Senin, 1 Juni 2026

Dosen Unair Ungkap 3 Risiko Perbankan Saat Rupiah Melemah terhadap Dolar AS

Dosen Unair mengungkap 3 risiko utama yang dihadapi perbankan saat rupiah melemah terhadap dolar AS, mulai likuiditas hingga kredit.

Tayang:
Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Cak Sur
istimewa
DAMPAK PELEMAHAN RUPIAH - Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Andi Estetiono SE MM, menjelaskan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap industri perbankan nasional. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko likuiditas, risiko pasar dan risiko kredit sehingga perlu diantisipasi melalui penguatan manajemen risiko serta kebijakan yang tepat. 

Ringkasan Berita:
  • Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Andi Estetiono, menyebut pelemahan rupiah terhadap dolar AS memicu 3 risiko utama bagi perbankan.
  • Nasabah dengan pinjaman dolar AS tetapi berpenghasilan rupiah berpotensi menghadapi beban cicilan lebih berat, sehingga dapat meningkatkan kredit bermasalah (NPL).
  • Masyarakat diminta tetap tenang, mengelola keuangan secara bijak, dan melakukan diversifikasi investasi untuk menghadapi gejolak nilai tukar.

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi perhatian berbagai kalangan. Selain berdampak pada harga barang dan inflasi, pelemahan rupiah juga membawa konsekuensi bagi industri perbankan nasional yang perlu diantisipasi secara serius.

Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Andi Estetiono SE MM, mengungkapkan terdapat 3 risiko utama yang dihadapi sektor perbankan ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS:

  • Risiko likuiditas valuta asing (valas).
  • Risiko pasar akibat perubahan nilai tukar.
  • Risiko kredit dari debitur berutang dolar AS.

Menurut Andi, ketiga risiko tersebut dapat memengaruhi stabilitas industri perbankan apabila tidak dimitigasi dengan baik.

Risiko Likuiditas Valas Jadi Sorotan

Andi menjelaskan, pelemahan rupiah dapat memengaruhi perilaku masyarakat dalam mengelola aset dan simpanan mereka.

Dalam kondisi nilai tukar yang bergejolak, sebagian nasabah cenderung mengalihkan dana dari rupiah ke dolar AS untuk menjaga nilai asetnya.

Sebaliknya, ada pula yang mencairkan simpanan dolar guna memperoleh keuntungan dari selisih kurs, atau mengalihkannya ke instrumen investasi lain seperti emas.

“Ini tergantung persepsi dan respons masyarakat terhadap kondisi saat ini. Yang jelas LDR Valas dan Rasio Likuiditas Valas Perbankan perlu dipantau ketat,” ujar Andi, Senin (1/6/2026).

Perubahan perilaku tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan likuiditas valuta asing di sektor perbankan.

Risiko Pasar dan Kerugian Selisih Kurs

Risiko kedua berasal dari sisi pasar, terutama bagi bank yang memiliki posisi valuta asing terbuka.

Apabila terjadi ketidakseimbangan posisi valas atau net short position, bank berpotensi mencatat kerugian akibat selisih kurs yang langsung memengaruhi laporan keuangan.

Menurut Andi, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap profitabilitas perbankan jika pergerakan kurs berlangsung dalam jangka panjang, dan tidak diantisipasi dengan strategi manajemen risiko yang tepat.

Kredit Bermasalah Berpotensi Meningkat

Risiko ketiga berkaitan dengan sektor pembiayaan atau kredit.

Andi menyoroti nasabah yang memiliki pinjaman dalam dolar AS, tetapi menjalankan usaha dan memperoleh pendapatan dalam rupiah. Ketika kurs dolar naik, beban cicilan dan bunga yang harus dibayarkan otomatis ikut meningkat.

“Artinya dia mendapatkan penghasilan rupiah, tapi harus mengangsur atau membayar dalam dolar AS. Sehingga ketiga risiko tersebut perlu dimitigasi oleh industri perbankan,” katanya.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan angka kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) di sektor perbankan.

Bank Diprediksi Sesuaikan Bunga Simpanan

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved