Kenaikan Harga BBM
Harga Solar Non Subsidi Melonjak, Aptrindo Jatim Siapkan Strategi Bertahan
Pengusaha truk Jatim mengeluhkan kenaikan solar non subsidi dan sulitnya akses BBM subsidi untuk operasional armada.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Cak Sur
Ringkasan Berita:
- Pengusaha truk di Jawa Timur menghadapi selisih harga BBM hingga Rp 20.100 per liter antara solar subsidi dan Pertamina Dex.
- Kendala teknis pada aplikasi MyPertamina dan penghapusan barcode secara sepihak menyulitkan akses solar subsidi bagi armada logistik.
- Aptrindo Jatim mulai mengurangi jumlah armada operasional dan melakukan penggiliran jadwal untuk menekan kerugian operasional.
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Para pengusaha truk yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Timur (Jatim), kini tengah menghadapi badai ketidakpastian operasional. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamina Dex dan Dexlite yang melonjak tajam, memaksa para penyedia jasa logistik ini memutar otak demi menghindari kebangkrutan.
Kondisi ini diperparah dengan sulitnya akses mendapatkan solar subsidi (Biosolar). Akibatnya, pengusaha seringkali terpaksa membeli BBM non subsidi dengan harga berkali-kali lipat lebih mahal, untuk memastikan armada tetap berjalan tepat waktu sesuai komitmen klien.
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Aptrindo Jatim, Sundoro, mengungkapkan bahwa situasi ini merupakan pukulan telak bagi industri logistik di wilayah Jawa Timur.
Menurutnya, margin keuntungan pengusaha terus tergerus karena struktur kontrak dengan klien umumnya bersifat tetap (fixed price).
"Jadi kami harus siap sedia beli solar non subsidi bila solar subsidi susah didapat. Dan pasti itu masuk dalam kerugian biaya operasional kami," tegas Sundoro saat memberikan keterangan resmi di Surabaya, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Solar Non-Subsidi Naik, Ekonom Unair Minta Pemprov Jatim Siapkan Subsidi
Tiga Masalah Utama Distribusi BBM bagi Logistik
Dalam analisisnya, SURYA.CO.ID mencatat ada tiga poin krusial yang saat ini menghimpit para pengusaha truk di lapangan:
- Kegagalan Sistem MyPertamina: Pengusaha diwajibkan menggunakan barcode aplikasi MyPertamina untuk membeli solar subsidi. Namun, dalam prakteknya, sistem seringkali mengalami malfungsi. Sundoro menyebut, banyak akun yang terhapus tiba-tiba tanpa pemberitahuan, memaksa pengusaha mengulang proses pendaftaran dari nol yang memakan waktu lama.
- Kelangkaan Solar Subsidi di Jalur Distribusi: Saat armada menempuh perjalanan jauh, ketersediaan solar subsidi di SPBU seringkali nihil. Kondisi memaksa supir mengisi Pertamina Dex yang harganya meroket hingga Rp 26.900 per liter, berbanding jauh dengan harga solar subsidi yang hanya Rp 6.800 per liter.
- Kontrak Harga Mati (Fixed Price): Sebagian besar kontrak pengiriman sudah ditandatangani jauh-jauh hari dengan acuan harga operasional BBM subsidi. Ketika terjadi lonjakan biaya akibat penggunaan BBM non-subsidi, pengusaha tidak bisa membebankan biaya tersebut kepada konsumen secara instan.
Baca juga: Imbas Harga BBM Naik: Sopir Truk di Gresik Cemas Solar Subsidi Langka
Dampak Ekonomi dan Strategi Bertahan Hidup
Selisih harga yang mencapai lebih dari Rp 20.000 per liter antara solar subsidi dan Pertamina Dex, menjadi ancaman nyata bagi stabilitas logistik daerah. Jika masalah ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan terjadi efek domino pada kenaikan harga barang pokok di tingkat konsumen.
Sebagai langkah antisipatif, berikut strategi yang kini diterapkan oleh para anggota Aptrindo Jatim untuk tetap bertahan:
- Pengurangan Operasional Armada: Pengusaha mulai memangkas jumlah truk yang beroperasi. Misalnya, dari 10 unit yang tersedia, hanya 9 unit yang dijalankan.
- Sistem Rotasi Armada: Penggunaan truk dilakukan secara bergantian untuk meminimalisir risiko kerusakan dan menjaga ketersediaan kas operasional.
- Efisiensi Rute: Melakukan pemetaan ulang jalur distribusi guna mencari rute yang paling minim konsumsi bahan bakar.
"Kami harus ada strategi untuk mengatasi masalah ini. Armada yang dioperasionalkan juga bergantian. Sehingga waktunya menjadi panjang, namun ini adalah cara paling masuk akal saat ini untuk meminimalisir kerugian," pungkas Sundoro.
Kini, para pengusaha berharap pemerintah dan Pertamina segera membenahi sistem distribusi solar subsidi agar lebih tepat sasaran dan meminimalisir kendala teknis pada aplikasi, demi menjaga stabilitas rantai pasok nasional.
Pertamina Dex
Dexlite
Surabaya
Aptrindo Jatim
pengusaha truk Jawa Timur
bbm subsidi
Sundoro
solar subsidi
kenaikan BBM April 2026
logistik Indonesia
ekonomi Jawa Timur
berita bisnis terbaru
Meaningful
Multiangle
Pertamina
MyPertamina
SURYA.co.id
| BBM Non-Subsidi Naik, Nelayan Gresik Lebih Cemas Solar Subsidi Tersendat |
|
|---|
| Imbas Harga BBM Naik: Sopir Truk di Gresik Cemas Solar Subsidi Langka |
|
|---|
| Harga Solar Non-Subsidi Naik, Pasir Lumajang Jadi Lebih Mahal 30 Persen |
|
|---|
| Solar Non-Subsidi Naik, Ekonom Unair Minta Pemprov Jatim Siapkan Subsidi |
|
|---|
| Nelayan Surabaya Belum Terdampak Kenaikan Harga BBM Tapi Tetap Waswas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/antrean-truk-sebelum-masuk-ke-dermaga-pelabuhan-Tanjung-Perak-Surabaya.jpg)