Muktamar Ke 33 NU Jombang

Terapi Bekam, Pilihan Muktamirin Hilangkan Penat

Salah satu terapis itu Subkhan (45), asal Pamekasan, Madura. Ditemui di stan-nya, Alun-alun Jombang, Subhan sibuk menempelkan belasan tanduk sapi.

Penulis: Sutono | Editor: Parmin
surya/sutono
BEKAM TANDUK - Muktamirin menjalani pengobatan tradisional terapi bekam tanduk di arena muktamar, Senin (3/7/2015). 

SURYA.co.id | JOMBANG - Meski baru masuki hari ketiga pelaksanaan Muktamar ke-33 NU di Jombang, para peserta muktamar atau muktamirin sudah mulai dirundung kepenatan. Itu terjadi karena sidang pleno pembahasan tata-tertib muktamar berlangsung alot, sehingga menguras energi.

Belum lagi, bagi muktamirin luar Jatim. Lamanya perjalanan dari daerah asal menjadikan badan kelelahan. Tapi ini bisa jadi malah menjadi berkah bagi para terapis bekam yang menggunakan tanduk sapi Madura. Sejumlah terapis bekam pun mengadu untuk di arena muktamar.

Mereka membuka layanan dadakan di sekitar arena muktamar untuk melayani para peserta yang kelelahan. Dengan stan sederhana, berupa tikar yang dibeber dan belasan tanduk sapi, ratusan ribu rupiah per harinya masuk ke kantong para terapis.

Salah satu terapis itu Subkhan (45), asal Pamekasan, Madura. Ditemui di stan-nya, Alun-alun Jombang, Subhan tampak sibuk menempelkan belasan tanduk sapi ke punggung pasiennya sebagai alat bekam.

Tangan kanannya kemudian memegang setangkai kawat sepanjang sekitar 25 sentimeter, dengan kapas diujungnya, yang kemudian disulut dengan api. Kawat dengan api diujungnya itu digunakan memanasi rongga setiap tanduk sapi, kemudian ditempelkan ke punggung si pasien.

Setelah sekitar 15 menit berlalu, satu per satu tanduk sapi dilepasnya dari punggung si pasien. Bekas bekaman berbentuk lingkaran merah kecil terlihat di punggung si pasien. Dengan sigap, dia melanjutkan terapi dengan mengurut punggung pasien menggunakan minyak angin.

Peralatan yang dibawa Subkhan untuk terapi bekam terlihat sederhana. Hanya belasan tanduk sapi sebagai peralatan utama, kemudian minyak urut.

Tanpa bermaksud promosi, Subhan mengungkapkan, terapi bekam bisa menyembuhkan pegal-pegal. Selain itu juga bisa menyembuhkan nyeri punggung, nyeri tulang dan masuk angin.

“Bekam tanduk sapi ini bisa mengeluarkan angin dan darah kotor. Kemudian dipijat guna melonggarkan urat yang sebelumnya kaku," kata Subkhan, setengah berpromosi, Selasa (3/8/2015).

Kepada para calon pasiennya, Subkhan tak mematok harga. "Saya tidak menentukan tarif secara kaku. Saya terima seikhlasnya saja. Tapi Alhamdulillah, banyak yang memberi lebih hingga Rp 50.000. Itu barokah pijat para kiai," akunya.

Memang Subkhan mengaku, mayoritas yang memanfaatkan layanan bekam adalah para muktamirin, yang nota bene adalah ulama di daerahnya masing-masing. Setiap muktamirin yang menggunakan jasa Subhan, paling lama setengah jam.

Subkhan mengaku datang ke arena muktamar alun-alun sejak Kamis 30 Juli lalu. Selama seitar 5 hari hari membuka praktik dadakan di alun-alun ini, puluhan peserta muktamar telah menggunakan jasanya.

Lelaki dengan dua anak ini merasa bersyukur setiap hari rata-rata 10 orang memanfaatkan ketrampilannya melakukan terapi bekam ini. “Rata-rata sekitar Rp 500.000 bisa saya terima setiap hari,” tutur Subkhan, sumringah.

Subkhan sendiri sudah menjalani profesinya sebagai terapis bekas selama 11 tahun. Dia sendiri mengaku mendapat ‘ilmu’ pengobatan bekam ini dari pamannya di Pamekasan.

“Ternyata keterampilan ini sangat bermanfaat. Baik bagi saya sendiri maupun orang lain. Bagi saya berguna, karena selain bisa menolong orang juga bisa mendapat penghasilan. Sedangkan bagi orang lain bisa sembuh dari keluhan sakitnya,” ungkap Subkhan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved