Alasan Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo Peringatkan Indonesia Akan Menghadapi Triple Crisis
Gatot Nurmantyo memperingatkan Indonesia menghadapi triple crisis. Ia menilai deindustrialisasi menjadi akar masalah ekonomi nasional.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Putra Dewangga Candra Seta
Ringkasan Berita:
- Gatot Nurmantyo menyebut Indonesia menghadapi triple crisis: deindustrialisasi dini, tekanan fiskal, dan kerapuhan rupiah.
- Menurutnya, melemahnya industri nasional memicu PHK, memperbesar sektor informal, dan menurunkan daya saing ekonomi.
- Penyusutan sektor formal dinilai berdampak pada penerimaan pajak
- Gatot mendorong reindustrialisasi produktif dan memperingatkan sejumlah indikator ekonomi yang menurutnya perlu diwaspadai agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih serius.
SURYA.co.id – Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo mengingatkan adanya potensi tekanan serius terhadap perekonomian Indonesia yang menurutnya berasal dari tiga persoalan utama atau triple crisis.
Peringatan tersebut disampaikan dalam forum purnawirawan TNI yang dihadiri sejumlah perwira tinggi purnawirawan dari tiga matra.
Dalam paparannya, Gatot menilai ancaman tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi berbagai persoalan struktural yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menyebut tiga faktor utama yang perlu menjadi perhatian, yakni deindustrialisasi dini, tekanan terhadap fiskal negara, dan kerapuhan nilai tukar rupiah.
Menurut Gatot, ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan berpotensi menciptakan siklus tekanan ekonomi apabila tidak segera direspons melalui kebijakan yang tepat.
Deindustrialisasi Dinilai Menjadi Akar Masalah
Gatot menilai persoalan paling mendasar saat ini adalah melemahnya sektor industri nasional.
Ia menyebut deindustrialisasi dini telah berlangsung secara bertahap selama sekitar satu dekade terakhir.
"Sebenarnya kalau kita bedah, saat ini sedang terjadi triple crisis dalam struktur ekonomi Indonesia. Akar masalah utamanya adalah deindustrialisasi dini yang terjadi secara perlahan namun konsisten selama 10 tahun terakhir," kata Gatot, dikutip SURYA.co.id dari kanal YouTube Refly Harun.
Menurutnya, penurunan kapasitas industri nasional berdampak langsung terhadap berkurangnya lapangan pekerjaan formal.
Kondisi tersebut dinilai memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan mendorong sebagian pekerja beralih ke sektor informal.
Ia juga menilai daya saing industri dalam negeri melemah akibat tingginya biaya logistik, keterbatasan penguasaan teknologi, serta rendahnya efisiensi produksi.
Sebagai contoh, Gatot menyoroti kondisi ketika bahan baku yang berasal dari Indonesia diproses di luar negeri dan kemudian kembali masuk ke pasar domestik dalam bentuk produk jadi dengan harga yang lebih kompetitif dan kualitas yang lebih baik.
Selain itu, ia menyebut berbagai hambatan usaha, termasuk tingginya biaya distribusi dan praktik pungutan tertentu, turut memengaruhi perkembangan industri nasional.
Baca juga: Ngaku Didepak Jokowi karena Ogah Naikkan Pangkat Seorang Perwira, Ini Rekam Jejak Gatot Nurmantyo
Dampak ke Fiskal Negara dan Penerimaan Pajak
Menurut Gatot, melemahnya sektor industri tidak hanya berdampak pada dunia usaha, tetapi juga terhadap kemampuan negara menghimpun penerimaan.
Multiangle
Meaningful
Gatot Nurmantyo
eks Panglima TNI
Triple crisis
SURYA.co.id
surabaya.tribunnews.com
| Yamaha Classy Modifest 2026 di Surabaya, Padukan Otomotif dan Gaya Hidup |
|
|---|
| Tabiat Murtafia Bidan RSU Besuki Situbondo yang Meninggal Diduga Dibunuh Suami, Ini Kata Rekan Kerja |
|
|---|
| Sosok Husnul, Pedagang Sayur Keliling di Lumajang yang Ditabrak Elf dan Terseret hingga 100 Meter |
|
|---|
| Cuaca Surabaya Hari Ini Senin 8 Juni 2026: Cerah Seharian, Suhu Capai 33 Derajat Celsius |
|
|---|
| Lirik Sholawat Assholatu Alannabi Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Alasan-Eks-Panglima-TNI-Gatot-Nurmantyo-Peringatkan-Indonesia-Akan-Menghadapi-Triple-Crisis.jpg)