Breaking News:

Jadi Murid Pramodya, Hwie Koleksi Buku Kuno Mulai 1891

Pengalaman Oei Hiem Hwie sebagai wartawan dan mengoleksi berbagai buku bernilai tinggi, berujung dengan dibentuknya Perpustakaan Medayu Agung.

Jadi Murid Pramodya, Hwie Koleksi Buku Kuno Mulai 1891
Surya/sudarma adi
Pembina Yayasan Medayu Agung, Oei Hiem Hwie, menunjukkan buku kuno dikoleksinya, Rabu (14/5/2014).

SURYA Online, SURABAYA - Pengalaman Oei Hiem Hwie sebagai wartawan dan ketelatenan mengoleksi berbagai buku bernilai tinggi, berujung dengan dibentuknya Perpustakaan Medayu Agung. Koleksi berbagai buku kuno hingga catatan asli penulis legendaris, Pramoedya Ananta Toer membuat MURI meliriknya dan akhirnya memberinya penghargaan sebagai kolektor surat kabar terlengkap sejak awal terbit.

Rumah yang berada di Jl Medayu Selatan IV ini tak nampak sebagai perpustakaan. Orang mungkin baru paham bahwa itu perpustakaan, karena di depan rumah tertulis Yayasan Medayu Agung Surabaya. Saat berada di dalam, tumpukan buku, majalah dan koran berjajar rapi di rak-rak tinggi.

Meski perpustakaan itu mirip rumah biasa, namun siapa sangka di tempat itu banyak peninggalan buku-buku bersejarah dan kuno yang tiada ternilai. Beberapa buku kuno yang diletakkan di dalam etalase itu di antaranya Staatsblad Nederlandsch Indie yang dicetak 1891 dan 1893. Adapula buku Oud Batavia karangan F de Haan yang dicetak 1935, dan Oud Soerabaia pada 1932.

Bahkan, ada pula catatan asli dari tulisan tangan Pramoedya Ananta Toer tentang salah satu karya, Bumi Manusia. Catatan yang tersimpan rapi di etalase kaca ini ditulis di kertas untuk wadah semen.
Maka, perpustakaan yang bernaung di bawah Yayasan Medayu Agung ini tak bisa dilepaskan dari sosok Oei Hiem Hwie dan sebaliknya.

Saat berbincang di perpustakaan itu, pria yang lahir pada 26 November 1938 ini bertutur bahwa koleksi bukunya yang lengkap ini berawal dari pahit getir hidupnya saat masih muda. "Awalnya, saya punya koleksi buku berharga. Namun, sebagian sudah dibakar pada masa Orde Baru," jelasnya menjawab Surya, Rabu (14/5/2014).

Begitu lulus sekolah pada 1962, pria tinggi ini bekerja di koran Trompet Masjarakat (almarhum). Lewat koran yang terbit di Surabaya ini, dia mengasah pengalaman dengan berbagai liputan, termasuk meliput kegiatan proklamator Bung Karno.

Dia pun punya kedekatan dengan Bung Karno hingga 1965 silam. Titik balik hidup terjadi, ketika masa G30S/PKI. Di masa ini, setiap orang yang dekat Soekarno disingkirkan, termasuk Hwie.

"Saya dianggap guru PKI. Makanya, saya sempat dipenjara di Batu, dan pindah ke Lapas Lowokwaru Malang," katanya.

Namun pengalaman hidup tak sampai disitu saja. Dia kemudian pindah penjara di Kalisosok Surabaya dan Koblen. Tak lama, dia dipindah ke Nusakambangan. Tapi, pengalaman yang masih membekas di memori, adalah saat dipenjara di Pulau Buru. Disana dia bertemu Pramoedya.

"Saya kemudian dijadikan 'murid' oleh Pramoedya. Saya sering membantunya membuat tulisan di dalam penjara secara sembunyi-sembunyi," urainya dengan senyum lepas.

Menjadi murid Pramoedya, dia belajar bagaimana membuat tulisan bernilai tinggi. Tak hanya itu saja, Pramoedya juga sempat memberikan tulisan tangannya tentang Bumi Manusia. Selain itu, dia juga mendapatkan karya Pramoedya yang tak pernah dicetak secara luas, yakni Di Atas Lumpur.

"Saya mendapatkan stensilan saja pada 1970. Stensilan ini masih saya simpan dan ini adalah satu-satunya," katanya bangga.

Hidup di penjara berakhir setelah lima tahun. Dia kemudian pulang ke Malang. Di Kota Pendidikan ini, sebenarnya dia punya koleksi buku-buku berharga. Tapi karena tekanan militer pada Orde Baru masih tinggi, dia sering menyembunyikan buku-buku itu di atas plafon rumah. Tak hanya buku kuno, dia juga memiliki bendel koran dan majalah, serta buku berisi pidato Bung Karno.

"Jumlahnya ratusan buku. Gerak gerik saya terbatas, karena KTP saya distempel eks tapol," paparnya.

Kemudian, pada era 1980an, ada dua orang Australia yang datang ke rumahnya. Mereka tertarik dengan koleksi buku yang dimiliki Hwie dan ingin membeli semua buku dengan nilai Rp 1 miliar. Hatinya benar-benar tergoda untuk menerima tawaran itu. Namun, temannya Ongko Tikdojo memberi usul bagaimana jika buku-buku itu dijadikan perpustakaan.

"Dari situ, pikiran saya terbuka dan menerima usul itu," kata pria yang berusia 76 tahun ini.

Awalnya, dia mengontrak rumah di Jl Medayu Selatan Gg 9 dan buku-buku ditaruh disitu. Namun karena koleksinya makin banyak, temannya Ongko kemudian mengajak beberapa pengusaha untuk membiayai perpustakaan dan membentuk Yayasan Medayu Agung. "Itu terjadi pada 2001," tegasnya.

Dedikasinya mengkoleksi berbagai buku yang sampai saat ini berjumlah lebih dari 9000 buah ini juga didukung dana dari pengusaha lewat yayasan itu. Dedikasi itu rupanya didengar Pemkot Surabaya, dimana pada 2004 dia mendapatkan Surabaya Academy Award atas potensi masyarakat untuk pelestarian dan pencerahan budaya.

Lalu pada 2005, perpustakaan itu mendapat pengakuan sebagai perpustakaan sah di bawah asuhan Perpustakaan Umum Pemkot Surabaya.

Puncaknya, pada Rabu siang itu, perwakilan dari MURI datang ke perpustakaan itu. Mereka memberikan penghargaan MURI pada Hwie, sebagai kolektor surat kabar terlengkap sejak awal terbit.

"Ini berdasarkan penelitian bertahun-tahun. Pak Hwie memang layak dan satu-satunya warga di Indonesia yang punya koleksi terlengkap, serta manusia yang gigih dan telaten mengoleksi buku dan majalah," urai pengurus MURI, Hepi Ichwan Bachtiar.

Adik Jaya Suprana ini menegaskan, koleksi Hwie ini sangat bermanfaat besar bagi generasi mendatang untuk tahu sejarah dan peristiwa. Dia juga mengakui, perpustakaan ini lebih lengkap dari perpustakaan manapun di Indonesia, termasuk Museum Empu Tantular di Jakarta. "Saya sudah ke Jakarta, dan tak ada yang selengkap ini," pungkasnya.

Penulis: Sudharma Adi
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved