Sabtu, 25 April 2026

Pendidikan

Guru Ini Mengajar Siswa SD Pakai Bahasa Tarzan

Empat orang hebat asal Malang berkumpul di Universitas Brawijaya, Jumat (13/11/2015) lalu menceritakan pengalaman inspiratifnya.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Adrianus Adhi
Sylvianita Widyawati
Wahyu Nur Hidayat, alumnus Indonesia Mengajar saat tampil di rangkaian acara BHP (Brawijaya Human Prize) di Widyaloka UB Malang, Jumat (13/11/2015). 

SURYA.co.id I MALANG - Penganugerahan Brawijaya Human Prize (BHP) BEM FISIP Universitas Brawijaya (UB) di Gedung Widyaloka, Jumat (13/11/2015) siang, diisi cerita yang memberi inspirasi. 

Narasumber tersebut adalah Wahyu Nur Hidayat, alumnus Indonesia Mengajar. Lalu ada, Arief Nur Hidayat, mahasiswa FISIP UB, yang merupakan koodinator Earth Hour Malang.

Berikutnya, Astu Prasidya (sutradara film animasi) yang merupakan alumnus Universitas Negeri Malang (UM). Dan terakhir, Salma Safitri, penggerak sekolah perempuan di Kota Batu yang juga alumnus UB.

Semua narasumber ini diberi kesempatan bicara satu persatu di hadapan para mahasiswa.

Wahyu mengawali ceritanya dengan bertugas sebagai guru selama setahun di Sekolah Dasar. Ia menjadi pengajar muda pada program Indonesia Mengajar pada 2012 lalu.

"Saya mendapat tugas mengajar di daerah pegunungan di Lebak, Banten, Jawa Barat," tutur dia dihadapan peserta yang datang di acara BHP.

Meski demikian, kenyataan dilapangan ia harus mengajar di banyak tempat. "Pagi sampai siang mengajar di SD. Lalu, jam 14.00-16.00 WIB mengajar di madrasah diniyah. Setelah magrib di pondok dan kemudian belajar kelompok sampai malam," katanya.

Ia pun menambahkan bahwa belum ada listrik pada waktu itu. "Kalau hujan becek," akunya.

"Jika sudah hujan, banyak siswa yang tidak berangkat," imbuhnya.

Wahyu yang saat itu mengajar kelas lima, juga pernah menghandle kelas lain, dan tidak semua mengerti bahasa Indonesia. Tak jarang pula ia memakai bahasa tarzan.

"Pengalaman mengajarnya disana menjadi kenangan indahnya," tambahnya.

Agar lebih mengena, ia juga menampilkan foto-foto lokasi ia bertugas dan suasananya sepanjang bercerita pada mahasiswa.

Ia juga menambahkan bahwa persaingan mengikuti progam ini sangat ketat. Buktinya, ia harus bersaing dengan lebih dari 8.000 pendaftar agar lolos dalam progam tersebut.

"Kalau angkatan ganjil, satu angkatan antara 50-54 orang. Kalau angkatan genap antara 70-an orang," jelasnya.

Sementara, Arief Nur Hidayat mengaku bahwa ia tidak tahu banyak soal lingkungan. Persoalan ini dipecahkan bertahap begitu ia bergabung dengan Earth Hour Malang.

Menurut Arief, semua harus dimulai dari diri sendiri dulu sebelum mengajak orang lain membahas persoalan lingkungan.

Ia mencontohkan lebih baik membawa tempat minum sendiri. Selain lebih bersih, ekonomis juga tidak ada potensi sampahnya.

"Misalkan beli minuman botol, kalau diberi tas kresek gak usah. Langsung minum saja," kata dia.

Jumlah penduduk Kota Malang sekitar 800.000 orang. Pada pagi-sampai sore, warga mobile ada 200.000 orang bisa dari lintas wilayah lain ke Kota Malang.

"Kalau per orang sudah membeli air botol plastik dua, sampahnya sudah 2 juta. Belum sampah lainnya. Kadang hal sederhana seperti ini tidak dipikirkan," ujar mahasiswa FISIP UB yang merupakan koordinator Earth Hour.

Beda lagi dengan cerita Salma Safitri. Penggerak sekolah perempuan desa di Kota Batu ini menceritakan kegiatannya untuk memberikan pengetahuan tentang banyak hal ke perempuan.

Sekolah perempuan dilauching pada 23 agustus 2013. "Sekolahnya seminggu sekali selama dua jam, yaitu pukul 13.00-15.00 WIB. Jam-jam saat ibu rumah berhenti dari kegiatan domestiknya," tutur alumnus FH UB ini.

Mereka diberi pengetahuan keterampilan, traficking, soal HAM, gisi dll.

"Pematerinya dengan bekerjasama dengan lembaga lain. Misalkan soal gizi dengan pemateri dinkes, IBI, Walhi dll," katanya.

Lalu, Astu Prasidya (sutradara film animasi) yang akrab dipanggil Tooliq memberikan inspirasi mengenai pembuatan klip dan film animasi buatnya.

Alumnus UM ini mengaku banyak banyak menggarap isu-isu sosial, lingkungan. Alasan dia, isu ini juga berfungsi mengedukasi masyarakat yang menonton karya dia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved