Berita Viral

Inikah Motif Dwi Hartono Tersangka Pembunuhan Bos Bank Plat Merah? Susno Duadji Bantah Gegara Kredit

Dwi Hartono, salah satu tersangka penculikan dan pembunuhan bos bank plat merah, Mohamad Ilham Pradipta. Inikah motifnya?

kolase instagram Dwi Hartono
MOTIF DWI HARTONO - Kolase foto Dwi Hartono, Tersangka Pembunuhan Bos Bank Plat Merah. Apa motifnya? 

SURYA.co.id - Motif Dwi Hartono (DH), salah satu aktor intelektual dalam penculikan dan pembunuhan bos bank plat merah, Mohamad Ilham Pradipta, masih menjadi misteri.

Namun, beredar kabar kalau penyebabnya adalah karena kredit fiktif.

Untuk diketahui Kredit Fiktif adalah tindak pidana perbankan yang melibatkan peminjaman uang dari lembaga kauangan dengan menggunakan data, dokumen, atau identitas palsu.

Pelaku tidak berniat mengembalikan kredit tersebut, sehingga menyebabkan kerugian signifikan bagi lembaga keuangan dan dapat dikategorikan sebagai penipuan atau korupsi.

"kredit fiktif si dugaannya," tulis salah seorang akun di TikTok. 

Dugaan itu muncul setelah tampang Dwi Haryono berseliweran di media sosial dan banyak sekali yang mengenalinya.

Baca juga: Ternyata Dwi Hartono Otak Pembunuhan Bos Bank Plat Merah Seorang Calon Magister, UGM Bersikap Tegas

Namun hingga kini pihak kepolisian belum mengungkapkan motif sebenarnya penculikan dan pembunuhan Ilham Pradipta. 

Terpisah Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi meminta publik bersabar untuk mengetahui motif perkara.

Menurutnya, proses penyelidikan dan penyidikan butuh waktu.

“Kami menerapkan prinsip kehati-hatian dan proporsional,” tegas dia. 

Analisis Susno Duajdi

Mantan Kabareskrim Polri periode 2008–2009, Susno Duadji, menilai kasus ini tidak bisa dipandang sebatas persoalan utang.

Menurutnya, ada hal yang jauh lebih besar di balik peristiwa penculikan sekaligus pembunuhan tersebut.

Susno menegaskan, dugaan motif terkait utang dengan bank tidak logis.

"Masalah motifnya apa. Karena kalau motif utang ke bank, tidak pernah, jarang sekali terjadi, utang di bank kepala banknya dibunuh.

Kenapa? utang di bank dengan membunuh kepala bank, utangnya tidak habis, tetap tercatat," ujar Susno dalam wawancara di Kompas TV, dikutip pada Minggu (24/8/2025).

Ia juga menepis kemungkinan adanya praktik penggelapan kredit fiktif yang melibatkan korban.

"Bagaimana mau gitu karena kan tidak bisa hilang, semuanya kan catatan elektronik, jadi tidak bisa dihilangkan. Kecuali kalau korban memainkan duit negara, tapi bukan caranya dengan menculik kayak gitu, itu tidak mungkin," jelasnya.

Baca juga: Sosok Istri Dwi Hartono, Diduga Kabur Usai Kasus Pembunuhan Ilham Pradipta Terungkap

Isu yang berkembang bahwa Ilham menjadi korban debt collector pun dianggap tidak masuk akal.

"Apakah yang punya utang adalah korban? Kalau yang punya utang orang lain kepada bank, kan tidak bisa menghapus utangnya dengan membunuh korban, itu kan bodoh sekali," tegas Susno.

Empat pelaku penculikan sudah ditangkap. Namun, Susno meyakini mereka bukan otak di balik pembunuhan Ilham.

"Para penculik ini saya yakin, kecil sekali kemungkinan, bukan mereka dalangnya. Pasti ada dalangnya. Motivasinya apa sih? ini yang harus diungkap, jangan dibelokkan ke utang piutang, kecil kalau utang piutang," katanya.

Ada pula spekulasi yang mengaitkan korban dengan jaringan khusus. Namun Susno menolak anggapan itu.

"Jaringan khusus jaringan apa? yang harus diselidiki ungkap dulu motivasinya apa. Kecuali kalau korban punya jaringan kejahatan, tapi tidak mungkin, kalau dia punya jaringan kejahatan, tidak mungkin dia dapat posisi bagus di bank pemerintah. Jelas ini ada motif tertentu, yang mengakibatkan orang itu sakit sehingga dia harus dihilangkan nyawanya," tegas Susno.

Daripada mempercayai isu seputar utang, Susno lebih cenderung menilai pembunuhan ini terkait faktor emosional.

"Ada orang yang diculik, dibunuh, penyebabnya karena dendam pribadi, persaingan, sakit hati, ada juga masalah utang piutang bukan pada negara," ungkapnya.

Dari analisis Susno Duadji, jelas bahwa motif keuangan bukanlah faktor utama.

Ia mendorong penyidik untuk lebih mendalami kemungkinan adanya dendam pribadi atau konflik tersembunyi yang membuat korban harus dihabisi.

Misteri siapa dalang pembunuhan Ilham masih menjadi pertanyaan besar yang menunggu jawaban.

Sosok Dwi Hartono

Inilah sosok Dwi Hartono (DH) yang diduga menjadi salah satu aktor intelektual dalam penculikan dan pembunuhan bos bank plat merah (BUMN), Mohamad Ilham Pradipta (37). 

Dwi ditangkap bersama dua orang lain berinisial YJ dan AA di Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu (23/8/2025) malam. 

Keesokan harinya, polisi kembali meringkus satu pelaku berinisial C di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. 

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, menyebut Dwi Hartono dikenal sebagai seorang pengusaha. 

“Saudara DH adalah seorang pengusaha, salah satu bidang usahanya adalah bimbel online,” kata Ade. 

Jejak digital Dwi Hartono memperlihatkan dirinya bukan sekadar pebisnis. 

Akun Instagram pribadinya, @klanhartono, memiliki lebih dari 37.000 pengikut dengan 718 unggahan. 

Kontennya beragam, mulai dari bisnis, olahraga, perjalanan, hingga kegiatan sosial. 

Highlight story di akun tersebut menunjukkan aktivitas luasnya, seperti keterlibatan dalam acara PBNU, peringatan 17 Agustus, hingga kunjungan ke Maluku dan Kalimantan Tengah. 

Tak hanya di Instagram, Dwi juga aktif di YouTube melalui kanal Klan Hartono dengan lebih dari 169.000 pelanggan. 

Di sana, ia kerap membagikan video motivasi bisnis untuk anak muda. 

Dwi Hartono membangun Hartono Foundation, sebuah yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan UMKM. 

Melalui yayasan ini, ia menyalurkan beasiswa penuh kepada pelajar berprestasi, termasuk mahasiswa yang berhasil meraih IPK sempurna 4,00 di Universitas Terbuka Pamulang. 

Yayasan tersebut juga aktif mengunggah dokumentasi kegiatan sosial, hasil studi akademik penerima beasiswa, hingga kolaborasi dengan tokoh masyarakat. 

Dengan moto “berbakti untuk negeri”, Dwi kerap dipersepsikan sebagai sosok dermawan yang peduli pendidikan dan kemandirian ekonomi rakyat. 

Selain yayasan, Dwi juga mendirikan Guruku.com, aplikasi pendidikan digital di bawah PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia (PT DAI). 

Platform ini menyasar pelajar di daerah tier 2 hingga tier 4 dengan kuota internet minim dan harga terjangkau. 

Layanan Guruku tak hanya berisi materi pembelajaran, tapi juga pelatihan bisnis, pengembangan UMKM, hingga peningkatan soft skill. 

Dengan slogannya “kolaborasi dengan semua pihak”, aplikasi ini ingin memperluas akses pendidikan digital di Indonesia. 

Selain Guruku, Dwi tercatat memiliki PT Hartono Mandiri Makmur, marketplace yang beralamat di kawasan Kota Wisata Cibubur, Kabupaten Bogor.

Dwi Hartono ternyata pernah berambisi maju dalam kontestasi politik sebagai calon bupati Tebo, Jambi.

"Ya, dulu dia mau maju bupati, tapi dia diminta jadi nomor dua (wakil bupati), jadi batal, karena dari awal dia mau nomor satu (bupati)," kata Jay Saragih, warga sekaligus aktivis Tebo, dilansir dari Kompas.com, Selasa (26/8/2025).

Jay menjelaskan, dorongan Dwi untuk mencalonkan diri kala itu juga datang dari masyarakat yang mengenalnya sebagai pribadi dermawan.

Ia disebut sering menolong warga, mengundang penyanyi dangdut dari Jakarta, hingga memberikan fasilitas desa berupa satu unit mobil ambulans.

"Jadi, warga pun memang sebenarnya dulu itu berharap dia maju jadi bupati, bukan wakil, kan dia dikenal sebagai dermawan di sini. Jadi dia mundur," tambah Jay.

Jay mengaku terkejut ketika mendengar Dwi dikaitkan dengan kasus penculikan dan pembunuhan tersebut.

Menurutnya, Dwi dikenal sebagai pengusaha sukses di Desa Tirta Kencana Unit 6, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo.

Selain memiliki bisnis besar, Dwi juga kerap menjadi penyokong dana reuni SMA dan bahkan menghadirkan artis dangdut nasional untuk memeriahkan acara itu.

"Kalau ada alumni (reuni), dia jadi panitia, dialah yang mendatangkan artis-artis itu," ujar Jay.

Dwi juga dikenal sebagai sosok motivator dengan latar belakang keluarga yang sudah lama terjun di dunia usaha di Tebo.

Salah satu grosir terbesar di Pasar Rimbo Bujang juga diketahui milik keluarganya.

"Yang merantau cuman dia, orang tua, adik-adiknya di sini (Tebo) semualah, buka toko-toko besar," tutur Jay.

Dwi Hartono sempat mengungkapkan keinginannya membeli helikopter dan membangun helipad di kampung halamannya pada 2021 silam.

Hal itu dilakukan untuk memudahkan dia pulang pergi mengunjungi orangtuanya di Jambi. 

Helipad itu akan dibangun di lahan seluas sekitar 4 hektare yang berada di Jalan Sapat, Desa Mekar Kencana, Kecamatan Rimbo Bujang, tepat di depan rumah orang tuanya.

Lahan tersebut saat ini merupakan kebun karet produktif milik warga.

Namun, rencana itu kandas setelah pemilik lahan enggan menjual kebunnya. 

Kepala Dusun Jati Makmur, Rahmat Widodo, membenarkan kabar pembatalan pembangunan helipad tersebut.

“Kabar terakhir tidak jadi pembangunan helipad, terkendala izin lokasi pembangunan,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).

Menurutnya, pada awalnya Dwi Hartono sudah melakukan negosiasi dengan pemilik lahan, bahkan sempat ada wacana pembangunan alun-alun di lokasi yang sama. 

Tetapi rencana itu akhirnya dibatalkan karena pemilik lahan tetap tidak memberikan izin.

“Yang punya lahan tidak mengizinkan dengan alasan tertentu,” jelasnya.

Kini, lahan kebun karet tersebut tetap difungsikan oleh pemilik sebagai sumber penghidupan sehari-hari.

>>>Update berita terkini di Googlenews Surya.co.id

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved