Rabu, 15 April 2026

Teknologi

Marjuki Tak Perlu Mencari Kayu Bakar di Hutan Lagi

Marjuki mengatakan, sebelum ada biogas, dirinya harus mencari kayu bakar di hutan untuk memasak air dan juga memasak

Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Satwika Rumeksa
Antarafoto/ Adhitya Hendra
Kepala Pusat Pelayanan Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat (P4M) Universitas Brawijaya, Maftuch (tiga kiri), memberikan penjelasan tentang hasil energi reaktor biogas, kepada Kepala Humas Strategi Bisnis Unit (SBU) Distribusi Wilayah II Perusahaan Gas Negara (PGN), Krisdyan Widagdo (kiri) dan Staf Tanggung Jawab Sosial Lingkingan (TJSL) Distribuisi Wilayah II PGN, Sutopo (dua kiri), di Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Pasuruan, Jatim, Kamis (9/1). Perusahaan Gas Negara (PGN) bekerjasama dengan Universitas Brawijaya, lewat kegiatan CSR memberikan bantuan kepada masyarakat dengan membuatkan reaktor biogas untuk mewujudkan masyarakat yang swadaya energi . ANTARA FOTO/Adhitya Hendra/EI/ed/ama/14. 

SURYA Online, PASURUAN- Marjuki (40) dan istrinya Tiari (40) kini tak perlu pergi jauh-jauh untuk mencari kayu bakar lagi. Pasalnya, pasangan suami istri yang bekerja sebagai peternak sapi ini baru saja mendapat bantuan berupa reaktor biogas. Kotoran sapi ternaknya kini dapat diubah menjadi bahan bakar gratis yang ia pakai setiap hari. 

Marjuki mengatakan, sebelumnya, dirinya harus mencari kayu bakar di hutan untuk memasak air dan juga memasak. Sebagai peternak sapi perah, setiap jari dia membutuhkan air panas untuk membersihkan puting sapi sebelum dan sesudah diperas agar steril.

"Selama ini biasanya ya pakai kayu, untuk merebus air dan memasak," terang ayah tiga orang anak ini saat ditemui di rumahnya di Dusun Kombo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Kamis (9/1/2014) siang.

Dia menuturkan, saat ini dirinya mempunyai tiga ekor sapi dewasa, dan satu ekor sapi yang masih kecil. Sebelum dibangun reaktor gas di belakang rumahnya, kotoran dari ternaknya hanya dibuang dan tidak dimanfaatkan.

"Biasanya cuma dibuang, kalau tidak diminta sama tetangga untuk pupuk," terangnya.

Kini, di rumahnya telah terpasang reaktor biogas berukuran delapan kubik. Ia tak perlu susah-susah lagi untuk mencari kayu bakar. Selain itu, kini halaman belakang rumahnya tidak lagi dipenuhi kotoran sapi lagi.

"Senang, sekarang tinggal menyalakan api saja. Belakang rumah juga jadi lebih bersih," pungkasnya.

Senada juga dikatakan, Hidayatul Munawaroh (28). Ibu dua orang anak ini mengaku senang, karena tidak perlu membeli gas elpiji untuk kebutuhannya sehari-hari. Sebab, di rumahnya juga telah terpasang reaktor biogas.

"Setiap hari kan butuh untuk merebus air. Jadi setiap lima hari sekali harus beli gas elpiji yang tiga kiloan. Kalau sekarang sudah tidak perlu beli lagi," kata Munawaroh, yang mengaku sudah sekitar sebulan setengah menggunakan biogas dari kotoran sapi ini.

Peternak yang tergabung dalam Koperasi Peternakan Sapi Perah Setia Kawan ini mengatakan, dalam sehari dirinya membutuhkan 5 liter air rebus untuk seekor sapi. Selain untuk kebutuhan memeras susu, juga untuk mencampur pakan sapi.

 

Seekor sapi mampu menghasilkan 20-30 kilogram kotoran per harinya.

Sementar itu, pengurus Koperasi Peternakan Sapi Perah, Setia Kawan Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Hariyanto mengatakan, ada 7943 orang yang tergabung dalam koperasi. Namun, dari jumlah tersebut hanya 5000 orang yang aktif.

Sedangkan jumlah sapi perah yang dimiliki oleh anggota Koperasi Sapi Perah Setia Kawan, berjumlah sebanyak 1820 ekor. Padahal rata-rata, seekor sapi menghasilkan 20-30 kilogram kotoran per harinya. Sementara baru ada 1250 kepala keluarga (kk) yang memanfaatkan kotoran ternak sapi untuk biogas.

"20-30 kilogram per hari itu merupakan jumlah yang sangat banyak (kotoran sapi). Kalau tidak dikelola menjadi biogas itu akan menjadi masalah yang besar," pungkasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved