Gadis Penghibur di Malang
Banyak Pelanggan, Bisa Booking Berjam-Jam
Baik Agita maupun Silvi, saat ini menjadi tulang punggung keluarga.
SURYA Online, MALANG - Agita, teman seprofesi Silvi di rumah karaoke itu juga tercatat masih duduk di bangku sekolah.
Remaja 18 tahun itu juga bekerja agar tetap bisa sekolah. Dia mengatakan, tidak mungkin bisa mengandalkan penghasilan orang tuanya untuk bisa bersekolah.
Ayah Agita bekerja sebagai kuli bangunan. Sedangkan ibunya sehari-hari mengurus rumah.
Agita bekerja di tempat karaoke itu atas ajakan kakak kandungnya.
Tiga bulan lalu sang kakak menikah dan memilih berhenti menjadi pemandu lagu.
Baik Agita maupun Silvi, saat ini menjadi tulang punggung keluarga.
Silvi rutin mengirim uang orang tuanya untuk biaya hidup dan biaya sekolah adik-adiknya.
”Saya kumpulkan tips dari tamu. Kalau terkumpul, baru saya kirim ke orang tua. Untungnya mereka tidak curiga darimana kami ini dapat uang. Mereka hanya tahu anaknya bekerja di cafe. Itu saja,” imbuh Silvi diiyakan Agita.
Di usia yang masih bau kencur, Silvi dan Agita sudah mengantongi uang yang cukup banyak.
Kalau tempat karaoke mereka penuh, satu pemandu bisa sampai dibooking berjam-jam.
Tidak sedikit tamu yang menginginkan kimcil seperti mereka.
Untuk urusan booking out, Silvi tidak menolak. Hanya memang dia tidak mau sembarangan menerima tawaran.
Silvi tergolong berani. Dia memberikan nomor ponselnya kepada Surya bila hendak mengajak kencan.
”Jangan sampai tahu mami (germo). Nanti saya dapatnya sedikit. Potongan booking fee mami gede banget. Contohnya, kalau dia buka Rp 1,5 juta, aku cuma dapat separohnya,” ungkap Silvi. Karena itu, jarang sekali dia menerima job dari maminya.
Berbeda dengan Silvi, Agita malu-malu saat ditanya layanan booking fee.
Dia tidak menolak dan tidak pula menerima permintaan Surya.
”Kalau mau itu (booking fee) ngomong sama mami ya,” pintanya.
Dia mengaku, takut menerima booking fee karena maminya bisa marah.
Hukuman yang diterima pemandu lagu yang menerima kencan di luar sepengetahuan mami juga tidak main-main.
”Saya bisa dipecat dari sini kalau tidak lewat mami. Saya kan terikat kontrak,” akunya.
Silvi dan Agita hanyalah dua orang dari ratusan anak di bawah umur yang terjerembab di dunia kelam prostitusi.
Mereka sebenarnya menunggu diselamatkan negara. Hanya memang penyelenggara pemerintahan di sana tutup mata dengan praktik tempat hiburan malam yang menyimpang.
Kawasan wisata menjadi dalih sehingga tidak ada upaya penegakan hukum yang nyata. (idl)