Sabtu, 9 Mei 2026

Dari Demam Hingga ARDS, Pakar Unair Jelaskan Bahaya Infeksi Hantavirus

Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berat selama pelayaran lintas negara. 

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
istimewa/Laura Navika Yamani
HANTAVIRUS - Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani SSi MSi PhD. Kemunculan klaster dugaan hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius baru-baru ini menjadi perhatian dunia kesehatan internasional. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kemunculan klaster dugaan hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius baru-baru ini menjadi perhatian dunia kesehatan internasional.

Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berat selama pelayaran lintas negara. 

Peristiwa tersebut kembali menyoroti ancaman penyakit zoonosis di tengah tingginya mobilitas global.

Tidak Muncul Secara Mendadak

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani SSi MSi PhD menjelaskan hantavirus umumnya tidak muncul secara mendadak di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. 

Baca juga: Apa Itu Virus Hanta yang Ramai Diperbincangkan? Dampaknya Fatal, Ahli Ungkap Beda dengan Covid-19

Menurutnya, kemungkinan besar paparan terjadi sebelum perjalanan atau ketika individu berada di wilayah dengan populasi hewan pengerat yang menjadi reservoir virus.

“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Karena itu, kasus baru bisa muncul ketika seseorang sudah berpindah lokasi,” ujarnya kepada SURYA.co.id, Jumat (8/5/2026).

Perluas Jangkauan Deteksi Kasus

Laura menambahkan, perjalanan lintas negara melalui jalur laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus tanpa secara langsung menunjukkan lokasi awal infeksi. 

Hal tersebut membuat pelacakan epidemiologi menjadi semakin penting.

Ia menjelaskan bahwa hantavirus menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, maupun air liur hewan pengerat yang terinfeksi. 

Penularan dapat terjadi saat seseorang menghirup partikel yang telah terkontaminasi di udara.

“Kondisi lingkungan dengan populasi tikus tinggi menjadi faktor yang meningkatkan risiko infeksi,” jelas Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair tersebut.

Penyebaran Hantavirus

Laura menuturkan, sebagian besar jenis hantavirus tidak menular antarmanusia. 

Namun, beberapa strain tertentu seperti Andes virus memiliki kemampuan transmisi terbatas antar manusia. 

Karena itu, investigasi epidemiologi dan analisis genomik diperlukan untuk memastikan pola penyebaran virus yang terjadi.

Selain faktor mobilitas manusia, perubahan lingkungan juga dinilai turut memengaruhi distribusi reservoir penyakit. 

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved