Pendidikan
Guru Ini Mengajar Siswa SD Pakai Bahasa Tarzan
Empat orang hebat asal Malang berkumpul di Universitas Brawijaya, Jumat (13/11/2015) lalu menceritakan pengalaman inspiratifnya.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Adrianus Adhi
Menurut Arief, semua harus dimulai dari diri sendiri dulu sebelum mengajak orang lain membahas persoalan lingkungan.
Ia mencontohkan lebih baik membawa tempat minum sendiri. Selain lebih bersih, ekonomis juga tidak ada potensi sampahnya.
"Misalkan beli minuman botol, kalau diberi tas kresek gak usah. Langsung minum saja," kata dia.
Jumlah penduduk Kota Malang sekitar 800.000 orang. Pada pagi-sampai sore, warga mobile ada 200.000 orang bisa dari lintas wilayah lain ke Kota Malang.
"Kalau per orang sudah membeli air botol plastik dua, sampahnya sudah 2 juta. Belum sampah lainnya. Kadang hal sederhana seperti ini tidak dipikirkan," ujar mahasiswa FISIP UB yang merupakan koordinator Earth Hour.
Beda lagi dengan cerita Salma Safitri. Penggerak sekolah perempuan desa di Kota Batu ini menceritakan kegiatannya untuk memberikan pengetahuan tentang banyak hal ke perempuan.
Sekolah perempuan dilauching pada 23 agustus 2013. "Sekolahnya seminggu sekali selama dua jam, yaitu pukul 13.00-15.00 WIB. Jam-jam saat ibu rumah berhenti dari kegiatan domestiknya," tutur alumnus FH UB ini.
Mereka diberi pengetahuan keterampilan, traficking, soal HAM, gisi dll.
"Pematerinya dengan bekerjasama dengan lembaga lain. Misalkan soal gizi dengan pemateri dinkes, IBI, Walhi dll," katanya.
Lalu, Astu Prasidya (sutradara film animasi) yang akrab dipanggil Tooliq memberikan inspirasi mengenai pembuatan klip dan film animasi buatnya.
Alumnus UM ini mengaku banyak banyak menggarap isu-isu sosial, lingkungan. Alasan dia, isu ini juga berfungsi mengedukasi masyarakat yang menonton karya dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/wahyu-nur-hidayat_20151113_190212.jpg)