Senin, 11 Mei 2026

Mendiktisaintek di ITS: Riset Kampus Tak Boleh Berhenti di Laboratorium

Mendiktisaintek Brian Yuliarto meminta kampus mempercepat hilirisasi riset agar inovasi langsung dimanfaatkan industri.

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Sulvi Sofiana
KAJIAN SUBUH - Rektor ITS Prof Bambang Pramujati, ST, MSc Eng, PhD bersama Mendiktisaintek RI Prof Brian Yuliarto, ST, MEng, PhD ketika memasuki masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya, Jawa Timur, untuk Kajian Subuh pada Sabtu (8/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Mendiktisaintek Brian Yuliarto meminta kampus mempercepat hilirisasi inovasi agar riset bisa dimanfaatkan industri dan mendukung program nasional.
  • Saat mengunjungi ITS Surabaya, Brian menyoroti inovasi kendaraan listrik hingga alat pertanian yang dinilai potensial untuk dikembangkan lebih luas.
  • ITS mengakui proses hilirisasi masih menghadapi tantangan karena keterlibatan industri dan dukungan kebijakan belum optimal.

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto meminta perguruan tinggi mempercepat pengembangan dan hilirisasi inovasi, agar hasil riset kampus bisa langsung dimanfaatkan industri maupun mendukung program prioritas nasional pemerintah.

Hal itu disampaikan Brian saat meninjau berbagai hasil riset dan inovasi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur (Jatim) pada Sabtu (8/5/2026).

Menurutnya, karya-karya yang dihasilkan perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada tahap penelitian semata. Kampus harus mampu menghadirkan solusi nyata yang dapat digunakan masyarakat maupun dunia industri.

“Perguruan tinggi memiliki karya-karya hasil penelitian, hasil tugas akhir mahasiswa, penelitian dosennya, karya-karya inovasi dari para guru besar dan lain-lain itu diharapkan bisa mendukung program-program prioritas nasional yang telah dicanangkan Presiden,” kata Brian.

Riset Kampus Diminta Selaras Program Pemerintah

Brian menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto meminta agar arah pengembangan riset di perguruan tinggi diselaraskan dengan target nasional pemerintah.

Dengan begitu, riset dan inovasi kampus tidak berjalan sendiri tanpa keterkaitan dengan kebutuhan negara maupun industri.

“Industri-industri kami ajak ke kampus, di sisi lain kami juga mendorong riset-riset di kampus dipercepat dan diselaraskan dengan program-program pemerintah baik di BUMN, kementerian maupun industri,” ujarnya.

Dalam kunjungannya ke ITS Surabaya, Brian melihat sejumlah inovasi yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas.

Beberapa di antaranya yakni kendaraan listrik, traktor pertanian, hingga alat bantu panen kelapa yang dianggap relevan dengan kebutuhan nasional saat ini.

“Nah itu diharapkan sekarang lebih di-inline-kan, sehingga area-area ini bisa segera digunakan. Hampir di semua negara industri maju memang ditopang oleh riset-riset yang kuat di perguruan tinggi,” katanya.

ITS Akui Hilirisasi Masih Jadi Tantangan

Sementara itu, Rektor ITS, Bambang Pramujati, mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya mempercepat hilirisasi inovasi, agar hasil riset kampus bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat dan industri.

“Kami dititipi agar inovasi-inovasi di ITS selaras dengan program-program yang dicanangkan pemerintah, sehingga apa yang kami hasilkan benar-benar dibutuhkan,” ujarnya.

Namun, Bambang mengakui proses hilirisasi inovasi di perguruan tinggi masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterlibatan industri dan dukungan kebijakan pemerintah.

“Proses hilirisasi itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak produk inovasi yang kami hasilkan, tetapi proses hilirisasinya belum semudah yang kami harapkan,” katanya.

Ia menyebut hingga kini belum sampai 25 persen produk inovasi ITS berhasil dihilirisasikan secara optimal.

Fokus pada Kemandirian Pangan dan Energi

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved