Senin, 11 Mei 2026

Eksklusif Menjaga Jejak Kemerdekaan

Relakan Miliaran Rupiah Demi Pugar Gedung Bekas Markas Jepang

Mereka juga diwajibkan ikut pelatihan yang rutin diberikan tim konservasi Cagar Budaya Pemkot Surabaya maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Titis Jati Permata
surya/benni indo
Gedung Grha Wismilah di Jalan Dr Soetomo Surabaya yang tetap terawat, Sabtu (15/8/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Banyak jejak kemerdekaan di Surabaya yang sudah hilang dan hanya bisa dilihat dalam catatan dan dokumentasi.

Sebagian lagi bisa dilihat, tetapi kondisinya sudah berantakan, tidak utuh, bahkan hancur.

Beruntung Surabaya memiliki barisan warga peduli bangunan bersejarah.

Mereka rela mengeluarkan miliaran rupiah untuk merawat sekaligus menghidupkannya agar masyarakat bisa merasakan langsung suasana gedung, yang pernah ditempati para pejuang kemerdekaan.

Gedung Grha Wismilak termasuk satu di antara barisan itu. Gedung ini dulu digunakan sebagai markas Polisi Istimewa Jepang sekaligus tempat lahir Polisi Republik Indonesia (Polri).

Gedung ini pula yang menjadi ikon perang Sepuluh Nopember 1945.

Pasukan sekutu NICA lewat ultimatum meminta rakyat Surabaya menyerahkan senjata.

Nah di gedung inilah, senjata-senjata itu harus diserahkan sambil berjalan jongkok dan kedua tangan mengalung di leher, tanda menyerah tanpa syarat.

Sejak direnovasi dan dibuka lagi pada 2009, gedung ini berganti nama menjadi Grha Wismilak, sesuai label pemiliknya, PT Wismilak Inti Makmur Tbk.

“Kami sangat konsen mempertahankan keaslian bangunan ini,” jelas Henry Najoan, Chief Personal & Legal Officer PT Wismilak Inti Makmur Tbk kepada Surya yang berkunjung, Jumat (14/8/2015).

Bangunan pada 1920-an itu berdiri kokoh di Jalan Raya Darmo No 36-38 Surabaya, persis di persimpangan dengan jalan Dr Soetomo.

Pada zamannya, gedung ini merupakan satu-satu bangunan berlantai dua di kawasan Darmo Boleuvaard dan Coen Boulevaard (Jl Dr Soetomo).

Pada masa kolonial, gedung milik saudagar Belanda itu digunakan untuk toko modern. Jepang yang masuk pada 1942 kemudian mengubahnya menjadi kantor polisi.

Puncak sejarah revolusi di gedung itu muncul setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

NICA datang untuk melucuti Jepang, yang telah dua setengah tahun menjajah Indonesia. Tapi, kedatangan NICA diboncengi Belanda, sehingga mendapat perlawan rakyat.

Pimpinan NICA, Jenderal Mansergh membalas dengan ultimatum. Rakyat menyerahkan senjata dengan berjalan jongkok dan kedua tangan mengalung di leher.

Melihat ultimatum itu, Inspektur Polisi Moh Jasin dengan berani justru memproklamirkan berdirinya Polri.

Ini dilakukan karena daerah lain, sudah mempersilakan masuknya NICA, termasuk Jakarta, dan Bandung.

“Pada 21 Agustus 1945, Polisi Istimewa Surabaya (Tokubetsu Keisasutai) dipimpin Inspektur Polisi Moh Jasin memproklamasikan Polri. Menurut ultimatum Jenderal Mansergh, arek-arek Surabaya diharuskan meletakkan senjata-senjata yang dirampas dari Jepang di muka gedung ini.” demikian bunyi tulisan pada prasasti yang terpasang dalam gedung ini.

Barisan polisi dipimpin Moh Jasin berperan vital saat meletus Perang 10 Nopember 1945 yang mencengangkan dunia.

Mereka memimpin perampasan senjata dan peralatan perang dari markas-markas Jepang. Senjata rampasan inilah yang kemudian digunakan menghadapi sekutu.

Memasuki kompleks Grha Wismilak, suasana tempo dulu langsung terasa. Barisan lampu-lampu lawas menghiasi taman. Begitu juga di selasar kanan dan kiri gedung.

Tembok gedung tebal dan tinggi, menambah kuat kesan kuno. Kusen kayu besar dan lebar, dengan daun-daun pintu dan jendela cukup besar. “Semuanya masih asli,” kata Henry.

Cuma ada sedikit beda. Pengelola sudah menambahkan kaca bening, yang dipasang mati (permanen) di kusen.

Pemasangan kaca bening ini dilakukan karena seluruh ruang dilengkapi AC. Tapi, daun jendela masih dipertahankan.

Bedanya sekarang adalah saat jendela krepyak kayu dibuka, udara sudah tidak bisa masuk, karena tertutup kaca.

Satu-satunya perubahan besar di lantai satu ini ada pada ubin. Baik selasar maupun dalam ruangan, sudah berlantai marmer.

Warna marmer sebenarnya mirip dengan ubin asli. Tapi, permukaannya terlalu mengkilap dibanding ubin tempo doloe yang ngedop.

Menurut Henry, ubin asli itu diganti karena saat gedung itu dibelinya pada 1993 kondisi ubin sudah rusak parah.

Sebelum beralih ke tangan Wismilak, gedung itu sempat digunakan kantor Polres Surabaya Selatan, sebelum korps baju cokelat itu pindah kantor ke Dukuh Kupang.

Kesan kuno lebih kental terlihat di lantai dua. Di sini semua masih utuh, mulai dari tangga, ornamen ruang, hingga ubin yang terbuat dari kayu. Sama persis dengan kondis saat gedung itu dibangun pada 1920-an.

Saat pemugaran dilakukan pada 2006, bagian-bagian di lantai dua hanya dipoles, diperkuat, dibersihkan, dan diperindah.

Aktivitas manajemen Wismilak tidak dipusatkan di gedung bersejarah ini, Wismilak memusatkan aktivitas di gedung baru.

Gedung empat lantai yang dibangun menyatu sehingga terasa menjadi satu kesatuan dengan gedung lawas.

Apalagi, kesan kuno juga dipadukan. Arsitektur dan ornamen bangunan nyaris sama. Perbedaan yang terasa ada pada ukuran kusen pintu dan jendela kayu yang sedikit lebih kecil.

Perbedaan lainnya, jendela-jendela di gedung baru ini menggunakan kaca permanen tanpa dilengkapi daun jendela, krepyak kayu.

Henry tidak mau membuka angka pasti biaya pelestarian, yang mencapai miliaran.

“Yang pasti kami sangat konsen dengan bangunan sejarah dan kami all out melestarikannya,” tegas Henry.

Kesungguhan melestarikan gedung peninggalan itu diantaranya dibuktikan dengan usaha Wismilah memasang pengaman. Menanam paku bumi di sekeliling lahan seluas 999.89 m2 itu.

Tujuannya agar tanah persegi yang ditempati gedung itu tidak gerak sehingga struktur bangunan tidak runtuh.

Tidak cukup itu. Untuk perawatan rutin, Wismilak membentuk tim khusus. Tugasnya memelototi detil bagian gedung, sekaligus memperbaikinya secara berkala. Termasuk memeriksa tembok yang basa akibat resapan air dan mengganti cat yang belang.

Ada belasan orang dalam tim ini. Mereka para karyawan Wismilah yang diseleksi dengan standar ketat.

Tidak hanya menguasi teknik bangunan, mereka ini juga diwajibkan mengikuti pelatihan yang rutin diberikan oleh tim konservasi Cagar Budaya dari Pemkot Surabaya maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya di Trowulan Mojokerto.

Terlepas dari fungsinya sebagai gedung perkantoran, Henry menceritakan kisah unik lainnya kepada Surya tentang Grha Wismilak.

Warga Belanda pernah berkunjung ke Grha Wismilak. Kedatangan mereka bukan untuk bertamasya.

Mereka datang jauh-jauh dari Belanda ke Grha Wismilak Surabaya untuk mencari jejak sejarah keluarga.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved