Rabu, 3 Juni 2026

Kilang LPG Arsynergy Gresik Jadi Penyangga Energi Nasional di Tengah Tingginya Impor

Kilang LPG Gresik perkuat ketahanan energi nasional di tengah tingginya impor LPG yang masih dominan di Indonesia.

Tayang:
istimewa
KETAHANAN ENERGI NASIONAL — Kilang LPG milik PT Arsynergy Resources di Gresik berkomitmen mendukung ketahanan energi nasional. Keberadaan fasilitas pengolahan gas bumi tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. ( Dokumentasi PT Arsynergy Resources) 

Ringkasan Berita:
  • Impor LPG Indonesia masih sangat tinggi, mencapai 80,58 persen pada 2025 dan naik menjadi sekitar 83,97 % pada 2026.
  • Kilang LPG PT Arsynergy Resources di Gresik berperan memperkuat ketahanan energi nasional dengan produksi domestik hingga 50 MMSCFD.
  • Fasilitas ini ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional dan menggunakan teknologi Turbo Expander untuk meningkatkan efisiensi serta menekan emisi.

 

SURYA.CO.ID GRESIK - Di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG, Kilang LPG PT Arsynergy Resources di Gresik hadir sebagai salah satu penopang ketahanan energi nasional.

Fasilitas ini berperan penting dalam menjaga ketersediaan pasokan LPG domestik untuk kebutuhan rumah tangga hingga industri.

Kilang Gresik Jadi Penopang Pasokan LPG Nasional

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan porsi impor LPG Indonesia masih sangat tinggi, mencapai 80,58 persen pada 2025. Bahkan hingga Februari 2026, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 83,97 persen dari total kebutuhan nasional.

Kondisi tersebut menjadikan keberadaan fasilitas pengolahan LPG dalam negeri semakin strategis. Selain menjaga stabilitas pasokan, kilang domestik juga menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika pasar global.

Baca juga: Apa Itu Gas CNG? Pemerintah Siapkan untuk Alternatif Tabung LPG 3 Kg

PT Arsynergy Resources sebagai perusahaan pengolahan gas bumi menjadi LPG, kondensat, dan lean gas, turut mengambil peran dalam menjaga rantai pasok energi nasional. Produk yang dihasilkan digunakan untuk berbagai sektor, mulai dari rumah tangga, UMKM, restoran, hingga industri.

"Kehadiran kami adalah bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional dan mengurangi impor LPG dalam pemenuhan kebutuhan dalam negeri," kata Managing Director PT Arsynergy Resources, Achmad Harijanto, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, kebutuhan LPG nasional terus meningkat. Pada 2025, konsumsi LPG Indonesia mencapai sekitar 25 ribu metrik ton per hari atau setara 9,1 juta ton per tahun, dengan sekitar 7,3 juta ton masih dipenuhi melalui impor.

Amerika Serikat menjadi pemasok utama LPG Indonesia dengan kontribusi sekitar 70 persen, disusul Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Australia, dan Malaysia.

Baca juga: Pertamina Tambah Produksi LPG di Jatim dengan Ubah Konfigurasi Kilang TPPI Tuban

Strategi Ketahanan Energi dan Teknologi Kilang

Untuk menjaga keberlanjutan pasokan, PT Arsynergy Resources terus mengoptimalkan operasional kilang serta jaringan distribusi. Perusahaan menegaskan bahwa ketahanan energi tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada distribusi yang aman dan berkelanjutan hingga ke pengguna akhir.

Sebagai fasilitas strategis, Kilang LPG Arsynergy di Gresik telah ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 2004 serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 385.K/BN.05/MEM.S/2025.

Dengan kapasitas hingga 50 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day), kilang yang berlokasi di Kawasan Industri Maspion V, Manyar, Gresik ini menjadi salah satu infrastruktur penting dalam penyediaan energi nasional.

Fasilitas tersebut juga menggunakan teknologi Turbo Expander dalam proses ekstraksi LPG dari gas bumi. Teknologi ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan emisi serta gas suar (flare gas).

"Kami menggunakan teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus membantu menekan emisi dan gas suar (flare gas)," ujarnya.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian ESDM juga membuka peluang bagi lembaga teknis seperti Lemigas untuk melakukan impor minyak mentah hingga LPG sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah tekanan kebutuhan domestik yang tinggi.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyebut regulasi tersebut memberi ruang bagi Badan Layanan Umum (BLU) sektor energi untuk ikut serta dalam impor komoditas energi.

"Dari regulasi ini, Lemigas bisa melakukan impor,” kata Yuliot, di Jakarta.

 

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved