Liputan Khusus Klenik Politik
Unsur Mistik Warisan Nusantara
Ini terkait dengan sistem kepercayaan. Sebagian ke spiritual, tetapi banyak yang melarikannya ke tradisi mistik, bahkan klenik.
News Analysis
Mashuri
Budayawan dan Penulis
SURYA Online, SURABAYA - Fenomena banyaknya calon legislator (caleg) yang menggelar ritual di tempat-tempat yang dianggap bertuah, dalam kosmologi Jawa, ada keyakinan bahwa yang dilakukan manusia dan alam harus berimbang.
Ada harmoni antara jagad gede atau alam raya dan jagat cilik alias manusia.
Bagi mereka yang bisa menyelaraskan diri dengan alam, akan mendapatkan kekuatan dari alam tersebut.
Secara mikro, terdapat keyakinan bahwa tempat-tempat tertentu memiliki daya magis.
Ini terkait dengan sistem kepercayaan. Sebagian ke spiritual, tetapi banyak yang melarikannya ke tradisi mistik, bahkan klenik.
Banyak anggapan, orang Jawa suka mistik. Namun perlu digarisbawahi bahwa tradisi mistik tidak hanya ada di Jawa. Hampir semua orang Nusantara punya.
Dalam budaya Jawa, perilaku itu lumrah saja. Sistem kepercayaan di Jawa memang mengajarkan, bahwa tempat-tempat bertuah itu mujarab untuk berhubungan dengan kekuatan di luar diri manusia atau menggali kekuatan diri sendiri.
Akar dari keyakinan ini adalah penghayatan pada nilai ketuhanan dengan bingkai budaya spiritual.
Tempat yang pernah menjadi tilas sejarah dari peristiwa di masa lalu, bisa dijadikan seseorang untuk melakukan kontemplasi dan refleksi secara lebih mendalam, dengan berkaca dan belajar pada sejarah atau tilas leluhur.
Sebagai contoh, kita mulai dari berdirinya kerajaan Mataram.
Dalam Babad Tanah Jawi dijelaskan, berdirinya kerajaan Mataram Islam didahului dengan tapa brata yang dilakukan oleh Panembahan Senopati, alias Sutawijaya di beberapa tempat.
Mulai dari Kali Opak hingga gigir Pantai Laut Selatan. Bahkan ia dikabarkan beristri Kanjeng Ratu Kidul dan Penguasa Merapi.
Dengan kata lain, Panembahan Senopati berusaha menyeimbangkan kekuatan kosmos utara dan selatan, antara gunung dan laut.
Oleh karenanya, setelah itu, penguasa Mataram, baik Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, maupun Pakualaman, menaruh hormat pada dua tempat tersebut. Di sana kemudian dilakukan ritual tertentu.
Bekas tapa brata Panembahan Senopati, salah satunya seperti di Dlepih, menjadi tempat orang untuk ritual mencari pangkat.
Repotnya orang masa kini terbiasa ingin mendapat sesuatu secara instan.
Padahal yang dianjurkan itu adalah tapa bratanya. Proses menyelami dan membangun batin agar bisa mengemban amanah.
Apakah sebelum beliau (Panembahan Senopati) tidak ada yang demikian? Tentu saja ada. Kalau tidak tapa brata, mereka punya penasihat spiritual.
Saya juga menganggap fenomena ini tidak hanya terjadi pada mereka yang beragama Islam. Namun, yang jelas, Islam-Jawa memang memiliki keunikan sendiri.
Perlu diketahui, Jawa sebagai entitas kebudayaan memang sangat perkasa berperan sebagai kuali besar tempat bertemunya banyak kebudayaan.
Ia menerima, tetapi tidak takluk, meskipun seakan ditundukkan.
Ia mempersilakan budaya dari luar masuk, setelah itu membentuk budaya pendatang dengan ciri kejawaan yang kental.
Oleh untuk Islam di Jawa memang bermacam-macam ritualnya.
Apalagi Islam yang pertama-tama masuk ke Indonesia bersifat sufi, yang senada secara kebudayaan dengan budaya Jawa.
Banyak ritual Jawa yang sudah diislamkan. Meski demikian bagi kalangan islamolog, di Jawa itu berkembang Islam putihan, abangan, dan mungkin banyak yang abu-abu.
Untuk kalangan Islam putihan, biasanya kental dengan ritual ke makam-makam wali atau penyebar Islam.
Mereka berpandangan, makam-makam keramat dari para wali itu sebagai tempat tawassul yang bisa memberi keberkahan.
Adapun untuk yang abangan, ada yang ke punden, tempat keramat, bahkan juga makam orang suci juga.
Selain ritual ke tempat keramat, banyak juga yang ke dukun. Tidak hanya dukun politik, tetapi juga dukun santet.
Masyarakat, saya kira juga akan biasa saja, kecuali masyarakat tertentu yang memang mempersoalkannya.
Hal itu karena secara mental dan tradisi, masyarakat kita masih terjangkit budaya mistik.
Memang, secara empiris masyarakat kita itu modern, bahkan postmodern, tapi secara mental dan penalaran, banyak yang belum.
Jadi bagaimana semestinya masyarakat merespons? Semestinya, rakyat memilih caleg berintegritas, percaya diri dan memiliki jalan keagamaan yang tidak mendewakan tempat-tempat yang bisa memberikan mereka kemenangan.
Jika para caleg ke tempat itu hanya untuk menenangkan diri, refleksi, intropeksi, atau belajar keteladanan, maka itu bisa membangun batinnya agar kuat dan tangguh dalam mengemban amanat untuk menyuarakan aspirasi rakyat. (ben)