Breaking News:

Tim BPCB Trowulan Menilai Candi Nongkodono Jaya di Abad 10 Sampai 11

Nugroho menguraikan jika bangunan Candi itu Pemujaan Dewa Siwa itu, sebelum Kerajaan Majapahit dan Singosari.

Penulis: Sudarmawan | Editor: Satwika Rumeksa
Tim BPCB Trowulan Menilai Candi Nongkodono Jaya di Abad 10 Sampai 11
Surya/sudarmawan
Tim Penggalian Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto menyelesaikan penggalian (eskavasi) Candi Nongkodono yang ada di halaman SMP Negeri 1 Kauman, Dusun Candi, Desa Nongkodono, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Rabu (20/8/2014).

SURYA Online, PONOROGO-Setelah selama tujuh hari melaksanakan penggalian Candi Nongkodoni, tim Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto akhirnya mengakhiri penggalian (eskavasi) di halaman SMPN 1 Kauman, RT 01, RW 01, Dusun Candi, Desa Nongkodono, Kecamatan Kauman,  Kabupaten Ponorogo, Rabu (20/8). Tim yang terdiri dari 10 anggota dan seorang ketua itu, akhirnya mulai berkemas-kemas untuk kembali di BPCB Trowulan, di Mojokerto. Alasannya, waktu yang diberikan dalam penggalian sudah habis.

Selama penggalian itu, tim penggalian menemukan beberapa barang yang mendukung dan menguak penelitian atas bangunan Candi Nongkodono. Yakni mulai penemuan batu bata berundak di sisi barat, kemudian disusul penemuan serpihan-serpihan pecahan tembikar kuno, disusul penemuan adanya tiga batu berundak anak tangga di berbagai sisi serta ditemukannya batu bata yang digunakan sebagai tepian candi.

Bahkan, setelah membersihkan pohon beringin raksasa yang sudah mati di tengah (puncak) candi, tim menemukan adanya sumur di tengah puncak candi yang berada di bawah pohon beringin. Saat sumur dibuka, ditemukan kerangka manusia yang diperkirakan sekitar 60 tahun yang dikubur di dalam sumur candi. Diduga mayat ini, dikubur sebelum ada tanaman pohon beringin.

"Paska menemukan beberapa pendukung, mulai Arca Maha Kala, batu berundak berjumlah empat di masing-masing sisi, serpihan pecahan tembikar, batu bata ompak serta sumur di puncak candi, jelas ini candi yang digunakan pada abad 10-11. Candi ini merupakan candi pemujaan Siwa. Arca Maha Kala itu merupakan tanda pemujaan Dewa Siwa," terang Ketua Tim Penggalian BPCB Trowulan, Mojokerto, Nugroho Arjo Lukito kepada Surya, Rabu (20/8/2014).

Lebih jauh, Nugroho menguraikan terkait penemuan terakhir yang mengemparkan warga Desa Nongkodono, yakni penemuan kerangka manusia di dalam sumur di bawah pohon beringin dinilai tidak ada kaitanya dengan candi. "Kerangka manusia yang kami temukan tidak ada kaitanya dengan kegunaan serta jaman pembuatan candi. Kerangka manusia itu termasuk bukan manusi purba. Sedangkan candi berusia atau jaya di abad 10-11. Kerangka manusia itu kami perkiraan ada disitu sekitar 60 tahun yakni jaman Gestapu," imbuhnya.

Selain itu, Nugroho menguraikan jika bangunan Candi itu Pemujaan Dewa Siwa itu, sebelum Kerajaan Majapahit dan Singosari. Kendati demikian, bisa jadi candi masih digunakan di jaman Kerajaan Majapahit dan Singosari.

"Bisa jadi jaman itu datang orang Majapahit atau Singosari akhirnya digunakan lagi pada jaman kerajaan itu. Kalau melihat batu bata dan serpihan tembikar dan corak arca Maha Kala corak Majapahit," ungkapnya.

Sementara paska digali, kata Nugroho candi itu akan dirawat dan dipugar. Akan tetapi, kapan pemugarannya belum bisa dipastikan. Alasannya, karena masih menunggu anggaran.

"Nanti akan dirawat dan dipugar. Tetapi, kapan pelaksanaannya belum jelas bergantung anggran. Kalau Pemerintah Daerah mau memugar jelas tidak mampu. Sementara pihak sekolah akan membikin taman dengan pot-pot itu akan  dipasang mengelilingi candi demi melindungi bangunan candi dari tangan-tangan jahil," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved