Jumat, 5 Juni 2026

Akademisi di Surabaya Dukung Program Prioritas DEN Bangun Pembangkit Nuklir

PLTN termasuk sumber energi bersih karena tidak menghasilkan karbon dioksida dalam proses pembangkitannya

Tayang:
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Wiwit Purwanto
Surya.co.id/Fatimatuz Zahro
SWASEMBADA ENERGI- Akademisi dari sejumlah perguruan tinggi di Jatim menggelar diskusi bertema “Swasembada Energi di Era Prabowo: Antara Agenda Strategis dan Tantangan Implementasi” di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (1/2/2026). FATIMATUZ ZAHROH/SURYA 

Ringkasan Berita:
 
 

SURYA.co.id SURABAYA – Sejumlah akademisi di Surabaya, Jawa Timur mendukung program Presiden Prabowo Subianto yang disematkan kepada Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), Bahlil Lahadalia untuk mendorong penggunaan energi nuklir

Peneliti dari Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, mengungkapkan sejumlah keunggulan teknis pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dibanding sumber energi konvensional.

“PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil,” kata Ary dalam diskusi bertema “Swasembada Energi di Era Prabowo: Antara Agenda Strategis dan Tantangan Implementasi” di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (1/2/2026).

Energi Bersih

Menurut Ary, dari sisi emisi, PLTN termasuk sumber energi bersih karena tidak menghasilkan karbon dioksida dalam proses pembangkitannya. Hal ini membuat nuklir relevan dengan target penurunan emisi nasional. 

“Secara proses, nuklir itu bersih. Tidak ada emisi karbon, yang ada hanya panas untuk memutar turbin,” ujarnya.

Baca juga: PLN Gandeng ITS Tingkatkan Pemahaman soal Energi Nuklir

Ary menambahkan, tantangan utama pengembangan PLTN di Indonesia bukan pada teknologinya, melainkan pada penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, dan integrasi dengan kawasan industri. 

Oleh karena itu Ary menyayangkan jika sampai saat ini masih ada isu negatif di masyarakat soal energi nuklir yang dinilai berbahaya bagi lingkungan.

“Teknologi sekarang jauh lebih aman dibanding masa lalu. Sistemnya makin otomatis, kontrolnya ketat, dan ketergantungan pada faktor manusia semakin kecil,” tegasnya.

“Dengan teknologi terbaru, risiko itu bisa ditekan sangat rendah. Nuklir sering diserang lewat isu lingkungan, padahal kalau dibandingkan, pembangkit fosil justru jauh lebih mencemari,” imbuhnya.

Dari persepktif ekonomi makro, ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Hendry Cahyono menilai energi nuklir akan sangat membantu fiskal dan stabilitas ekonomi. 

Baca juga: Energi Nuklir Jadi Opsi Strategis Dalam Transisi Energi Nasional Menuju NZE 2060

Selama ini, ketergantungan impor energi menjadi salah satu beban besar terhadap APBN dan neraca perdagangan.

“Dalam prinsip ekonomi, jika input energi lebih murah, output juga bisa lebih murah. Jika listrik dari PLTN lebih efisien, masyarakat tentu akan memilih karena lebih terjangkau. Bagi masyarakat, indikator kesejahteraan paling sederhana adalah harga. Kalau listrik murah, itu terasa langsung,” ujar Hendry.

Dari perspektif kebijakan publik, dosen dan peneliti kebijakan publik Unesa, Ahmad Nizar Hilmi melihat penunjukan Menteri Bahlil di DEN sebagai sinyal bahwa pemerintah ingin menyatukan perencanaan dan eksekusi kebijakan energi dalam satu garis komando. 

Kemandirian Enegi

Hal ini bisa menjadi kunci efektivitas menuju kemandirian energi di Indonesia. 

“Kalau bicara teknis, mungkin bisa efektif (Menteri ESDM juga menjabat Ketua Harian DEN)," kata Nizar.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved