Kamis, 21 Mei 2026

Wingko Babat Kelapa Hijau 1918, Kemasan Lebih Modern Justru Buka Pasar Baru

Wingko Babat Cap Kelapa Hijau kini tampil lebih modern tanpa meninggalkan cita rasa tradisionalnya.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: irwan sy
Nur Ika Anisa/TribunJatim.com
WINGKO BABAT - Pemilik Wingko Babat Cap Kelapa Hijau, Nazareno Herlambang, menunjukan produknya yang kini tampil lebih modern tanpa meninggalkan cita rasa tradisionalnya di Grand City Mall Surabaya, Rabu (3/9/2025). Wingko Babat adalah salah satu kuliner legendaris Jawa Timur yang berasal dari Lamongan, dan Wingko Babat Kelapa Hijau sendiri merupakan usaha keluarga yang sudah berjalan sejak 1918. 

SURYA.co.id, SURABAYA – Wingko Babat Cap Kelapa Hijau kini tampil lebih modern tanpa meninggalkan cita rasa tradisionalnya.

Wingko Babat adalah salah satu kuliner legendaris Jawa Timur yang berasal dari Lamongan.

Wingko Babat Kelapa Hijau sendiri merupakan usaha keluarga yang sudah berjalan sejak 1918 dan kini dikelola oleh generasi keenam, Nazareno Herlambang atau akrab disapa Reno.

Reno berupaya menghidupkan kembali kudapan khas Lamongan tersebut dengan kemasan dan variasi rasa yang lebih sesuai selera anak muda.

“Dulu yang menikmati wingko ini kebanyakan orang tua. Sekarang saya coba kemas lebih modern dan ternyata bisa membuka segmen pasar baru,” kata Reno saat ditemui di Grand City Mall Surabaya, Rabu (3/9/2025).

Jika dahulu wingko berbentuk gepeng besar, Reno menghadirkan versi mini yang bisa dinikmati dalam dua hingga tiga gigitan saja.

Perubahan ini dilakukan agar wingko tidak cepat membuat eneg saat disantap.

Selain ukuran, variasi rasa juga semakin beragam.

Tidak hanya original, kini tersedia pilihan rasa kopi, cokelat, durian, nangka, keju hingga kurma.

Semua tetap berbahan dasar tepung, kelapa muda, dan gula, seperti resep turun-temurun keluarga.

“Ayah orang Babat Lamongan, dan dari kecil sudah dikenalkan makanan ini, seringnya makan ini. Sekarang, saya memacu diri sendiri untuk menumbuhkan bisnis ini dan ingin mengedukasi sekaligus mengenalkan ke orang-orang. Ternyata produk lama bisa bersaing dengan makanan kekinian,” ungkapnya.

Wingko babat kini dikemas dalam kotak berisi 12 bungkus dengan desain lebih menarik.

Perubahan ini jauh berbeda dengan era kakeknya, yang hanya membungkus wingko menggunakan kertas sederhana.

Desain dalam packaging menurutnya sangat penting untuk industri kuliner saat ini.

Salah satu daya tarik untuk mengenalkan kuliner tradisional kepada anak-anak muda.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved