Bom Surabaya

3 Fakta Cara Pelaku Bom Bunuh Diri Gereja & Polrestabes Surabaya 'Racuni' Anak dan Istri

Serangan bom bunuh diri di 3 gereja dan Mapolrestabes Surabaya mengguncang dunia, karena melibatkan pelaku sekeluarga.

Penulis: Fatkhul Alami | Editor: Tri Mulyono
youtube
Dita Oeprianto dan keluarganya melakukan aksi bom bunuh diri bersama-sama di 3 gereja di Surabaya. 

SURYA.CO.ID - Serangan bom bunuh diri di 3 gereja dan Mapolrestabes Surabaya mengguncang dunia.

Pasalnya, pengebom bunuh diri mengajak istri dan anak-anaknya yang masih kecil dalam serangan keji tersebut.

Mereka 'meracuni' anak-anak dan istrinya tentang doktrin terorisme sehingga meyakini bahwa aksi bom bunuh diri bisa mengantarkan mereka masuk surga bersama-sama sekeluarga.

Baca: VIDEO - Fakta Mengejutkan Tentang Kakak Beradik yang Ikut Orangtuanya Bom 3 Gereja di Surabaya

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI) asal Lamongan Jawa Timur, Ali Fauzi menyebut aksi bom bunuh diri sekeluarga itu meniru aksi di Suriah dan Irak.

Para pelaku bom bunuh diri sekeluarga meyakini bisa masuk surga setelah melakukan aksinya.

Sekali kali, menurut keyakinan mereka, dengan mengajak anak-anak dan istrinya beraksi maka mereka bisa bersama-sama masuk surga kelak. 

Salah satu pertanyaan besar publik terkait aksi tak manusiawi ini adalah bagaimana cara mereka menciptakan bom tersebut.

Pertanyaan juga tertuju kepada bagaimana cara mereka bisa belajar merakit bom dan mengajarkan doktrin sesat.

Baca: Miris! Pelaku Bom Polrestabes Surabaya Tinggalkan Utang Belasan Juta, Pengakuan Tetangga Bikin Syok

Baca: Kisah Pilu 4 Anak Bomber yang Selamat, Polisi Sebut Ada Campur Tangan Tuhan, Begini Kondisinya

Baca: Prediksi Awal Puasa dan Lebaran 2018 - 1 Syawal 1439 dari Kota Malang Indonesia

Rumah Tri Murtiono di Jalan Tambak Medokan Ayu VI Surabaya.
Rumah Tri Murtiono, pelaku bom bunuh diri, di Jalan Tambak Medokan Ayu VI Surabaya. (Tribun Jatim/Nur Ika Anisa)

Tribunjatim.com  dan Surya.co.id merangkum fakta-fakta bagaimana cara para teroris belajar membuat bom dan teknik serangan, doktrin terorisme dan antisipasi polisi.

Belajar meraikit bom melalui internet

Bom yang banyak meledak di Suabaya berjenis sama yaitu bom pipa.

Beberapa bahan peledak seperti black powder, h2o, aseton, stereoform dan korek api ditemukan.

Semua ditemukan di rumah milik tersangka.

Juga beberapa buku dokumen dan pesan tertulis yang telah menjadi barang bukti kepolisian.

Sejauh ini akhirnya terungkap sumber informasi mereka mempelajari merakit bom-bom tersebut.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebut jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) wilayah Surabaya memiliki keahlian merakit bom pipa melalui internet.

Para pelaku bom bunuh diri yang beraksi di Surabaya dan Sidoarjo, memiliki keahlian merakit bom melalui online training atau belajar dari internet.

"Mereka banyak belajar dari online, cara membuat TTATP online juga ada."

"Sementara yang kami deteksi membuatnya online," kata Tito di Mako Polrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018).

Bahan bom rakitan tersebut memiliki bahan peledak TTATP (triaceton triperocid).

Dikatakan Tito bahan itu sangat dikenal oleh anggota kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Namun, pihaknya mengatakan masih melakukan penyelidikan terkait pembuat bom yang juga dikenal bernama 'The Mother of Satan' itu.

Disampaikan Tito, sudah ada tujuh yang tertangkap dan satu ditembak mati  terkait JAD Surabaya.

"Mengenai teknis siapa pembuatnya dan lain-lain, investigasi masih berjalan. Nanti setelah pemeriksaan tuntas akan kami sampaikan," tuturnya.

Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Roni Faisal Saiful Fatron, Kasatresnarkoba Polrestabes Surabaya saat menyelamatkan Ais (7), bocah kecil yang juga anak pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018).
Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Roni Faisal Saiful Fatron, Kasatresnarkoba Polrestabes Surabaya saat menyelamatkan Ais (7), bocah kecil yang juga anak pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018). (surya/istimewa)

2. Perketat Pengawasan Media Sosial (Medsos)

Menanggapi hal-hal baru yang semakin berkembang di kalangan teroris ini, polisi bertindak.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian meminta pengaturan penggunaan medsos yang berbau kegiatan terorisme diperketat.

Hal itu disebabkan, kelompok terorisme kerap memanfaatkan internet untuk menyebarkan paham dan cara membuat bom rakitan.

"Banyak sekali online-online training, website, teoritikal, dan lain-lain ya, yang masuk, membuat pemahaman mereka menjadi berubah dan cara membuat bom," kata Tito Karnavian di Mako Polrestabes Surabaya, selasa (15/5/2018).

Ditambahkan Tito, cara pengaturan penggunaan medsos ini dikatakan Tito yaitu membuat MoU dengan provider.

"Ini (pengaturan penggunaan) medsos ini salah satunya dengan membuat MoU dengan provider."

"Bahkan, bila perlu digunakan juga aturan khusus," kata Tito.

Kepolisian membantu warga untuk mengosongkan area rumah warga hingga radius 350 meter di Tambak Medokan Ayu, Rungkut Surabaya, Selasa (15/5/2018).
Aparat mengosongkan area rumah warga hingga radius 350 meter, tempat kediaman pelaku bom bunuh diri, di Tambak Medokan Ayu, Rungkut Surabaya, Selasa (15/5/2018). (SURYAOnline/Khairul Amin)

3. Larang Anak-anak Sekolah, Tiap Minggu Didoktrin

Pelaku serangan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo ternyata merupakan satu jaringan.

Sebanyak 13 pelaku yang tewas ini pemimpinnya adalah yakni Dita Oeprianto (sebelumnya tertulis Supriyanto).

Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin menjelaskan, para pelaku ini belajar ke Dita untuk melakukan teror.

Mereka ini melakukan pertemuan setiap minggu di rumah Dita di Rungkut Surabaya.

"Mereka ini satu jaringan, satu guru. Gurunya Dita ini. Mereka didoktrin pemahaman-pemahaman teror," jelas Machfud di Mapolda Jatim, Selasa (15/5/2018) pagi.

Machfud menuturkan, mereka berkumpul setiap minggu sejak lama. Mereka melakukan doktrin dan melihat film-film soal terorisme.

Tidak hanya para orang tua, kata Machfud, anak-anaknya juga ikut menjalani doktrin dari Dita.

"Bahkan, anak-anak pelaku dilarang sekolah. Kalau ditanya home schooling, itu tidak benar. Ya tak boleh sekolah.

Anak-anak didoktrin terus ditontonkan video aksi terorisme," ucap Machfud.

Orang nomor satu di Polda Jatim ini mengatakan, ada satu anak dari pelaku Sidoarjo yang tak mau ikut.

Dia memilih ikut neneknya dan memutuskan sekolah.

Machfud menerangkan, para pelaku kompak melakukan serangan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo ini lantaran ini ingin masuk surga.

 "Mereka (pelaku) ini ingin masuk surga bareng-bareng," kata Machfud.

(TribunJatim.com/Nur Ika Annisa/Surya.co.id/Fatkhul Alamy)

Baca: 3 Kehebohan yang Pernah Dibuat Gogon Srimulat, Bikin Emosi Tessy hingga Bongkar Pernikahan Tukul

Baca: Ketakutan Ayu Ting Ting Mengetahui Ibu Bawa Anak-anaknya Lakukan Bom Bunuh Diri

Baca: Kelakuan Wanita Pengebom Polrestabes Surabaya ke Warga Sebelum Beraksi Sungguh Tak Disangka

Baca: Astaga Masih Ada Bom Lagi? Terindikasi Ada Bahan Peledak di Rumah Kontrakan Tri Murtiono

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved