Kereta Api
Petani Penghadang KA Gajayana Takut Berurusan dengan Hukum
Petani itu bukan saja takut dilibas kereta tetapi juga takut berurusan dengan hukum jika menghentikan kereta. Untunglah, KA Gajayana mau berhenti.
Penulis: Dyan Rekohadi | Editor: Yuli
SURYA.co.id | MALANG - Edi Sudarmi tengah duduk santai bersama keluarga di depan rumah mungilnya di tengah persawahan saat ditemui reporter SURYA usai penghadangan Kereta Api (KA Gajayana), Rabu (18/3/2015) sore.
Sambil menghisap rokok kreteknya, petani itu mengakui dirinya dan temannya, Bonadi, yang menghentikan laju KA Gajayana.
“Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya khawatir saja melihat rel yang rusak, jangan-jangan bisa membuat kereta kecelakaan, kasihan penumpang kereta yang jumlahnya banyak,” ujar Edi.
BERITA TERKAIT:
- 2 Petani Hentikan KA Gajayana, Ratusan Penumpang Selamat
- Inilah Foto-foto Kerusakan Rel yang Bisa Membuat Sepur Anjlok
Edi yang sehari-hari tinggal bersama keluarganya dalam rumah sederhana di tengah persawahan itu mengetahui ada bagian rel yang rusak pada Rabu (18/3/2015) pagi.
Sekitar pukul 08.00 WIB, Edi dan istrinya berjalan menyusuri rel menuju perkampungan di Gadang gang X untuk melayat warga yang meninggal dunia.
Saat itu ia melihat ada bagian sambungan rel yang menganga. “Relnya sudah gupal, potongan relnya sudah tidak ada,” kata Edi menggambarkan kerusakan rel.
Saat itu ia sudah mulai mengkhawatirkan kereta yang akan lewat tapi dia belum berfikir untuk ambil tindakan. Kekhawatirannya memuncak ketika hingga siang hari tidak melihat ada perubahan hilir-mudik kereta di jalur itu.
Padahal, Edi melihat kondisi rel yang rusak semakin mengkhawatirkan. Selain gupal, posisi rel juga terlihat mulai melengkung. Saat itulah Edi mulai mencari cara untuk menginformasikan kerusakan rel itu.
Sebenarnya, ia menghadapi persoalan yang dilematis. Ia ragu-ragu menghentikan kereta api yang melaju di atas rel. Bukan saja takut dilibas kereta yang nantinya tidak berhenti, ia juga sebenarnya takut berurusan dengan hukum jika menghentikan kereta.
Tapi kenekatan Edi muncul ketika ia mendapat dukungan temannya, Bonadi.
“Bonadi itu anaknya pensiunan orang yang kerja di Kereta Api, dia bilang kalau melapor ke stasiun terlalu lama, sementara akan ada kereta yang akan melintas lagi, dia bilang dicegat langsung saja, ya sudah akhirnya saya juga berani, daripada ada kecelakaan,” paparnya.
Ikuti berita menarik dan penting berikutnya, LIKE Facebook SURYA
//