Jumat, 17 April 2026

Komunitas Arek arek Diving Club

Seminggu Sekali Menyelam untuk Latihan Fisik

Menyelam (diving) tak lagi terbatas olahraga khusus. Semua bisa mempelajarinya sekaligus untuk menikmati keindahan dunia bawah laut Indonesia.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin

SURYA Online, SURABAYA - Kegiatan menyelam (diving) tidak lagi terbatas sebagai olahraga khusus. Semua orang bisa mempelajarinya sekaligus menikmati manfaat menyelam untuk menikmati keindahan dunia bawah laut wilayah Indonesia.

Hal itulah yang mendasari terbentuknya komunitas Arek Arek Diving Club (A2CD) Surabaya. Mereka menjaadi komunitas terbuka untuk para warga kota Surabaya yang ingin belajar dan berlatih menyelam. Tak hanya itu, dalam komunitas ini, kemampuan menyelam pun bisa berlanjut dengan berpergian ke tempat wisata bawah laut yang dinikmati dengan cara menyelam.

"Kami memang membuka bagi seemua yang ingin belajar dan berlatih selam. Agar keindahan alam bawah laut Indonesia itu tidak hanya dinikmati wisatawan asing saja," kata Ditto Widyandi, sekretaris komunitas A2DC, di sela latihannya di kolam renang Surabaya Plaza Hotel (SPH).

Kegiatan latihan satu minggu sekali tiap hari Kamis di kolam renang SPH merupakan waktu yang terbuka untuk menerima peserta baru dan para penyelam yang sudah ahli untuk latihan.

Komunitas ini, lanjut Ditto memiliki dua instruktur. Mereka inilah yang memberi materi dan pembelajaran menyelam. Tak hanya itu, dalam komunitas ini juga menjadi ajang berbagi dalam pengalaman dan jaringan bila ada yang ingin berlibur ke tempat wisata laut.

Selain Ditto, dalam latihan itu juga banyak anggota lain yang asyik "nyemplung" di kolam berukuran 50 meter x 18 meter dengan kedalaman hingga 4 meter itu. Salah satunya keluarga Hendro Luhur. Hendro bersama istrinya, Maria Christinawaty, dan dua anaknya, Johana Tarsisia Luhur, dan Aldorino Jonathan Gladwyn Luhur.
Berempat mereka asyik menyelam hingga dasar kolam. "Sebernarnya masih ada putri pertama saya, Clara Daniella Luhur, yang juga hobi menyelam. Tapi sekarang sedang kuliah di Malang, jadi tidak bisa ikut latihan," jelas Hendro.

Latihan untuk mereka, meski hanya di kolam renang dan rutin, merupakan bagian dari menjaga stamina dan ketrampilan dalam menyelam. Meskipun menyelam lebih banyak dilakukan untuk menikmati keindahan bawah laut.

Bagi keluarga Hendro, mereka memiliki pengalaman dan sesuatu yang berbeda dalam menikmati kebersamaan. Salah satunya saat merayakan ulang tahun Johana yang ke 15.

"Kami merayakannya di wisata bawah laut Berau, Derawan, Kalimantan Timur. Prosesi meniup lilin di atas kue ultah buatan yang bisa dibawa menyelam," cerita Hendro.

Keluarga inipun hampir setiap tahun, berkunjung ke tempat wisata bawah laut di Indonesia. Mulai dari Pulau We, diujung barat Indonesia, setelah pulau Sumatera, hingga ke Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Kami masih bersiap untuk ke Raja Ampat Papua. Penasaran dengan keindahan yang diberitakan," lanjut Johanna.

Sementara bagi Ditto, yang sudah mengenal menyelam sejak tahun 2007, dia bisa mendapatkan ketenangan yang mengasyikkan. "Bila melihat ke sesuatu yang menarik dan indah, umumnya penuh keramaian dan banyak suara. Tapi ketika kita menikmati keindahan bawah laut, kita menemukan keindahannya tanpa keramaian. Karena suara yang kita dengar hanyalah suara gelembung udara," ungkap Ditto.

Selain itu, mereka juga memiliki jaringan yang luas untuk sama-sama menikmati penyelaman di tempat wisata. "Misalnya saja kita ada anggota yang punya kenalan atau teman di daerah Sulawesi. Bisa dikontak ketika kita ingin ke Wakatobi. Biasanya lewat cara ini, kita bisa mendapatkan fasilitas yang mudah dan meringankan," lanjut Ditto.

Di antaranya, tidak perlu membawa peralatan berat seperti tabung saat berangkat dari Surabaya. Cukup bawa kostum dan peralatan ringan saja, selanjutnya di tempat yang dituju bisa mendapatkan pinjaman tabung oksigen atau menyewa. Sehingga lebih mudah dan ringan.

Ketua komunitas A2DC, Syaifullah Maulana, menambahkan bila latihan yang dilakukan seminggu sekali ini, juga bermanfaat untuk melatih keseimbangan naik turun dalam air. “Perlengkapan diving itu sangat berat. Apalagi tabung oksigennya. Makanya butuh keseimbangan untuk naik dan turunnya,” lanjut pria yang akrab disapa Ipul itu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved