Breaking News:

Citizen Reporter

Jika Guru Tersandera Lembar Kerja Siswa …

idealnya guru itu memang digugu dan ditiru, meski itu tidak cukup.. guru juga harus kreatif .. ini dia alasannya ..

pixabay
ilustrasi 

Reportase Suci Ayu Latifah
Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo

 

GURU harus kreatif dan inovatif saat melakukan proses belajar mengajar, ujar Cutiana Windri Astuti, dosen STKIP PGRI Ponorogo kepada mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) angkatan 2015, Jumat (6/1/2017).

Cutiana menambahkan, guru tidak boleh terkukung Lembar Kerja Siswa (LKS) yang bisa jadi memupus kreativitas guru dan siswa. Lulusan sarjana pendidikan, sebagai calon guru harus memiliki jiwa kreatif dan terampil.

“Guru yang baik tidak mengandalkan kunci jawaban,” putusnya di tengah kegembiraan mahasiswa PBSI 2015 yang merayakan keberhasilan cipta buku teks.

Buku teks adalah buku pedoman pembelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum sebagai penunjang proses pembelajaan.

Dosen pengampu mata kuliah Telaah Kurikulum dan Buku Teks ini menyampaikan, tujuan cipta buku teks, agar mahasiswa lebih memahami dalam menelaah seluk-beluk buku teks dengan mencocokkan berdasarkan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, dan materi yang akan dibahas.

Tugas cipta buku teks ini, mendapat dukungan penuh Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Kasnadi yang menyetujui cipta buku teks guna memupuk kreativitas mahasiswa.

Hal ini juga dirasakan Sri Wahyuni, mahasiswa PBSI 2015. “Berkat tugas cipta buku teks ini, saya menjadi yakin dengan cita-cita menjadi guru, sebab bergaul dengan buku teks sangat menyenangkan. Guru dan siswa menjadi lebih kreatif,” ujarnya.

Cutiana pun menyampaikan kebanggaannya kepada mahasiswa. Tuturnya, mahasiswa cukup variatif, memiliki semangat, dan tidak mengeluh dalam proses penyusunan buku teks. Meskipun, saat presentasi pracetak, ada kelompok yang belum siap dengan konsep sangat sederhana. Akhirnya, mereka mampu menyelesaikan tugas tersebut dengan baik.

“Mahasiswa sudah berusaha melakukan kewajibannya dengan baik. Meski masih ada yang kurang teliti dalam pengetikan, misal tanda baca, ejaan, materi, evaluasi, dan lainnya,” ujar Cutiana.

Di akhir pertemuan, Cutiana berharap, semoga kelak ketika menjadi guru, mereka menjadi guru yang kreatif, terampil, dan inovatif. Pasalnya, guru merupakan jembatan bagi masa depan anak didik. Untuk itu, guru sebagai fasilitator pembelajaran harus mampu menempatan diri dengan benar.

“Bukankah guru itu digugu lan ditiru,” pungkas Cutiana.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved