Minggu, 7 Juni 2026

Dolar AS Sentuh Rp 18.000, Pengusaha Baja Lamongan Sebut Dampaknya Sistemik

Rupiah melemah hingga Rp18.000 per dolar AS memicu lonjakan harga besi dan baja serta menekan industri nasional.

Tayang:
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Wiwit Purwanto
Surya.co.id/Hanif Manshuri
PENJUAL BESI BANGUNAN - Duta Merpati, perusahaan penjual besi bangunan di Lamongan ini merasakan dampak nilai tukar rupiah terhadap dolar, Kamis (4/6/2026) 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah hingga Rp18.000 per dolar AS dan memukul industri besi-baja nasional.
  • Harga koil naik tajam dari Rp15.500 menjadi hingga Rp20.000 per kg.
  • Ketergantungan impor membuat industri rentan terhadap fluktuasi dolar AS.
 
 

 
 
SURYA.CO.ID LAMONGAN – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6/2026) mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor industri nasional, khususnya industri besi dan baja yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Kondisi tersebut memicu lonjakan harga berbagai komoditas besi di pasaran serta meningkatkan beban biaya produksi bagi pelaku usaha yang bergerak di sektor terkait.

Tekanan Industri Akibat Ketergantungan Impor

Direktur Duta Merpati, perusahaan pemasok besi bangunan asal Lamongan, Pradita Aditya, mengatakan pelemahan rupiah memberikan dampak sistemik terhadap industri baja nasional.

Menurutnya, ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat sektor ini sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dolar AS.

"Kenaikan dolar ini memang berdampak sistemik. Kebutuhan baja nasional kita ini angka impornya cukup lumayan besar karena produksi dalam negeri belum mampu menampung seluruh kebutuhan domestik," ujar Pradita, Kamis (4/6/2026).

Baca juga: Dosen Unair Ungkap 3 Risiko Perbankan Saat Rupiah Melemah terhadap Dolar AS

Ia menjelaskan, kebijakan impor yang masih dibuka oleh pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun, kondisi tersebut juga membuat industri dalam negeri bergantung pada harga global.

Sebagian besar bahan baku baja, lanjutnya, berasal dari Tiongkok dengan transaksi yang tetap menggunakan dolar AS sebagai acuan utama.

"Impor rata-rata 90 persen berasal dari China, dan di sana masih menggunakan dolar sebagai benchmark atau patokan transaksi. Begitu dolar tembus Rp 18.000 hari ini, harga besi otomatis langsung melonjak," jelasnya.

Harga Koil Melonjak, Efek Berantai Mengancam

Dampak pelemahan rupiah langsung terlihat pada lonjakan harga produk turunan baja, terutama koil. Kenaikan harga terjadi dalam waktu singkat dan cukup signifikan.

Baca juga: Dolar Tembus Rp17.646, Kadin Jatim Ingatkan Ancaman PHK

Sebelumnya, harga koil berada di kisaran Rp14.500 hingga Rp15.500 per kilogram. Namun kini melonjak menjadi Rp18.000 hingga Rp19.000 per kilogram, bahkan beberapa jenis dilaporkan menembus lebih dari Rp20.000 per kilogram.

Kenaikan ini berpotensi menimbulkan efek berantai ke berbagai sektor lain seperti konstruksi, manufaktur, hingga industri pendukung yang menggunakan material besi dan baja.

Meski tekanan biaya semakin tinggi, pelaku usaha berharap permintaan pasar tetap stabil agar roda ekonomi tidak ikut melambat.

"Namun ia berharap keinginan market tetap tidak berubah, permintaan tetap bagus, dan pastinya perekonomian kita bisa tetap berjalan dengan baik," pungkasnya.
 

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved