Citizen Reporter

Ssstt Ada Lumba-lumba di Secarik Batik Tanggamus

jangan salah, Tanggamus tak hanya memiliki tapis, tetapi juga batik unik dengan motif-motif unik dan bermakna filosofis...

Ssstt Ada Lumba-lumba di Secarik Batik Tanggamus
dokumentasi Katerina S
Tapis Tanggamus 

Catatan perjalanan Katerina
Blogger/traveller
fb.com/katerina s

MENERIMA undangan Dinas Pariwisata Tanggamus untuk mengikuti rangkaian Festival Teluk Semaka ke-8, salah satu kegiatannya adalah Tour D’Semaka. Kami mengunjungi sejumlah objek wisata alam di Tanggamus sekaligus mengenal batik Tanggamus.

Selama ini saya anggap kain tradisional Lampung hanya tapis. Ternyata provinsi paling selatan di Sumatra ini memiliki batik unik khas Tanggamus.

Kabupaten di Lampung dengan ibu kotanya Kota Agung dihuni mayoritas suku Lampung asli, yang lainnya warga pendatang. Kota Agung menjadi ibu kota Kabupaten Tanggamus sejak berdirinya Kabupaten Tanggamus, medio 1997.

Kota yang relatif masih muda ini merupakan kota lama yang terletak di kaki Gunung Tanggamus dan di tepi utara Teluk Semaka. Desa-desa yang ada di sekitar Teluk Semaka seperti Tampang, Kaur Gading, Tirem dihubungkan oleh pelabuhan laut lokal.

Tapis Sai Tanggom menjadi motto warga Kabupaten Tanggamus. Sedangkan Bung Lumba menjadi simbol Kabupaten Tanggamus. Simbol ini terkenal seantero Tanggamus hingga luar daerah Tanggamus. Tak heran, berjalan ke sudut-sudut kota, banyak diumpai gambar lumba-lumba. Nah, ikon lumba-lumba inilah yang dipindahkan menjadi motif batik Tanggamus.

Sanggar Ratu binaan Dekranasda Tanggamus di Pekon Banding Agung, Kecamatan Talang Padang menjadi jujugan kami menyelami batik Tanggamus. Omansyah Adok Minak Jaga, menjadi perajin batik Tanggamus andal di sana.

Menurut Hendra Ferry, SE MM, sekretaris umum yang mendampingi istri Bupati Tanggamus, Dewi Handajani, SE MM, yang juga Ketua Umum Dekranasda Tanggamus, Sanggar Ratu menjadi wadah para perajin lokal, juga sarana promosi handycraft Kabupaten Tanggamus, baik itu batik, taapis, maupun lainnya.

Tak sebagaimana batik yang selama ini saya kenal yaitu batik tulis, di sini batik-batik dikerjakan dengan cara dicap di kain. Cara ini memang lebih cepat, efisien, dan ekonomis. Saya menjumpai beberapa kain dalam pola, motif, dan warna berbeda-beda. Ketidaksamaan tersebut ternyata menyelaraskan pesan yang ingin disampaikan pembuatnya.

Satu motif punya makna tertentu, biasanya berkaitan dengan kepentingan adat dan agama. Itu sebabnya motif bukan sekadar ilustrasi, tetapi memiliki makna dan filosofi.

Beberapa motif batik Tanggamus selain motif Bung Lumba, ada juga bunga Kamphai (buah tomat kecil/ cherry) dan motif batik Sanggi yang kental dengan nuansa pesisirnya. Ada gambar ketinting atau jukung (perahu khas Lampung), cadik, pohon ara (pohon kehidupan) dan nelayan.

Selain batik, di sanggar ini juga tersedia kain tapis dan sulam usus. Semuanya karya warga binaan.

Menurut Ibu Oman, motif dan desain, mereka yang tentukan, lalu perajin membuatnya berdasarkan pesan. Harga satu helai kain tapis berkisar dari Rp 800 ribu hingga Rp 3 juta. Bahkan, Rp 8 juta. Biasanya dibuat berdasarkan pesanan khusus.

Berminat?

 


 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved