Teknologi
Marjuki Tak Perlu Mencari Kayu Bakar di Hutan Lagi
Marjuki mengatakan, sebelum ada biogas, dirinya harus mencari kayu bakar di hutan untuk memasak air dan juga memasak
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Satwika Rumeksa
SURYA Online, PASURUAN- Marjuki (40) dan istrinya Tiari (40) kini tak perlu pergi jauh-jauh untuk mencari kayu bakar lagi. Pasalnya, pasangan suami istri yang bekerja sebagai peternak sapi ini baru saja mendapat bantuan berupa reaktor biogas. Kotoran sapi ternaknya kini dapat diubah menjadi bahan bakar gratis yang ia pakai setiap hari.
Marjuki mengatakan, sebelumnya, dirinya harus mencari kayu bakar di hutan untuk memasak air dan juga memasak. Sebagai peternak sapi perah, setiap jari dia membutuhkan air panas untuk membersihkan puting sapi sebelum dan sesudah diperas agar steril.
"Selama ini biasanya ya pakai kayu, untuk merebus air dan memasak," terang ayah tiga orang anak ini saat ditemui di rumahnya di Dusun Kombo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Kamis (9/1/2014) siang.
Dia menuturkan, saat ini dirinya mempunyai tiga ekor sapi dewasa, dan satu ekor sapi yang masih kecil. Sebelum dibangun reaktor gas di belakang rumahnya, kotoran dari ternaknya hanya dibuang dan tidak dimanfaatkan.
"Biasanya cuma dibuang, kalau tidak diminta sama tetangga untuk pupuk," terangnya.
Kini, di rumahnya telah terpasang reaktor biogas berukuran delapan kubik. Ia tak perlu susah-susah lagi untuk mencari kayu bakar. Selain itu, kini halaman belakang rumahnya tidak lagi dipenuhi kotoran sapi lagi.
"Senang, sekarang tinggal menyalakan api saja. Belakang rumah juga jadi lebih bersih," pungkasnya.
Senada juga dikatakan, Hidayatul Munawaroh (28). Ibu dua orang anak ini mengaku senang, karena tidak perlu membeli gas elpiji untuk kebutuhannya sehari-hari. Sebab, di rumahnya juga telah terpasang reaktor biogas.
"Setiap hari kan butuh untuk merebus air. Jadi setiap lima hari sekali harus beli gas elpiji yang tiga kiloan. Kalau sekarang sudah tidak perlu beli lagi," kata Munawaroh, yang mengaku sudah sekitar sebulan setengah menggunakan biogas dari kotoran sapi ini.
Peternak yang tergabung dalam Koperasi Peternakan Sapi Perah Setia Kawan ini mengatakan, dalam sehari dirinya membutuhkan 5 liter air rebus untuk seekor sapi. Selain untuk kebutuhan memeras susu, juga untuk mencampur pakan sapi.
Seekor sapi mampu menghasilkan 20-30 kilogram kotoran per harinya.
Sementar itu, pengurus Koperasi Peternakan Sapi Perah, Setia Kawan Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Hariyanto mengatakan, ada 7943 orang yang tergabung dalam koperasi. Namun, dari jumlah tersebut hanya 5000 orang yang aktif.
Sedangkan jumlah sapi perah yang dimiliki oleh anggota Koperasi Sapi Perah Setia Kawan, berjumlah sebanyak 1820 ekor. Padahal rata-rata, seekor sapi menghasilkan 20-30 kilogram kotoran per harinya. Sementara baru ada 1250 kepala keluarga (kk) yang memanfaatkan kotoran ternak sapi untuk biogas.
"20-30 kilogram per hari itu merupakan jumlah yang sangat banyak (kotoran sapi). Kalau tidak dikelola menjadi biogas itu akan menjadi masalah yang besar," pungkasnya.
Ia menuturkan, sebelumnya Koperasi Sapi Perah Setia Kawan, sempat mendapat bantuan dari LSM dari Belanda bernama Hivost. Namun kerjasama tersebut hanya berlangsung Februari 2009- Februari 2013. Kini program subsidi Rp 2 juta/kk untuk pembangunan reaktor biogas itu sudah dihentikan.
Padahal, kata Hariyanto, dalam setahun ditargetkan 100 rumah para peternak telah dipasang reaktor biogas. Oleh karenanya dia merasa sangat terbantu dengan adanya program CSR dari PGN.
Selama ini, lanjutnya, peternak sapi banyak yang mengambil kayu bakar dari hutan. Akibatnya, sumber air di wilayah tersebut mulai rusak karena banyak pohon yang ditebangi untuk dijadikan sebagai kayu bakar.
"Biaya untuk membuat satu reaktor berukuran 8 meter kubik sekitar Rp 9-10 juta. Sehingga kalau tidak ada stimulasi bantuan , masyarakat tidak akan mau memasang reaktor biogas di rumahnya," terangnya.
Setiap rumah dipasang sebuah reaktor nuklir untuk mengubah limbah kotoran sapi menjadi gas.
Kepala Pusat Pelayanan Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat (P4M) Universitas Brawijaya, Dr.Ir.Maftuch, MSi, menuturkan lembaga pihak ketiga dalam program tersebut adalah Badan dan Penelitian dan Pengabdian (BPP), Fakultas Teknik Brawijaya. Setiap rumah dipasang sebuah reaktor nuklir yang terdiri dari inlet, digester (penampung kotoran), otlet, dan instalasi pipa gas.
"Setiap KK juga mendapat kompor gas yang udah dimodifikasi sedemikian rupa, serta lampu petromak yang juga berbahan gas," terangnya.
Dalam setiap hari, setiap KK dengan reaktor biogas ukuran delapan kubik hanya perlu memasukan sebanyak 100 kg kotoran yang dicampur dengan air. Perbandingan antara air dengan kotoran sapi adalah 1:1.
"Dengan jumlah tersebut, sudah bisa dipakai untuk pemakaian selama satu hari," kata Maftuch.
Sayangnya, belum diketahui berapa banyak atau berapa lama gas dapat digunakan bila dipakai teruus menerus dalam sehari. Pihaknya, mengaku belum melakukan penelitian sejauh itu.
Dia mengatakan, selain bisa mendapatkan gas, warga juga bisa memanfaatkan sisa kotoran sapi yang telah mengalami proses fermentasi dan menghasilkan biogas. Pupuk tersebut sudah dapat diolah menjadi pupuk cair maupun pupuk padat, dan sudah bisa langsung digunakan.
"Jadi tidak ada yang terbuang, selain bisa diolah menjadi biogas. Ampasnya juga bisa dipakai sebagai pupuk," imbuhnya.
Biogas dapat mewujudkan upaya pelestarian lingkungan.
Humas Strategic Business Unit II PGN, Krisdyan Widagdo Adhi, mengatakan, program pemasangan instalasi biogas merupakan wujud perhatian PGN terhadap energi ramah lingkungan. "Ini merupakan salah satu bentuk dukungan kami terhadap energi ramah lingkungan, seperti halnya gas bumi," terangnya.
Pria yang akrab disapa Dodo ini mengatakan, dalam tahap awal ini PGN memberikan bantuan pemasangan instalasi biogas secara gratis terhadap 20 peternak yang tergabung dalam Koperasi Sapi Perah Setia Kawan. Program bantuan yang dijalankan pada akhir 2013 tersebut senilai Rp 170 juta.
Dia berharap, program tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Selain itu, program instalasi biogas juga dapat mewujudkan upaya pelestarian lingkungan di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/energi-biogas_20150806_163427.jpg)