Kamis, 7 Mei 2026

Kenaikan Harga BBM

Imbas Harga BBM Naik: Sopir Truk di Gresik Cemas Solar Subsidi Langka

Harga BBM non-subsidi naik, sopir truk dan pengusaha bus di Gresik cemas hadapi kelangkaan solar subsidi yang ancam mobilitas logistik.

Tayang:
Penulis: Willy Abraham | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Willy Abraham
SOLAR SUBSIDI LANGKA - Agung, sopir truk di Gresik,saat ditemui SURYA.co.id di Jalan Kapten Darmosugondo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (6/5/2026). Ia mengeluhkan pasokan solar subsidi yang mulai langka di SPBU, sebagai dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, 
Ringkasan Berita:
  • Harga BBM non-subsidi jenis Dexlite dan Pertamina Dex resmi mengalami kenaikan cukup tajam.
  • Sopir truk dan pengusaha bus di Gresik mulai mengeluhkan kelangkaan solar subsidi di sejumlah SPBU.
  • Tingginya disparitas harga memicu peralihan konsumsi yang mengancam stabilitas sektor transportasi.

SURYA.CO.ID, GRESIK - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi mulai membawa rentetan dampak bagi para pelaku angkutan darat. Sopir truk dan pengusaha bus di Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim), kini dibayangi kecemasan akibat munculnya kelangkaan solar subsidi di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Kondisi ini dirasakan langsung oleh Agung (45), seorang sopir truk yang kerap beroperasi di kawasan Jalan Kapten Darmosugondo, Kecamatan Kebomas, Gresik.

Pria yang telah 10 tahun melayani jasa transportasi logistik perusahaan tersebut, mengeluhkan pasokan solar subsidi yang mulai tersendat di lapangan.

"Kalau bilang dampak ya jelas ke masyarakat. Kami cuma kerja saja, dampaknya berantai. Kalau bisa jangan dinaikkan lah, solarnya kalau bisa normal tidak sampai tersendat-sendat," ujar Agung saat ditemui SURYA.co.id, Rabu (6/5/2026).

Baca juga: Solar Non-Subsidi Naik, Ekonom Unair Minta Pemprov Jatim Siapkan Subsidi

Pengusaha Angkutan Mulai Was-was

Senada dengan Agung, Afandi, seorang pengusaha jasa bus pariwisata asal Kota Gresik, juga mulai ketar-ketir. Ia membenarkan bahwa imbas naiknya harga BBM non-subsidi justru membuat ketersediaan solar bersubsidi sering kosong di SPBU.

"Keluhan kemarin banyak yang kosong, di beberapa SPBU akhirnya memicu kelangkaan. Mudah-mudahan tidak ada wacana kenaikan harga untuk solar bersubsidi," ungkap Afandi.

Hingga akhir bulan ini, ia menegaskan tarif sewa armada busnya belum mengalami perubahan. Namun, jika kelangkaan berlarut atau harga solar subsidi benar-benar dinaikkan, penyesuaian tarif yang memberatkan masyarakat tak lagi bisa dihindari.

Baca juga: Harga Solar Non-Subsidi Naik, Pasir Lumajang Jadi Lebih Mahal 30 Persen

Ancaman Berantai bagi Sektor Transportasi

Afandi merinci sejumlah dampak berantai apabila distribusi solar subsidi terus terganggu bagi roda perekonomian. Berikut sejumlah risiko utamanya:

  • Biaya Sewa Melonjak Tajam: Harga sewa bus, tarif angkutan umum, hingga layanan kargo logistik otomatis akan dikerek naik.
  • Beban Tambahan Sektor Lain: Kenaikan biaya transportasi akan menjalar pada melonjaknya harga pangan, hingga tarif pendukung pariwisata seperti rumah makan dan penginapan.
  • Nasib Pekerja Harian Terancam: Biaya operasional yang membengkak berisiko menggerus pendapatan harian para pekerja lapangan, khususnya sopir dan kernet.

Disparitas Harga Picu Peralihan Konsumsi

Sebagai informasi, PT Pertamina memang telah mengerek harga BBM non-subsidi secara signifikan. Harga Dexlite melonjak tajam dari Rp 23.600 menjadi Rp 26.000 per liter, sementara Pertamina Dex dikerek dari Rp 23.900 menjadi Rp 27.900 per liter.

Meski harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar saat ini tidak naik, melebarnya jarak (disparitas) harga yang terlampau jauh antara produk subsidi dan non-subsidi justru menjadi akar masalah baru di lapangan.

Menurut pandangan para pengamat energi, tingginya disparitas harga ini membuat solar subsidi menjadi incaran menggiurkan bagi pihak-pihak yang sebenarnya tidak berhak. Fenomena shifting atau peralihan konsumsi inilah yang mengakibatkan kelangkaan masif di SPBU, sekaligus menjadi beban serius yang bisa melumpuhkan rantai pasok logistik secara nasional.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved