Teknologi
Marjuki Tak Perlu Mencari Kayu Bakar di Hutan Lagi
Marjuki mengatakan, sebelum ada biogas, dirinya harus mencari kayu bakar di hutan untuk memasak air dan juga memasak
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Satwika Rumeksa
Ia menuturkan, sebelumnya Koperasi Sapi Perah Setia Kawan, sempat mendapat bantuan dari LSM dari Belanda bernama Hivost. Namun kerjasama tersebut hanya berlangsung Februari 2009- Februari 2013. Kini program subsidi Rp 2 juta/kk untuk pembangunan reaktor biogas itu sudah dihentikan.
Padahal, kata Hariyanto, dalam setahun ditargetkan 100 rumah para peternak telah dipasang reaktor biogas. Oleh karenanya dia merasa sangat terbantu dengan adanya program CSR dari PGN.
Selama ini, lanjutnya, peternak sapi banyak yang mengambil kayu bakar dari hutan. Akibatnya, sumber air di wilayah tersebut mulai rusak karena banyak pohon yang ditebangi untuk dijadikan sebagai kayu bakar.
"Biaya untuk membuat satu reaktor berukuran 8 meter kubik sekitar Rp 9-10 juta. Sehingga kalau tidak ada stimulasi bantuan , masyarakat tidak akan mau memasang reaktor biogas di rumahnya," terangnya.
Setiap rumah dipasang sebuah reaktor nuklir untuk mengubah limbah kotoran sapi menjadi gas.
Kepala Pusat Pelayanan Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat (P4M) Universitas Brawijaya, Dr.Ir.Maftuch, MSi, menuturkan lembaga pihak ketiga dalam program tersebut adalah Badan dan Penelitian dan Pengabdian (BPP), Fakultas Teknik Brawijaya. Setiap rumah dipasang sebuah reaktor nuklir yang terdiri dari inlet, digester (penampung kotoran), otlet, dan instalasi pipa gas.
"Setiap KK juga mendapat kompor gas yang udah dimodifikasi sedemikian rupa, serta lampu petromak yang juga berbahan gas," terangnya.
Dalam setiap hari, setiap KK dengan reaktor biogas ukuran delapan kubik hanya perlu memasukan sebanyak 100 kg kotoran yang dicampur dengan air. Perbandingan antara air dengan kotoran sapi adalah 1:1.
"Dengan jumlah tersebut, sudah bisa dipakai untuk pemakaian selama satu hari," kata Maftuch.
Sayangnya, belum diketahui berapa banyak atau berapa lama gas dapat digunakan bila dipakai teruus menerus dalam sehari. Pihaknya, mengaku belum melakukan penelitian sejauh itu.
Dia mengatakan, selain bisa mendapatkan gas, warga juga bisa memanfaatkan sisa kotoran sapi yang telah mengalami proses fermentasi dan menghasilkan biogas. Pupuk tersebut sudah dapat diolah menjadi pupuk cair maupun pupuk padat, dan sudah bisa langsung digunakan.
"Jadi tidak ada yang terbuang, selain bisa diolah menjadi biogas. Ampasnya juga bisa dipakai sebagai pupuk," imbuhnya.
Biogas dapat mewujudkan upaya pelestarian lingkungan.
Humas Strategic Business Unit II PGN, Krisdyan Widagdo Adhi, mengatakan, program pemasangan instalasi biogas merupakan wujud perhatian PGN terhadap energi ramah lingkungan. "Ini merupakan salah satu bentuk dukungan kami terhadap energi ramah lingkungan, seperti halnya gas bumi," terangnya.
Pria yang akrab disapa Dodo ini mengatakan, dalam tahap awal ini PGN memberikan bantuan pemasangan instalasi biogas secara gratis terhadap 20 peternak yang tergabung dalam Koperasi Sapi Perah Setia Kawan. Program bantuan yang dijalankan pada akhir 2013 tersebut senilai Rp 170 juta.
Dia berharap, program tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Selain itu, program instalasi biogas juga dapat mewujudkan upaya pelestarian lingkungan di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/energi-biogas_20150806_163427.jpg)