Senin, 25 Mei 2026

Indonesia Peringkat 4 Dunia Kanker Usus Besar, Dokter Soroti Deteksi Dini

Indonesia masuk 4 besar dunia kasus kanker usus besar. Dokter tekankan pentingnya skrining dan deteksi dini.

Tayang:
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Cak Sur
istimewa/Dokumen Prodia
KESEHATAN USUS - Seminar Nasional Dokter ke-20 yang digelar oleh Prodia di Excotel Hotel Surabaya pada Minggu (24/5/2026). Bertajuk “Integrating Innovative Gut Health Testing Into Daily Practice”, agenda ini melibatkan sebanyak 116 dokter membahas tentang gangguan saluran pencernaan yang masih menjadi salah satu keluhan kesehatan. 

Ringkasan Berita:
  • Ahli Gastroenterohepatology menyebut Indonesia termasuk negara dengan kasus kanker kolorektal tertinggi dunia, terutama pada laki-laki.
  • Banyak kasus kanker usus besar baru ditemukan saat stadium akhir akibat rendahnya edukasi dan minimnya pemeriksaan dini, khususnya pada kelompok berisiko tinggi.
  • Perkembangan teknologi kesehatan kini memungkinkan dokter mendeteksi potensi gangguan saluran cerna lebih awal agar penanganan dan pencegahan bisa dilakukan lebih cepat.

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gangguan saluran cerna masih menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling sering ditemui di layanan medis. Mulai dari inflamasi, infeksi, hingga gangguan metabolik yang berkaitan dengan kesehatan usus kini semakin banyak ditemukan di masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, tingginya kasus kanker kolorektal atau kanker usus besar di Indonesia menjadi perhatian serius kalangan medis.

Ahli Gastroenterohepatology Prof dr Muhammad Miftahhussurur M.Kes., Sp.PD-KGEH., PhD., FINASIM mengungkapkan, Indonesia termasuk negara dengan angka kasus kanker kolorektal tertinggi di dunia.

“Indonesia itu peringkat nomor empat tertinggi dunia untuk kanker kolorektal (kanker usus besar). Kalau pada laki-laki bahkan nomor dua, empat untuk perempuan secara umum,” ujar Prof Miftah dalam Seminar Nasional Dokter ke-20 yang digelar Prodia di Excotel Surabaya pada Minggu (24/5/2026).

Baca juga: Dokter Spesialis Ungkap Obesitas Bisa Dipicu Gangguan Usus, Ini Penyebabnya

Banyak Kasus Kanker Usus Besar Terdeteksi Stadium Akhir

Menurut Prof Miftah, peningkatan kasus kanker usus besar menjadi tantangan besar di tengah perubahan pola hidup masyarakat dan meningkatnya gangguan metabolik.

Ia menilai, pemeriksaan skrining kanker kolorektal sangat penting untuk membantu deteksi dini sekaligus meningkatkan peluang penanganan yang lebih baik.

Prof Miftah mengatakan, masih banyak kasus kanker usus besar yang baru diketahui saat kondisinya sudah berat atau memasuki stadium akhir.

“Bahwa penyakit usus besar terutama radang usus besar atau kanker usus besar selalu ketemu dalam stadium akhir, itu adalah sebuah fenomena gunung es. Kenapa? Salah satunya bisa memang perlu tambahan edukasi dan perlu pemeriksaan yang bisa melalukan prevensi awal,” sebutnya.

Ia menilai rendahnya edukasi masyarakat terkait kesehatan saluran cerna menjadi salah satu penyebab keterlambatan diagnosis.

Teknologi Pemeriksaan Kesehatan Semakin Berkembang

Menurutnya, perkembangan teknologi pemeriksaan kesehatan saat ini sudah mampu membantu dokter mendeteksi potensi gangguan kesehatan lebih awal sebelum berkembang menjadi penyakit serius.

Beberapa manfaat pemeriksaan kesehatan modern antara lain:

  • Membantu deteksi dini gangguan saluran cerna
  • Mengidentifikasi faktor risiko kanker usus besar
  • Membantu dokter menentukan terapi preventif
  • Memberikan edukasi pola hidup sehat kepada pasien

“Tentunya pemeriksaan saluran cerna tidak hanya berkutat pada nyeri perut. Tetapi pemeriksaan lebih detail untuk bisa menjawab pertanyaan yang selama ini dianggap itu dilaksanakan di luar negeri. Di sini Prodia cukup mampu menyiapkan di sini,” ujar Prof Miftah.

Ia menegaskan, pemeriksaan kesehatan tidak perlu menunggu hingga pasien mengalami kanker usus besar atau kondisi berat lainnya.

“Kita tidak perlu menunggu sampai jadi kanker usus besar dulu. Pemeriksaan dan treatment bisa dilakukan dari awal,” jelasnya.

Warga dengan Riwayat Keluarga Diminta Lebih Waspada

Prof Miftah juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko genetik kuat.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved