PDIP Jatim Getol Kritik Opsi Wacana Pilkada Tak Langsung, Ini Alasannya

PDI Perjuangan termasuk yang getol menyuarakan kritikan atau penolakan terhadap wacana opsi Pilkada tidak langsung. 

Surya.co.id/Yusron Naufal Putra
KRITIK - Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim Deni Wicaksono saat ditemui dalam kegiatan Konferda dan Konfercab PDI Perjuangan di Surabaya, Sabtu (20/12/2025). PDI Perjuangan getol menyuarakan kritikan atau penolakan terhadap wacana opsi Pilkada tidak langsung. 

Ringkasan Berita:
  • PDI Perjuangan getol suarakan kritikan atau penolakan terhadap wacana opsi Pilkada tidak langsung. Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim Deni Wicaksono sebut wacana ini jadi ancaman serius terhadap kedaulatan rakyat yang telah diperjuangkan.
  • Menurut Deni, Pilkada langsung merupakan buah perjuangan reformasi.
  • Deni sebut melalui Pilkada langsung yang selama ini berjalan banyak pemimpin inovatif muncul. Seperti Tri Rismaharini di Kota Surabaya. Ganjar Pranowo yang pernah menjadi Gubernur Jawa Tengah

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Wacana pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD atau Pilkada tak langsung saat ini terus bergulir dengan pro kontra.

Hingga saat ini, PDI Perjuangan termasuk yang getol menyuarakan kritikan atau penolakan terhadap wacana opsi Pilkada tidak langsung. 

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim Deni Wicaksono mengkritisi wacana tersebut.

Baca juga: Pro Kontra Wacana Pilkada Dipilih DPRD, Golkar Sikapi Santai Penolakan Parpol Lain

Meskipun sejumlah pihak yang menyetujui wacana ini menggulirkan narasi bahwa Pilkada di DPRD dapat mengurangi beban anggaran penyelenggaraan. 

Namun, wacana ini dinilai menjadi ancaman serius terhadap kedaulatan rakyat yang telah diperjuangkan.

PDIP Kritik Keras

Sehingga, PDIP Jatim termasuk yang mengkritik keras bergulirnya wacana perubahan sistem Pemilihan kepala daerah atau Pilkada. 

“Jika ditelaah lebih dalam, gagasan ini justru berpotensi menggerus substansi demokrasi Indonesia dan merampas hak konstitusional rakyat,” kata Deni saat dikonfirmasi dari Surabaya, Rabu (7/1/2026). 

Menurut Deni, Pilkada langsung merupakan buah perjuangan reformasi.

Sebagai informasi, Jika dilihat dalam sejarah demokrasi di tanah air, kepala daerah memang pernah dipilih oleh DPRD. Pilkada secara langsung baru digelar mulai 2005.

Deni mengingatkan, buah perjuangan reformasi tak boleh dilupakan begitu saja.

“Menghapus sistem ini sama artinya dengan menghapus salah satu capaian paling fundamental dari gerakan reformasi 1998,” jelas Deni yang juga Wakil Ketua DPRD Jatim tersebut. 

Berdampak pada Iklim Demokrasi

Deni mengulas bagaimana wacana sistem Pilkada tidak langsung ini bisa berdampak terhadap iklim demokrasi.

Salah satunya, potensi politik transaksional jika pemilihan kepala daerah dilakukan secara tidak langsung. Berbeda halnya dengan Pilkada langsung. 

“Pemilihan langsung melibatkan jutaan mata rakyat sebagai pengawas,” ungkqp Deni. 

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved