Breaking News:

Tempo Doeloe

VIDEO - Ada Kondektur Cantik di Bus Kota Surabaya Sejak 1943

"Lihatlah, bus sedang berjalan. Di mana bus itu berjalan? Oh, di Surabaya. Hei, siapa putri itu yang cantik, yang turun dari bus? Kondekturnya."

Penulis: Yuli | Editor: Yuli

Adapun berita film ini, pesan pokoknya ialah mengajak rakyat untuk rajin menabung.

Dibuka dengan adegan paduan suara perempuan berbusana khas Jawa yang dirijennya pria Jepang, lalu menunjukkan bagaimana kepedulian Jepang pada wabah penyakit di daerah Yogyakarta. 

Lazimnya propaganda, sekali lagi, semua yang muncul dalam berita film ini serba membagus-baguskan masa pendudukan Jepang dibanding, isitilah mereka, Belanda almarhum. 

Padahal, di balik itu semua, terbentang kisah sengsara yang sudah jamak diketahui dalam pelbagai buku sejarah resmi maupun cerita lisan. 

Zaman Jepang berarti penderitaan rakyat di mana-mana terus memburuk, jauh lebih buruk dibanding periode akhir penjajahan Belanda.

Kaum tani diminta hasil panennya untuk biaya mendukung perang Asia Timur Raya. Banyak orang terpaksa berpakaian dari bahan goni yang berkutu.

Banyak pemuda yang dipaksa bekerja bikin gua persembunyian, bendungan, dermaga di Samudera Indonesia dan proyek militer lainnya hingga jatuh sakit dan mati. Romusha.

Banyak perempuan yang dipaksa jadi budak seks tentara Jepang. Jugun ianfu. (BACA: Jepang Diminta Tak Intimidasi Sejarawan yang Ungkap Jugun Ianfu).

Sementara, mayoritas kaum elit terpelajar Indonesia memilih berkolaborasi dengan Jepang.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved