Berita Malang Raya
VIDEO - Mendikbud dan Gubernur Jatim Sepakat Memalsukan Kisah Sejarah
Mereka bermufakat, tidak jadi soal mengisahkan, misalnya, Untung Surapati dari Pasuruan tidak takluk pada Belanda meskipun faktanya dia k
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Yuli
Kehadiran tokoh Tumenggung Malang ini menjadi gojlokan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, yang berperan menjadi Pandhita Lohgawe, penasehat Kerajaan Singasari.
'Ini kok ada Tumenggung Malang, diada-adakan. Seharusnya saya jadi Lohgawe, tetapi saya tidak mau didandani, biar tidak dipanggil Pandhita Lohgawe. Nanti kan tidak ada gubernurnya kalau saya didandani itu. Jadi saya pakai pakaian khas Jawa Timur saja, sehingga tetap dipanggil gubernur," ujar Soekarwo dalam pidatonya sambil terkekeh. Tak pelak, pernyataan Pakde Karwo memantik tawa pengunjung.
Adipati Tunggul Ametung diperankan oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, sedangkan Ken Dedes diperankan seorang penari. Teguh Kenthus berperan sebagai Ken Arok.
Mendikbud Muhadjir Effendy menjadi dewa pelindung sekaligus maha guru, Batara Brahma.
Ketoprak dimulai dengan tari-tarian dan kisah masa kecil Ken Arok bersama kedua orang tuanya, Ki Samparan dan Nyai Samparan. Cerita berlanjut hingga Ken Arok dewasa dan menjadi jagoan.
Ketika dewasa, Ken Arok mengabdi kepada Tunggul Ametung. Namun dalam cerita itu, Ken Arok tidak membunuh Tunggul Ametung. Dia mengabdi, bahkan menyiapkan sebuah gawe besar yang disebut Pekan Budaya Indonesia.
Ken Dedes hadir untuk menjemput Tunggul Ametung berpidato di hadapan peserta pembukaan Pekan Budaya Indonesia itu.
"Saya memang disuruh pidato," ujar Hilmar yang memakai kostum berwarna biru. Kostum yang dipakai Hilmar senada dengan kostum Bupati Rendra Kresna dan Wali Kota Anton.
Hilmar dalam pidatonya mengatakan tema Pekan Budaya Indonesia 2016 adalah 'Dari Pinggiran Merajut dan Memajukan Kebudayan Indonesia'.
"Bagaimana acara ini memberi ruang selebar-lebarnya kepada pelaku seni tradisi dan budaya di Indonesia, yang selama ini masih terpinggirkan. Karena jika seni tradisi dan kebudayaan diberi ruang seluas-luasnya maka akan hidup di tengah masyarakat," tegas Hilmar.
Usai Hilmar berpidato, giliran Gubernur Soekarwo, dan terakhir Mendikbud Muhadjir. Muhadjir juga melontarkan guyonan kepada hadirin.
"Sak umur-umur, baru saiki aku dipacaki kayak ngene. Dadi Batara Brahma ethok-ethokan, untung gak dipacaki Batara Kala," kata Muhadjir dalam Bahasa Jawa membuka pidatonya.
Maksudnya, "Seumur-umur baru sekarang saya didandani seperti ini. Pura-pura jadi Batara Brahma, untung tidak didandani Batara Kala."
Dia menggojlok Pakde Karwo yang menurutnya pintar berkilah.
"Pakde Karwo ini pinter ngeles, enak gak memakai kostum begini biar tetap jadi gubernur. Sumuk sisan nggawe kostum ngene, enak Pakde Karwo," imbuhnya. Hadirin pun terpingkal-pingkal mendengar guyonan itu.