Perang Iran Israel
Alasan Iran Akhirnya Mau Buka Selat Hormuz, Netanyahu Terpaksa Turuti Trump untuk Gencatan Senjata?
Selat Hormuz dibuka, tapi ancaman Israel masih membayangi. Manuver Netanyahu berpotensi picu konflik baru dan lonjakan harga minyak global.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Putra Dewangga Candra Seta
Ringkasan Berita:
- Iran buka Selat Hormuz usai gencatan senjata
- Netanyahu tetap siaga, sinyal konflik belum usai
- Risiko serangan Israel picu “Black Swan” global
- AS dan China hadapi tekanan jaga stabilitas energi
SURYA.co.id – Dunia sempat bernapas lega ketika Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026).
Jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak global itu kembali beroperasi, menyusul gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa jalur tersebut kini terbuka bagi seluruh kapal komersial selama periode gencatan senjata.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata,” tulisnya, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.
Namun, di saat optimisme global menguat, sinyal berbeda justru muncul dari Tel Aviv.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menegaskan bahwa kesepakatan bukan berarti penghentian total operasi militer.
Pertanyaannya kini mengemuka: apakah pembukaan Selat Hormuz benar-benar menandai stabilitas baru, atau hanya ketenangan sebelum badai yang lebih besar?
Artikel ini membedah potensi “bom waktu” di balik kesepakatan damai, termasuk skenario ekstrem yang dapat kembali mengguncang harga energi dunia dalam hitungan jam.
Dilema Netanyahu di Tengah “The Great Deal”
Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump, menjadi bagian dari manuver geopolitik yang lebih luas, melibatkan stabilisasi kawasan dan kepentingan ekonomi global.
Namun bagi Netanyahu, situasi ini menciptakan dilema strategis.
Di satu sisi, dunia melihat pembukaan Selat Hormuz sebagai kemenangan diplomasi dan ekonomi.
Di sisi lain, Israel memandang langkah tersebut sebagai ancaman laten, karena Iran tetap memiliki kapasitas militernya, termasuk program nuklir yang selama ini menjadi perhatian utama Tel Aviv.
Paradoks pun muncul, stabilitas global justru bisa dipersepsikan sebagai kerentanan keamanan bagi Israel.
Sikap keras Netanyahu yang menolak menarik pasukan dari wilayah konflik memperkuat kesan bahwa Israel tidak sepenuhnya sejalan dengan arah diplomasi Washington.
Multiangle
Meaningful
berita viral
Selat Hormuz
Iran
Netanyahu
Donald Trump
perang Iran-Israel
SURYA.co.id
surabaya.tribunnews.com
| Trump Koar-koar Terkait Program Nuklir, Klaim Iran Sudah Menyerah Padahal Masih Baca Proposal |
|
|---|
| Sosok Bernie Sanders Senator AS yang Semprot Trump dan Netanyahu Imbas Perang Iran Berkepanjangan |
|
|---|
| Bedah Isi Kesepakatan Satu Halaman AS dan Iran yang Tentukan Nasib Dunia, Trump Sertakan Ancaman |
|
|---|
| Isi Proposal Pakistan yang Berhasil Bikin Trump Berubah Pikiran dan Batal Serang Selat Hormuz |
|
|---|
| Trump dan Netanyahu Kena Semprot Senator AS Imbas Perang Iran Berkepanjangan: Cukup Sudah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Alasan-Iran-Akhirnya-Mau-Buka-Selat-Hormuz-Netanyahu-Terpaksa-Turuti-Trump-untuk-Gencatan-Senjata.jpg)