32 Desa di Jatim Belum Dapat Aliran Listrik
Ke-32 desa tersebut berada di wilayah Kabupaten Sumenep, Bondowoso, dan Probolinggo.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
Faktor lahan ini juga menjadi penghambat sangat besar, untuk itu perlu dilakukan penyadaran terkait pentingnya listrik masuk desa. Karena bisa menaikan pendapatan keuangan masyarakat.
“Daerah yang sulit menerima aliran listrik diantaranya Situbondo dan Madura,” ungkap Suhatman.
Jatim sebenarnya surplus daya listrik, daya yang dimiliki 8.700
Mega Watt (MW) sedangkan beban puncak sekitar 4.700 hingga 5.000 MW.
Jumlah surplus ini dialirkan ke Jabar dan Bali, sedangkan di Jatim
terus membangun transmisi untuk memperluas jaringan listrik di
daerah-daerah yang membutuhkan.
Komisaris PT PLN Persero, Milton Pakpahan mengatakan, saat ini harga
listrik masih di subsidi pemerintah.
Namun pemerintah melalui PLN masih kesulitan untuk menyalurkan listrik ke daerah-daerah.
Kendala yang terbesar dialami PLN adalah pembebasan lahan untuk pemancang
jaringan listrik.
“Hambatan pembebasan lahan menjadi faktor utama, tetapi setiap daerah
memiliki perbedaan persoalan," jelasnya.
Meski demikian, pembangunan listrik 35.000 MW harus dituntaskan.
Karena, daerah-daerah luar Pulau Jawa masih membutuhkan aliran listrik,
seperti Kalimantan, Papua dan daerah-daerah lain.
Pembangunan ini bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat naik, jika belum ada listrik tidak bisa mengawetkan makanan, kalau ada listrik bisa diawetkan dengan ada
menggunakan kulkas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/tinag-listrik-lek.jpg)