Sabtu, 13 Juni 2026

BPBD Ungkap Penyebab Fenomena Bediding di Kediri: Imbau Waspada ISPA

BPBD Kota Kediri mengimbau warga waspada dampak fenomena bediding atau suhu dingin ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga September.

Tayang:
Penulis: Luthfi Husnika | Editor: Cak Sur
istimewa/AI Generated Image
FENOMENA BEDIDING KEDIRI - Gambar ilustrasi hasil olah kecerdasan buatan (AI), fenomena udara dingin atau bediding mulai dirasakan masyarakat Kota Kediri, Jawa Timur, dalam beberapa pekan terakhir, terutama pada malam hingga pagi hari. BPBD Kota Kediri mengimbau warga mengantisipasi risiko gangguan pernapasan (ISPA), kulit kering, serta potensi kebakaran lahan akibat cuaca kering. 

Ringkasan Berita:
  • Fenomena bediding atau penurunan suhu udara secara signifikan saat malam hingga pagi hari melanda wilayah Kediri Raya sejak masuk musim kemarau.
  • Penyebab utama cuaca dingin ini adalah aliran angin monsun timuran yang membawa massa udara kering dan dingin dari daratan Australia menuju Indonesia.
  • BPBD Kota Kediri mengimbau warga mengantisipasi risiko gangguan pernapasan (ISPA), kulit kering, serta potensi kebakaran lahan akibat cuaca kering.

SURYA.CO.ID, KOTA KEDIRI - Masyarakat Kota Kediri di Jawa Timur (Jatim)  diimbau meningkatkan kewaspadaan seiring terjadinya fenomena udara dingin atau "bediding" yang melanda wilayah Kediri Raya.

Kondisi suhu udara yang terasa jauh lebih rendah dari biasanya ini, diperkirakan akan berlangsung sepanjang musim kemarau.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, Joko Arianto, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan kondisi alamiah yang lazim terjadi saat wilayah Jawa Timur memasuki musim kemarau sejak bulan Mei.

"Fenomena ini merupakan hal yang wajar karena wilayah Jawa Timur telah memasuki musim kemarau sejak bulan Mei. Penyebab utamanya adalah aliran angin timuran yang membawa massa udara dingin dan kering dari Australia menuju Indonesia," jelas Joko pada Sabtu (13/6/2026).

Mengapa Suhu Udara Menjadi Sangat Dingin?

Menurut penjelasan BPBD, massa udara yang berembus dari daratan Australia memiliki karakteristik dingin dan kering.

Hal tersebut, berdampak langsung pada minimnya pembentukan awan di atmosfer wilayah Indonesia, khususnya Jawa Timur.

Tingkat tutupan awan yang sangat minim, menyebabkan radiasi panas matahari yang diserap permukaan bumi pada siang hari akan terlepas kembali ke atmosfer dengan sangat cepat pada malam hari tanpa ada penghalang.

Proses pelepasan panas yang cepat inilah yang memicu suhu udara menjadi sangat dingin menjelang dini hari hingga pagi hari.

Berdasarkan hasil koordinasi BPBD dengan BMKG Dhoho Kediri, fenomena bediding ini diprediksi akan berlangsung sepanjang musim kemarau, yakni mulai dari bulan Mei hingga puncaknya pada September mendatang.

Selain penurunan suhu, masyarakat juga akan merasakan penurunan kelembapan udara serta hembusan angin yang lebih kencang.

Dampak Kesehatan dan Risiko Kebakaran Lahan

Penurunan suhu dan kelembapan udara yang drastis ini membawa sejumlah dampak yang harus diantisipasi oleh masyarakat. Joko Arianto menjabarkan beberapa risiko utama yang mengintai selama masa pancaroba ini:

  • Gangguan Kesehatan: Kulit menjadi lebih mudah kering dan sensitif.
  • Infeksi Saluran Pernapasan: Peningkatan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat udara kering dan berdebu.
  • Potensi Kebakaran: Meningkatnya risiko kebakaran lahan terbuka maupun pemukiman akibat kelalaian manusia di tengah cuaca kering.

Untuk mengantisipasi dampak buruk tersebut, BPBD menyarankan masyarakat agar selalu mengenakan pakaian hangat atau jaket tebal saat beraktivitas di luar ruangan pada malam dan pagi hari.

Warga juga diimbau meningkatkan konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi serta selalu menggunakan masker saat berkendara.

Sinergi Mitigasi Sektor Pertanian dan Pasokan Air

Hadapi dampak lanjutan dari musim kemarau, BPBD Kota Kediri tidak tinggal diam. Koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) guna merumuskan langkah taktis di sektor pertanian.

DKPP telah menyiapkan strategi penyesuaian pola tanam serta penjadwalan masa panen yang tepat, agar produktivitas lahan pertanian milik warga tidak terganggu akibat berkurangnya pasokan air.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved