Sabtu, 6 Juni 2026

Liputan Khusus Taksi Plat Hitam

Mimpi Bandara Pakai Argo Taksi

“Kalau saja, layanan taksi ini pakai argometer, seperti di Jakarta dan lainnya, pasti akan lebih sempurna,” tutur Usman.

Tayang:

SURYA Online, SURABAYA - Pengunjung Bandara Juanda, Usman Hadi cukup akrab dengan bandara internasional tersebut.

Banyaknya aktivitas luar kota dan luar pulau membuatnya biasa mondar-mandir bandara yang terletak di perbatasan Sidoarjo-Surabaya tersebut.

Pemuda berusia 27 tahun mengaku secara umum cukup puas dengan layanan yang dikelola PT Angkasa Pura I tersebut.

Hanya sedikit catatan kecil yang menurutnya perlu peningkatan.

Satu di antaranya, soal layanan taksi, yang mayoritas masih menggunakan tarif zoning, bukan argometer.

“Kalau saja, layanan taksi ini pakai argometer, seperti di Jakarta dan lainnya, pasti akan lebih sempurna,” tutur Usman.

Pengalaman selama ini, Usman merasakan tidak pilihan dalam menggunakan taksi.

Pilihan armada memang ada. Bisa pilihan armada jenis sedan, Toyota Avanza, atau Innova.

Yang tidak ada adalah pilihan tarif. Sebab semuanya pakai tarif zoning, yang nilainya terbilang tinggi.

“Ada yang murah, naik bus Damri. Tapi itu hanya sampai terminal (Purabaya) dan butuh nyambung kendaraan lain untuk sampai ke rumah. Kalau mau langsung sampai rumah, pilihannya cuma taksi. Risikonya itu tadi, mahal sekali,” ungkap Usman.

Sebenarnya saat ini sudah ada taksi argometer di bandara. Taksi ini mulai beroperasi Juli 2013 lalu.

Tetapi menurut Usman tetap belum optimal. Usman pernah putar-putar mencari, tapi taksi ini kosong. Semuanya sudah berangkat mengantar penumpang.

“Ya akhirnya pakai taksi biasanya (tanpa argo),” keluhnya.

Taksi jenis argometer ini memang jumlahnya hanya 30 unit.

Keluhan Usman asal Sidoarjo ini serasa mewakili barisan panjang pengunjung yang memimpikan layanan taksi argometer di Juanda.

Barisan panjang pemimpi taksi argo itu terlihat jelas dalam survei Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) tahun 2010.

Survei itu memotret Kebutuhan Land Transportation Bandara Internasional Juanda Surabaya.

Termasuk harapan dan keinginan konsumen angkutan bandara.

Ada 1.000 penumpang bandara yang menjadi responden. Namun hanya 907 responden yang memberikan jawaban item kebutuhan taksi argo atau non argo.

Dari jumlah itu sebanyak 677 responden atau sekitar 73,4 persen menyatakan menginginkan taksi argometer.  

“Ini jelas menunjukkan, pentingnya pengelola Juanda mempertimbangkan penerapan taksi argometer di Juanda,” jelas Said Sutomo, Ketua YLPK Jatim pekan lalu.

Taksi non argometer digandoli keberadaannya.  Ada 230 responden atau sekitar 24.8% menyatakan kurang dan tidak setuju bandara diisi taksi argometer.  

Mereka ini berpadangan taksi tanpa argo tidak selalu memberatkan. (ab/idl/iit)

Tags
ilegal
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved