Senin, 13 April 2026

Perang Iran Israel

Donald Trump Ultimatum Iran: 48 Jam Sebelum “Neraka” Hormuz

Trump beri ultimatum 48 jam agar Iran buka Hormuz. Iran balas ancaman, harga minyak tembus US$120, BBM global melonjak.

Editor: Adrianus Adhi
kolase istimewa/Youtube/ABC News
BEDA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim mendapat hadiah dari Iran soal pembukaan Selat Hormuz. Pemerintah Iran membantah. 

Ringkasan Berita:
  • Trump beri ultimatum 48 jam agar Iran buka Selat Hormuz, ancam konsekuensi besar.
  • Iran balas ancaman, peringatkan invasi darat AS akan berakhir dengan kehancuran.
  • Harga minyak tembus US$120 per barel, BBM global melonjak, ekonomi Asia dan AS terpukul.

SURYA.co.id - Donald Trump mengultimatum Iran membuka Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi konsekuensi besar. Iran menolak ancaman tersebut dan memperingatkan invasi darat AS akan berakhir dengan kehancuran, memicu lonjakan harga energi global.

Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (4/4/2026) memberikan waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz. “Waktu hampir habis—48 jam sebelum semua Neraka akan menimpa mereka,” tulis Trump di Truth Social

Ancaman ini bukan yang pertama. Pada 21 Maret, Trump memperingatkan akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika blokade tidak dicabut. Namun, dua hari kemudian ia sempat melunak dengan menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan positif.

Trump bahkan menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik selama lima hari. Penundaan itu diperpanjang hingga batas waktu terbaru pada Senin (23/3/2026).

Para ahli mengingatkan serangan terhadap infrastruktur energi sipil bisa dikategorikan kejahatan perang. Selat Hormuz adalah jalur vital distribusi minyak dunia.

Setiap ketegangan di kawasan ini berdampak luas pada ekonomi global. Laporan intelijen AS memperingatkan Iran kemungkinan besar tidak akan membuka blokade.

Tiga sumber menyebut Teheran menilai kendali atas jalur energi sebagai alat penekan utama terhadap AS. 

Baca juga: Iran Siapkan Tarif Fantastis untuk Lintasi Selat Hormuz, Biaya Bisa Capai Rp 33 Miliar per Kapal

Sejak perang dimulai 28 Februari, Iran menyerang kapal sipil, menyebar ranjau, dan menuntut biaya lintas. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun.

Kelangkaan bahan bakar melanda negara-negara yang bergantung pada minyak Teluk.

Peringatan Iran terhadap Invasi Darat

Sementara, Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Enrahim Zolfaqari, memperingatkan konsekuensi menghancurkan jika AS melakukan invasi darat.

Ia menegaskan pasukan Amerika bisa menjadi “makanan hiu” di Teluk Persia. Zolfaqari menyebut invasi akan menimbulkan konsekuensi berat dan memalukan bagi pasukan AS.

Ia menilai rencana Trump tidak realistis dan dipengaruhi tekanan eksternal. Trump dianggap mengambil sikap tidak konsisten dan tidak dapat diandalkan.

Zolfaqari menyoroti keputusan militer AS yang menempatkan pasukan dalam “lubang mematikan.” Pasukan AS di kawasan disebut menghadapi ancaman serius setiap hari.

Sejumlah pangkalan telah hancur, tentara AS terpaksa berlindung di pusat sipil dan ekonomi regional. Namun, mereka tetap rentan terhadap serangan.

Baca juga: Ejekan Iran Usai Tembak Jatuh 2 Jet Tempur AS, Ketua Parlemen: Amerika Perang Tanpa Strategi Brilian

Iran menegaskan telah lama bersiap menghadapi skenario invasi darat. Setiap tindakan agresi akan berujung pada penangkapan dan fragmentasi pasukan penyerbu.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved