Berita Bangkalan Madura
Taman Pendidikan Mangrove di Bangkalan Makin Ramai Pengunjung
#BANGKALAN - Pesisir Dusun/Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Pulau Madura yang awalnya gersang, kini mulai ramai pengunjung.
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Yuli
SURYA.co.id | BANGKALAN - Pesisir Dusun/Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura yang awalnya gersang, kini mulai ramai pengunjung.
Mahasiswa dari berbagai kampus bergantian datang berkemah untuk meneliti aneka jenis mangrove, cemara, hingga ragam burung migran di Taman Pendidikan Mangrove.
Lokasi yang kini menjadi kawasan konservasi di bawah pengawasan Badan Pengelola Hutan Mangrorve (BPHM) Wilayah I Bali itu, juga ramai dikunjungi siswa SD, SMP, dan SMA.
Taman pendidikan hasil binaan Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) itu memiliki luas sekitar delapan hektare.
Terbagi atas taman mangrove, cemara, budidaya pepaya california, budidaya kambing etawa, budidaya kepiting soka, lahan pembibitan mangrove dan cemara, saung, hingga camping ground. Pengunjung hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam dari Kota Bangkalan.
Penjelajahan ke sudut - sudut taman akan dipandu oleh warga setempat yang tergabung dalam Kelompok Tani Cemara Sejahtera.
Seperti halnya kunjungan 110 peserta Green Camping Forum Adiwiyata Kabupaten Bangkalan, Sabtu (19/11/2016) dalam rangka Koordinasi dan Pemantapan Rencana Kerja Forum Adiwiyata.
Mereka terdiri dari para guru dan puluhan siswa dari tujuh Sekolah Adiwiyata tingkat SD-SMA di Bangkalan, SDN Kraton 3, SDN Gebang, SMPN 5, SMAN 1 Kamal, SMAN 3, SMAN 4, dan SMKN 1.
Para siswa menggelar tenda di dekat saung dan kamar mandi yang sengaja dijadikan kawasan ground camping.
Kepala Sekolah SMPN 5 Bangkalan Saolehuddin mengungkapkan, keputusan memilih taman itu tak lepas dari upaya mengenalkan aneka jenis dan manfaat mangrove kepada para siswa. Dengan harapan, menumbuhkan kepedulian anak terhadap lingkungan.
"Selain bisa belajar dengan melihat langsung aneka jenis mangrove, siswa juga bertamasya keliling taman mangrove. Saya dengar juga sudah banyak siswa dari kabupaten lain yang datang," ungkap Solehuddin.
Selain belajar dan bertamasya, siswa juga melakukan penanaman cemara di lokasi ground camping. Penanaman itu kelak akan menambah taman mangrove semakin hijau.
"Sudah bagus, daun mangrove nampak hijau. Tapi perlu dibenahi sedikit, yakni akses menuju lokasi ini terlalu sempit. Bus tidak mungkin masuk, mobil berpapasan tidak bisa," pungkasnya.
Hal senada diungkapkan Kepala Bidang Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bangkalan Kusno Suhardi yang dijumpai di lokasi. Menurutnya, permasalahn sempitnya akses menuju Taman Pendidikan Mangrove bisa dipikirkan bersama Pemkab Bangkalan.
"Karena memang jalan perkampungan. Tapi lokasi ini bisa menjadi objek wisata baru yang bisa dikembangkan oleh pemkab. Jadi sudah perlu lagi ke Pacet, di sini sudah terpenuhi. Apalagi bisa sebagai penelitian burung migran," singkatnya.
Dalam kesempatan yang sama, mantan Rektor Universitas Diponegoro sekaligus pemerhati lingkungan, Prof Sudharto P Hadi hadir melihat langsung Taman Pendidikan Mangrove. Ia hadir bersama Dirut PHE, R Gunung Sardjono dan General Manager PHE WMO, Sri Budiyani.
"Sudah bagus, oksigennya juga bagus. Tapi harus lebih digalakkan lagi keberadaan taman ini. Biar masyarakat luas mengetahui kalau di sini ada taman pendidikan mangrove," ujar penyandang gelar doktor di School of Community and Regional Planning University of British Columbia itu.
Dengan begitu, lanjutnya, pengunjung yang datang bisa terinspirasi dengan keberadaan taman ini. Sehingga, akan bermunculan taman - taman pendidikan baru di Madura atau pun di daerah lainnya.
Pesona taman pendidikan itu, tak hanya terletak pada rimbunan pohon mangrove dan ground campingnya. Namun, para pengunjung bisa menyusuri hutan mangrove melalui jembatan kayu yang membelah pohob - pohon bakau itu. Para pengunjung bisa juga berlayar menggunakan kano atau pun perahu ke setiap pohon mangrove.
Di muara jembatan kayu sepanjang 400 meter itu, dipasang menara setinggi sekitar 10 meter. Tower yang baru saja rampung itu berfungsi untuk memantau aktifitas burung migran yang singgah mencari makan dan berkembang biak.
Peneliti Burung Independen, Iwan Londo yang tengah melakukan kegiatan Bird Bending (penandaan burung) mengemukakan, keberadaan hutan mangrove itu membuat ratusan bahkan ribuan burung migran dari Alaska dan Siberia dengan tujuan Australia singgah.
"Burung - burung itu pergi dari Alaska untuk mencari suhu yang lebih hangat. Karena itu, tempat ini sangat layak menjadi tempat persinggahan. Sejak sekitar tahun 2014," jelasnya.
Adapun jenis burung migran yang singgah di Taman Pendidikan Mangrove yakni burung Gajahan Pengala (Whimbrel Numenius/Phaeopus), Cerek (Plover, Charadrius SP), dan Trinil Kaki Merah (Common Redshank/Tringa Totanus).
Selain itu, burung pantai seperti Trinil Pantai (Common Sandpiper/Actytis Hypoleucos), burung air seperti Cangak Merah (Purple Heron/Ardea Purpurea) dan Kuntul Kecil (Litle Egret/Egretta Garzetta).
Sementara itu, Sekretaris Kelompok Tani Cemara Sejahtera, Syahril menjelaskan, pembangunan tower tersebut juga difungsikan sebagai tempat memantau dan mengantisipasi kegiatan penembakan burung secara liar.
"Sebelum taman ini, lokasi ini sangat akrab dengan para penembak burung. Namun sekarang sudah tidak ada karena mereka sudah sadar akan keberadaan taman ini," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-madura-labuhan-kecamatan-sepulu-kabupaten-bangkalan_20161119_194748.jpg)