Breaking News:

Pecel Pocong di Sudut Kota Probolinggo

tengah malam tersasar di kota mangga Probolinggo? jangan lewatkan kesempatan mengudap seporsi pecel pocong nan nikmat ini.... berani?!

citizen/stebby julionatan
Bu Nah meracik pecel pocong pesanan pelanggan 

Oleh : Stebby Julionatan
Founder Komunitas Penulis Probolinggo
@StebbyJulionatan

MALAM di kota mangga Probolinggo, surga bagi mereka yang betah begadang.  Lihat saja di sudut Jalan Panglima Sudirman, arah Siaman, lesehan nasi pecel sederhana, riuh dikepung pelanggan. 

 

Perempuan paro baya, menghadap beberapa bakul di depannya, tengah meracik pesanan pelanggan. Ada yang antre, ada yang lesehan menikmati nasi pecel pocong. Begitu nama yang diberikan para pelanggan nasi pecel ini.

 

Sebutan yang ini terlontar karena selain buka di malam hari sampai menjelang subuh, juga karena di lesehan ini penjualnya, Toyani, senantiasa mengikat tiang tempat bendera dengan karung plastik warna putih sehingga mirip pocong, untuk melindungi pelangganya tersandung tiang tersebut.

 

Meski sederhana lesehan ini termasuk cukup ramai dikunjungi pembeli. Selain karena harganya terbilang ramah di kantong, suasana jalan raya di malam hari juga cukup nyaman untuk dinikmati. Pengunjungnya rata-rata mereka yang baru pulang kerja atau para pedagang sayur di Pasar Baru.

 

Selain pecel, menu yang ditawarkan di lesehan tersebut ada nasi jagung. Lauknya juga terbilang lengkap. Bu Nah, begitu Toyani senantiasa disapa, juga menjual lodeh, tahu, tempe, telur, tempe, daging empal dan serundeng.

 

Bagi penyuka pedas, jangan khawatir, sambal terasi pun tersedia. Satu porsi pecel pocong komplit dengan sayur dan lauk, hanya Rp 7.000.

 

Yang unik, nasi pecel yang biasanya ditemani peyek, di lesehan ini diganti dengan kerupuk merah. Di lesehan ini, rempeyek dijual terpisah seharga Rp 1.000 per bungkus. Kalau sekadar ngopi, lesehan pecel pocong Bu Nah juga menyediakannya.

 

Bu Nah berkisah, dirinya cukup lama berjualan di sana. Kalau pelanggan mencapai puncaknya, sebelum subuh ia sudah sampai rumah. “Kalau sepi ya jualan sampai subuh,” ujarnya polos.

 

Berjualan di sana bukan semata karena lokasinya dekat dengan pasar dan ramai aktivitas lewat tengah malam, melainkan karena dirinya juga merasa nyaman. “Pemilik toko juga tak mempermasalahkan,” imbuhnya.

 

Sebagai ucapan terima kasih kepada sang pemilik toko, Bu Nah selalu membersihkah tempatnya berjualan sampai bersih sebelum pulang.

 

Nah, tergoda pecel pocong Bu Nah?

 


Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved