Selasa, 28 April 2026

Canggih, Doktor ITS Ciptakan AI Pendeteksi Depresi Lewat Status Media Sosial

Lulusan S3 ITS Dr Gede Aditra Pradnyana ciptakan inovasi AI DeXMAG. Sistem ini deteksi depresi lewat jejak digital secara akurat

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
istimewa/Dokumen pribadi
INOVASI - Dr Gede Aditra Pradnyana SKom MKom saat menyampaikan tahapan awal penelitian pada Konferensi Internasional FUZZ-IEEE di Korea Selatan pada tahun 2023. 
Ringkasan Berita:
  • Dr Gede Aditra Pradnyana mengembangkan AI bernama DeXMAG yang mendeteksi depresi dari jejak digital media sosial.
  • Sistem menggunakan pendekatan multimodal deep learning yang menganalisis teks, gambar, dan tipe kepribadian MBTI.
  • Inovasi ini ditujukan untuk deteksi dini non-intrusif bagi mereka yang enggan ke psikolog.

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Fenomena mencurahkan isi hati atau 'curhat' di media sosial kini bisa menjadi data berharga untuk memantau kesehatan mental. 

Dr Gede Aditra Pradnyana, lulusan program doktoral Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), berhasil mengembangkan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mendeteksi depresi melalui riwayat penggunaan media sosial (medsos).

Inovasi ini memanfaatkan data jejak digital pengguna, baik berupa teks maupun gambar, untuk mengenali indikasi depresi secara lebih cepat dan non-intrusif. Sistem ini dirancang sebagai langkah awal deteksi dini, sebelum individu melakukan pemeriksaan klinis lebih lanjut ke profesional.

Aditra mengungkapkan, inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap kasus bunuh diri akibat depresi yang masih menjadi isu kemanusiaan serius. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang enggan berkonsultasi ke psikolog atau psikiater.

“Sebagian orang justru lebih sering mengekspresikan perasaan gelisah atau persoalan hidup melalui media sosial,” kata Aditra, Jumat (20/2/2026).

Cara Kerja Teknologi DeXMAG

Dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) ini menjelaskan, model yang dikembangkannya bernama DeXMAG. Sistem ini merupakan gabungan metode Cross-Modal Attention dan Adaptive Gated Fusion dengan fitur Myers Briggs Type Indicator (MBTI).

Berikut adalah komponen canggih dan cara kerja sistem pendeteksi depresi tersebut:

  • Analisis Multimodal: Sistem menganalisis unggahan teks menggunakan model RoBERTa dan gambar menggunakan model VGG-16.
  • Analisis Kepribadian: Menggunakan GloVe-BiLSTM untuk memproses data kepribadian pengguna secara personal.
  • Indikator MBTI: Menemukan kaitan antara indikasi depresi dengan delapan sifat kepribadian (perceiving, judging, intuition, thinking, feeling, introversion, sensing, dan extroversion).
  • Output Visual: Hasil analisis ditampilkan dalam bentuk diagram radar agar mudah dipahami pengguna awam.

Aditra menekankan, bahwa pendekatan multimodal yang menggabungkan berbagai jenis data terbukti lebih efektif dibandingkan metode konvensional.

"Studi yang dilakukan menunjukkan setiap data linguistik dan visual memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja sistem," lanjut alumnus Universitas Udayana tersebut.

Mendukung SDGs dan Kesejahteraan Mental

Integrasi teknologi ini, diharapkan dapat dimanfaatkan secara luas melalui fitur aplikasi. Tujuannya jelas, yakni membantu masyarakat mendeteksi kerentanan depresi sejak dini tanpa rasa takut.

“Harapannya, pendekatan ini dapat membantu banyak orang dalam mengambil langkah awal mengenali kondisi kesehatan mental mereka,” tuturnya.

Penelitian disertasi ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera, serta tujuan kesembilan mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur.

Aditra menilai, kolaborasi antara teknologi AI dan kesehatan mental digital adalah kunci solusi inovatif untuk kesejahteraan psikologis masa depan.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved