Kamis, 30 April 2026

Harga Tabung LPG Non Subsidi Naik, Pengusaha Kafe dan Resto di Jawa Timur Kelimpungan

Pertamina Patra Niaga menetapkan harga baru untuk Tabung LPG Non Subsidi, ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram.

Tayang:
Surya.co.id/Febrianto Ramadani
DILEMA - Suasana salah satu kafe di Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Senin siang (20/4/2026). Harga tabung LPG Non Subsidi naik membuat pengusaha fafe dan resto yang tergabung dalam Apkrindo, mengalami dilema 
Ringkasan Berita:
  • Harga LPG non subsidi naik sejak 18 April 2026. Tabung 5,5 kg jadi Rp 107.000, tabung 12 kg Rp 228.000.
  • Apkrindo Jatim sebut kenaikan menekan margin usaha kuliner, sulit langsung naikkan harga menu.
  • Pelaku usaha pilih efisiensi, dengan kurangi waste, revisi porsi/menu, bahkan opsi beralih ke LNG/CNG.  

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Asosiasi Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur, mengaku dilema lantaran dihadapkan situasi kenaikan harga Tabung LPG Non Subsidi.

Sebagai informasi, PT Pertamina Patra Niaga menetapkan harga baru untuk Tabung LPG Non Subsidi, ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram.

Penyesuaian Harga Elpiji

Berdasarkan situs resmi mypertamina.id, harga baru ini berlaku di seluruh Indonesia. Penyesuaian tersebut mulai terjadi pada 18 April 2026.

Baca juga: Warga Sulit Cari Elpiji 3 Kilogram, DPRD Jombang Desak Perbaikan Distribusi

Harga yang berlaku untuk wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, untuk Tabung LPG 5,5 kilogram tercatat naik sebesar Rp 17.000, dari Rp 90.000 menjadi Rp 107.000 per tabung. 

Sedangkan kemasan 12 kilogram dibanderol seharga Rp 228.000 atau mengalami kenaikan sebesar Rp 36.000 dari harga sebelumnya

Biaya Operasional Restoran/Kafe Ikut Terimbas

Ketua Umum Apkrindo Jawa Timur Ferry Setiawan mengatakan, biaya operasional restoran/kafe akan naik lantaran LPG adalah komponen penting untuk dapur.

“Kenaikan harga akan menekan margin usaha kuliner. Namun, pelaku usaha sulit langsung menaikkan harga menu Karena daya beli konsumen sedang sensitif,” ujar Ferry kepada SURYA.co.id, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, jika harga makanan naik terlalu cepat, tentu menyebabkan jumlah pelanggan bisa berkurang. Akibatnya memicu gejolak usaha.

“Kami minta pemerintah menjaga stabilitas energi. Kami berharap ada kepastian harga dan pasokan, agar tidak ada huru hara kenaikan harga jual ke customer,” ucapnya.

Efisiensi Jadi Pilihan Utama

Ferry juga tidak menampik, jika upaya yang hanya bisa dilakukan, dan menjadi pilihan utama bagi pelaku usaha, adalah efisiensi.

“Banyak pelaku usaha bakal menekan waste, optimalkan produksi, atau revisi porsi atau menu makanan,” tuturnya.

Langkah tersebut, lanjut Ferry, dinilai masuk akal daripada langsung menaikkan harga makanan maupun minuman.

“Ada salah satu pilihan, yakni menggunakan Gas Alam LNG dan CNG,” tandas Ferry.

BACA BERITA SURYA.CO.ID LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved