasien di antaranya, kurangnya keaktifan keluarga, lamanya penyakit, kurangnya kegiatan keluarga, diskriminasi, dan pengobatan. Sehingga apabila kambuh, jalan pintasnya adalah pasung. Padahal menurut Eko, itu adalah langkah yang salah.
Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui, bahwa pasien ODGJ dijamin oleh Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), yang dikelola oleh BPJS. Mereka masih menganggap biaya untuk pengobatan ODGJ mahal. Padahal menurut Eko, semuanya bisa ditangani oleh JKN-KIS. Termasuk di Poli Kesat.
”Banyak pasien kami yang dirujuk ke RSJ Lawang (Malang) atau Menur (Surabaya) menggunakan JKN-KIS,” kata Eko.
Setelah itu, untuk perawatan lanjutan dirawat di Poli Kesat, agar pasien memiliki kepercayaan diri dan bisa kembali bekerja.
Menurut Eko, melalui program ini, Puskemas Giri terus mengembangkan inovasi dan terus mengevaluasi hasil keterampilan pasien dan bekerjasama dengan keluarga asuh, UMKM, dan CSR perusahaan. Diharapkan mereka bisa memperbadayakan pasien dan menampung atau menyediakan bahan yang lebih bernilai ekonomi.
”Ada pasien kami yang akhirnya bekerja di UMKM, setelah melalui serangkaian terapi di sini,” tambah Eko.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pasien dengan gangguan jiwa (ODGJ) membutuhkan penanganan yang komprehensif. Sebab, selain membutuhkan pertolongan secara medis, pasien tersebut juga menghadapi tantangan sosial di masyarakat yang harus dihadapi.
“Justru dampak sosialnya cukup serius seperti penolakan, pengucilan dan diskriminasi dari masyarakat. Maka diperlukan langkah selanjutnya bagi mereka setelah menjalani serangkaian pengobatan agar mereka bisa minimal mandiri dan diterima di tengah masyarakat lagi. Salah satunya adalah membekali ketrampilan, sekaligus ini untuk terapi kesembuhan,” kata Anas.
Saat ini ada 14 ODGJ yang telah dilatih ketrampilan di Poli Kesat. Mereka dilatih ketrampilan kerajianan tangan seperti membuat miniatur kapal layar, lampu, gantungan kunci, hingga tas belanja.
Selain dilatih, lanjut Anas, Dinas Kesehatan Banyuwangi juga membuat program keluarga asuh buat mereka. Yakni mencari keluarga yang mau menerima ODGJ yang sebelumnya tidak punya keluarga dan sudah pulih,
“Kami juga ada program Usaha Asuh, di mana pengusaha di sekitar wilayah puskesmas diajak bekerjasama untuk menampung ODGJ yang sudah pulih untuk bisa bekerja di tempak mereka. Misalnya saja di tempat usaha penggilingan beras dan yang lainnya,” jelas Anas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-banyuwangi2_20170407_160727.jpg)