Ketua DPRD Gresik Bedah Sejarah Giri–Lombok dalam Seminar Nasional Ini
Seminar ini mengusung tema besar Giri-Lombok, Kolaborasi Lintas Pilar Menuju Kedaulatan Sejarah dan Budaya Bangsa
Penulis: Willy Abraham | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir dalam Seminar Nasional Naskah Nusantara di Universitas Islam NegeriMataram, Kota Mataram, NTB menjelaskan tentang jejak sejarah Sunan Prapen dan Ikatan Giri–Lombok
- Menurut Syahrul, hubungan historis harus terus dikaji untuk memperkuat pemahaman tentang perjalanan peradaban kedua daerah
- Seminar tersebut mempertemukan tokoh, akademisi, dan budayawan untuk menelisik kembali hubungan peradaban antara Giri (Gresik) dan Lombok
SURYA.CO.ID, GRESIK - Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, tampil sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Naskah Nusantara yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diprakarsai oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Manuskripedia.
Seminar ini mengusung tema besar Giri-Lombok, Kolaborasi Lintas Pilar Menuju Kedaulatan Sejarah dan Budaya Bangsa.
Baca juga: Ramp Check Jelang Nataru, Polres Gresik Ingatkan Angkutan Umum Tidak Langgar Standar Keselamatan
Syahrul menyebut forum tersebut menjadi momentum penting bagi Diplomasi Kebudayaan Gresik-Lombok yang secara historis memiliki hubungan panjang, terutama dalam penyebaran Islam.
Sejarah dan Ikatan Giri-Lombok
Jejak sejarah Sunan Prapen dan Ikatan Giri–Lombok dikatakan Syahrul menjelaskan bahwa hubungan Lombok dan Gresik tidak dapat dilepaskan dari sejarah dakwah Sunan Prapen, cucu Sunan Giri, yang menjadi tokoh penting dalam Islamisasi Lombok pada abad ke-16.
"Ajaran Islam yang kini mendominasi kehidupan masyarakat Lombok dibawa langsung dari pusat spiritual Giri Kedaton di Gresik," ujar Syahrul sapaan akrabnya, dalam rilis yang dikirimkan, Kamis (11/12/2025).
Baca juga: DPRD Gresik Sahkan 4 Ranperda Baru, Di Antaranya Tentang Perlindungan PMI Dan Pengolahan Limbah
Sejumlah bukti sejarah seperti Masjid Bayan Beleq dan makam raja-raja Selaparang menjadi indikator kuat pengaruh dakwah Sunan Prapen yang menggabungkan nilai Islam dengan budaya lokal.
Pola dakwah Sunan Prapen, menurut kajian para peneliti, berlangsung secara damai namun tetap memperlihatkan ketegasan, mulai dari demonstrasi militer, syiar menggunakan rebana, permohonan petunjuk melalui salat sunnah, hingga pendekatan persuasif kepada para penguasa lokal.
Interaksi Sunan Prapen dengan Prabu Rangkesari, penguasa Lombok waktu itu, menjadi titik penting percepatan Islamisasi Lombok.
“Hubungan historis inilah yang harus terus dikaji untuk memperkuat pemahaman tentang perjalanan peradaban kedua daerah,” ujar Syahrul.
Majukan Kebudayaan Lewat Regulasi dan Program Pendidikan
Peran pemerintah Gresik pelestarian sejarah dan tradisi, Syahrul juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Gresik terus mendorong upaya pemajuan kebudayaan melalui regulasi dan program pendidikan.
Salah satunya melalui Perda Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah serta hadirnya muatan lokal Sejarah Gresik di sekolah-sekolah.
"Pelestarian kebudayaan masih menghadapi tantangan. Mulai dari belum optimalnya rencana induk pariwisata daerah, tumpang tindih kewenangan pelestarian, hingga lemahnya organisasi pengelola wisata. Kajian seperti ini penting agar ada afirmasi baru mengenai data dan sejarah Sunan Prapen yang nantinya bisa memperkaya materi muatan lokal Gresik,” ungkapnya.
Syahrul berharap seminar ini dapat memperkuat pertukaran ilmu dan kebudayaan antara Gresik dan Lombok.
Kajian lintas daerah, menurutnya, bukan hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga menjadi pijakan revitalisasi tradisi dan penguatan identitas budaya bangsa.
“Pelestarian sejarah dan budaya bukan hanya kewajiban satu generasi, tetapi amanah yang harus hidup dari generasi ke generasi,” katanya.
Pertemukan Tokoh, Akademisi dan Budayawan
Seminar tersebut mempertemukan para tokoh, akademisi, dan budayawan untuk menelisik kembali hubungan peradaban antara Giri (Gresik) dan Lombok.
Kegiatan ini menghadirkan Keynote Speaker Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dan Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal.
Sementara pengantar diskusi disampaikan oleh Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan serta Founder Manuskripedia, Wahyu Muryadi.
Selain Syahrul, sejumlah narasumber turut hadir, di antaranya budayawan Lombok T.G. Hasan Basri Marwah, pemerhati budaya Ir. Wahyudi, akademisi UIN Mataram Prof. Dr. H. Jumarim, M.HI., serta budayawan Sumbawa H. Yadi Surya Diputra, S.Sos.I., M.A.
BACA BERITA SURYA.CO.ID LAINNYA DI GOOGLE NEWS
| Sosok Bung Tiok, Pelukis Gitar Lumajang yang Karyanya Tembus Pasar Dunia |
|
|---|
| Diam-diam Dilantik Jadi Dirjen SDA Kementerian PU, Ini Profil Mayjen Purn Arnold Ritiauw |
|
|---|
| Khofifah Ungkap Stok Sapi Kurban Jatim Melimpah: Surplus 550 Ribu Ekor |
|
|---|
| KA Sangkuriang Resmi Hubungkan Banyuwangi-Bandung, Tiket Perdana Ludes |
|
|---|
| Jelang Idul Adha 2026, Harga Daging dan Sembako Surabaya Tetap Terkendali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Syahrul-Munir-di-mataram.jpg)