Pendidikan
Guru Ini Mengajar Siswa SD Pakai Bahasa Tarzan
Empat orang hebat asal Malang berkumpul di Universitas Brawijaya, Jumat (13/11/2015) lalu menceritakan pengalaman inspiratifnya.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id I MALANG - Penganugerahan Brawijaya Human Prize (BHP) BEM FISIP Universitas Brawijaya (UB) di Gedung Widyaloka, Jumat (13/11/2015) siang, diisi cerita yang memberi inspirasi.
Narasumber tersebut adalah Wahyu Nur Hidayat, alumnus Indonesia Mengajar. Lalu ada, Arief Nur Hidayat, mahasiswa FISIP UB, yang merupakan koodinator Earth Hour Malang.
Berikutnya, Astu Prasidya (sutradara film animasi) yang merupakan alumnus Universitas Negeri Malang (UM). Dan terakhir, Salma Safitri, penggerak sekolah perempuan di Kota Batu yang juga alumnus UB.
Semua narasumber ini diberi kesempatan bicara satu persatu di hadapan para mahasiswa.
Wahyu mengawali ceritanya dengan bertugas sebagai guru selama setahun di Sekolah Dasar. Ia menjadi pengajar muda pada program Indonesia Mengajar pada 2012 lalu.
"Saya mendapat tugas mengajar di daerah pegunungan di Lebak, Banten, Jawa Barat," tutur dia dihadapan peserta yang datang di acara BHP.
Meski demikian, kenyataan dilapangan ia harus mengajar di banyak tempat. "Pagi sampai siang mengajar di SD. Lalu, jam 14.00-16.00 WIB mengajar di madrasah diniyah. Setelah magrib di pondok dan kemudian belajar kelompok sampai malam," katanya.
Ia pun menambahkan bahwa belum ada listrik pada waktu itu. "Kalau hujan becek," akunya.
"Jika sudah hujan, banyak siswa yang tidak berangkat," imbuhnya.
Wahyu yang saat itu mengajar kelas lima, juga pernah menghandle kelas lain, dan tidak semua mengerti bahasa Indonesia. Tak jarang pula ia memakai bahasa tarzan.
"Pengalaman mengajarnya disana menjadi kenangan indahnya," tambahnya.
Agar lebih mengena, ia juga menampilkan foto-foto lokasi ia bertugas dan suasananya sepanjang bercerita pada mahasiswa.
Ia juga menambahkan bahwa persaingan mengikuti progam ini sangat ketat. Buktinya, ia harus bersaing dengan lebih dari 8.000 pendaftar agar lolos dalam progam tersebut.
"Kalau angkatan ganjil, satu angkatan antara 50-54 orang. Kalau angkatan genap antara 70-an orang," jelasnya.
Sementara, Arief Nur Hidayat mengaku bahwa ia tidak tahu banyak soal lingkungan. Persoalan ini dipecahkan bertahap begitu ia bergabung dengan Earth Hour Malang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/wahyu-nur-hidayat_20151113_190212.jpg)