Jumat, 10 April 2026

Ramadan 2026

Kultum Ramadan: Meneladani Rasulullah SAW dalam Bersikap Moderat

pentingnya moderasi beragama sebagai jalan tengah untuk menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus merawat persatuan bangsa.

Editor: Pipit Maulidya
Surya.co.id
Ustad Mochammad Ghufron M. Pd Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PCNU Surabaya 

Kultum oleh Ustad Mochammad Ghufron M. Pd Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PCNU Surabaya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara-saudara dimanapun Anda berada.

Pertama, marilah kita bersama-sama memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat dan kesempatan sehingga kita dapat bertemu dalam channel ini dalam keadaan sehat wal afiat.

Kedua, sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan dari kegelapan menuju cahaya terang, sehingga kita dapat membedakan antara perkara yang hak dan perkara yang batil.

Anugerah dari Allah

Saudara yang dirahmati Allah,

Indonesia adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita hidup di bawah atap yang sama dengan beribu-ribu suku, ratusan bahasa, serta beragam agama dan kepercayaan. Di dalam Islam sendiri terdapat beberapa mazhab serta aliran pemikiran.

Perlu kita pahami bahwa keragaman ini akan menjadi indah apabila diatur dengan baik. Namun, apabila dibiarkan tanpa pengelolaan yang bijak, keragaman justru dapat menjadi pemantik api perpecahan di antara anak bangsa.

Oleh karena itu, Saudara sekalian yang dirahmati Allah, kita perlu memahami serta mengamalkan moderasi beragama. Moderasi beragama bukanlah bentuk pengkerdilan ajaran agama. Moderasi juga bukan pengaburan, apalagi penyelewengan terhadap ajaran agama.

Moderasi beragama adalah sikap berdiri lurus dan seimbang — tidak condong ke kanan sehingga berlebih-lebihan dalam menjalankan agama, dan tidak pula condong ke kiri sehingga meremehkan ajaran agama.

Sikap berlebih-lebihan dalam menjalankan agama dapat dikategorikan sebagai sikap ekstrem. Orang yang ekstrem dalam menjalankan agama cenderung kaku dalam memahami ajaran. Mereka memaksakan pemahamannya sendiri dan mudah menyalahkan aliran atau pemikiran yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Sikap seperti ini dapat melahirkan radikalisme, bahkan sampai pada upaya menyingkirkan orang yang tidak sepaham, meskipun harus dengan kekerasan.

Saudara yang dirahmati Allah,

Sikap ekstrem sejatinya sudah ada sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW. Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, ada tiga orang yang datang ke rumah Rasulullah SAW untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah mendengar penjelasan dari istri-istri Rasulullah, mereka merasa bahwa ibadah Rasulullah masih sedikit dibandingkan dengan apa yang ingin mereka lakukan.

Salah satu dari mereka berkata bahwa ia akan berpuasa setiap hari tanpa henti. Yang lain berkata bahwa ia akan salat malam tanpa tidur. Sedangkan yang satu lagi mengatakan bahwa ia tidak akan menikah demi menahan hawa nafsunya.

Sikap seperti ini justru ditegur oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda:

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved