SNBT 2026
Unesa Ungkap Modus Canggih Joki UTBK, Dari Data AI hingga Blangko KTP
Praktik perjokian dalam pelaksanaan UTBK 2026 kembali terungkap, kali ini dengan modus yang semakin canggih.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- UTBK 2026 di Unesa terungkap praktik joki dengan jaringan terorganisir, memakai teknologi canggih dan dokumen palsu.
- Analisis AI mendeteksi foto sama dipakai di dua pendaftaran berbeda, memicu pengawasan ketat hingga pelaku mengaku sebagai joki.
- Dokumen dimanipulasi dengan foto palsu, barang bukti ditemukan, kasus dilaporkan ke polisi, dan pelaku serta peserta dijoki langsung di-blacklist.
SURYA.co.id, SURABAYA - Praktik perjokian dalam pelaksanaan UTBK 2026 kembali terungkap, kali ini dengan modus yang semakin canggih.
Panitia di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menemukan indikasi kuat adanya jaringan terorganisir yang memanfaatkan teknologi hingga pemalsuan dokumen.
Terdeteksi dari Analisis Berbasis AI
Kasus ini terdeteksi dari analisis data berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk mencocokkan identitas peserta lintas tahun.
Dari hasil tersebut, ditemukan satu foto dengan tingkat kemiripan hingga 95 persen yang digunakan pada dua pendaftaran berbeda.
Baca juga: Wamendikdasmen Soroti Joki UTBK 2026 di Surabaya: Pelaku Terancam Sanksi Berat
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni UNESA, Prof. Dr. Martadi, M.Sn menjelaskan, foto tersebut sebelumnya muncul pada UTBK 2025, namun peserta tidak hadir.
Pada tahun ini, foto yang sama kembali digunakan dengan identitas berbeda.
“Dari data awal yang kami miliki menggunakan AI, ditemukan foto dengan tingkat kemiripan hampir 95 persen yang digunakan di dua SPMB yang berbeda,” ujarnya.
“Ketika kami bandingkan dengan data tahun lalu, ternyata fotonya sama persis tetapi namanya berbeda. Ini yang kemudian memicu kecurigaan kami,” imbuhnya.
Berbekal temuan tersebut, panitia melakukan pengawasan lebih ketat.
Jaringan Joki Terstruktur
Saat peserta yang dicurigai hadir, panitia tetap memperbolehkan mengikuti ujian hingga selesai, sebelum akhirnya dilakukan pendalaman.
“Hasilnya yang bersangkutan mengaku sebagai joki,” kata Martadi.
Dari pengakuan tersebut, terungkap bahwa pelaku merupakan bagian dari jaringan yang bekerja secara terstruktur.
Ia direkrut melalui pertemuan di sebuah kafe dan hanya mengenal satu perantara.
“Mereka direkrut di sebuah kafe dan tidak saling mengenal antar joki. Ini menunjukkan pola jaringan yang terorganisir,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/memanfaatkan-teknologi-hingga-pemalsuan-dokumen.jpg)