Berita Pamekasan Madura

Pawai Budaya Batik HUT Pamekasan, Bius Ribuan Warga

bagaimana tahun depan acara ini lebih menarik dan meriah lagi,” ujar Syafii kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Pawai Budaya Batik HUT Pamekasan, Bius Ribuan Warga
surya/didik mashudi
Ilustrasi 

SURYA.co.id | PAMEKASAN – Pawai Budaya Batik Pamekasan yang melibatkan 3.000 warga dengan mengenakan busa batik yang digelar untuk memeriahkan Hari Jadi Pamekasan ke-486 di Pamekasan, Madura, membius ribuan pengunjung, Sabtu (29/10/2016).

Selama pawai berlangsung, sejak pukul 08.00 hingga pukul 12.00.WIB, ribuan masyarakat Pamekasan, tua muda, hingga anak-anak, pria dan wanita rela berdiri di sepanjang jalan sejauh 1,5 km, mulai dari depan Pendopo Ronggosukowati, hingga kawasan Sdangdang, tidak bergeming.

Pawai budaya ini dibuka Bupati Pamekasan, Achmad Syafii, dihadiri Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, H Lulung Lunggana dan rombongan, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Pamekasan.

Pesertanya, dari tingkat SMP, SMA, satuan kerja perangkat daerah (SKPD), pebankan dan komunitas.

Meski cuaca terik matahari, namun pengunjung tidak mempedulikan.

Mereka seperti tak ingin melepaskan pandangannya, terhadap setiap peserta pawai budaya yang mengenakan busana nuansa batik beraneka ragam dan corak yang lewat di depannya.

Selain dandanan peserta menarik, juga unik membuat pengunjung terkagum-kagum.

Bupai Achmad Syafii, yang duduk dikursi menyaksikan pawai budaya ini beberapa kali berdiri sambil bertepuk tangan, memberikan aplaus terhadap peserta, yang penampilannya memesona.

Sementara perserta pawai pun terlihat tersenyum, saat bupati memberikan aplaus.

Begitu juga pengunjung bersorak gembira, seakan terpana dengan penampilan peserta.

Para peserta pawai ini, bukan hanya sekadar menampilkan gelamornya pakaian yang mereka kenanakan. Tapi berbagai kreasi dan kombinasi yang disesuaikan serta polesan wajah yang bersih.

Apalagi mereka terutama peserta wanita, selalu melempar senyum ke hadapan penonton, sambil berjalan berlenggak-lenggok, bak peragawati yang berjalan di atas panggung.

Selain itu, peserta ada yang mengendarai kereta kencana, menyuguhkan berbagai tarian tradisional Pamekasan, seperti tari Muang Sangkal, Topeng Gettak, Can-macanan, tarian Sape Sono’. Tari Slompret, dengan iringan musik seronen, tari Ngantar Pengantin dan komunitas desainer batik Pamekasan.

Penampilan tari Ngantar Pengantin ini mendapat banyak tepukan riuh penonton.

Pasangan pengantin pria dan wanita menunggang kuda yang diapit pengawal dan di belakangnya terdengar alunan musik tradisional.

Sementara kedua ekor kuda itu, kepalanya berlenggak-lenggok ke kanan dan ke kiri.

Sejumlah penonton mengaku sejak Pamekasan menggelar pawai budaya, baru kali ini yang betul-betul meriah dan menarik.

Walau tema busana batik, namun pakaian yang dikenakan dihiasi dengan aneka kombinasi warna dan dandan fantastis. Nuansa batik melekat dan tetap memancarkan keanggunan.

“Kami menilai pawai kali ini yang membuat penonton terpesona. Dari awal hingga akhir, rasanya kami tak ingin melewatkan kesempatan yang hanya dipagelarkan dua kali dalam setahun. Karena yang ditampilkan tak hanya karnaval, tapi juga tari-tarian yang sudah lama kami tidak saksikan,” kata Yolanda, warga Kelurahan Patemon, Pamekasan.

Bupati Pamekasan, Achmad Syafii mengatakan, jika pelaksanaan pawai budaya kali ini lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Baik dari penampilan maupun busana yang mereka kenakan, juga ragam dan seni budanya.

“Pawai budaya kali ini kami acungi jempol cukup bagus. Dan setelah ini kami akan mengumpulkan panitia dan SKPD untuk rapat bersama, bagaimana tahun depan acara ini lebih menarik dan meriah lagi,” ujar Syafii kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Dikatakan, Pawai Budaya Batik Pamekasan, sengaja diangkat sebagai ikon, karena potensi ekonomi berbasis budaya ini telah menjadi indentitas dan jati diri masyarakat Pamekasan.

Batik tulis Pamekasan tidak hanya dikenal dalam skala nasional, tapi telah dikenal dunia internasional, bahkan telah menjadi simbol perdamaian dunia.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, melalui program beasiswa seni budaya untuk pemuda dari berbagai negara, memfasilitasinya untuk belajar seni budaya daerah, termasuk Batik Pamekasan.

Dalam waktu yang singkat, mereka mengtenal dan belajar membatik di sebuah sanggar batik di Pamekasan.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Penulis: Muchsin
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved